Praja Muda Karana (Pramuka) erat kaitannya dengan kegiatan kemanusiaan. Berpramuka otomatis bersinggungan dengan kerja kemanusiaan. Pramuka dalam sejarahnya selalu berperan dalam bencana kemanusiaan, baik di kota maupun pelosok desa. Pramuka selalu ada di sana dengan segala kerja kemanusiaannya.

Sebutan tersebut hanya berada di Indonesia. Di negara seluruh dunia memiliki sebutan berbeda-beda disesuaikan dengan negaranya. Perbedaan nama tidak menjadikan sebuah permasalahan, karena semuanya memiliki motto yang sama di seluruh dunia yaitu “Be Prepared” (Baden Powell, 1908).

Motto tersebut sebagai landasan anggota Pramuka di seluruh dunia. Be Prepared dengan makna selalu siap sedia. Hal tersebut dijabarkan sebagai anggota Pramuka selalu siap sedia dalam kondisi apa pun, bagaimana pun dan kapan pun serta di mana pun berada untuk selalu berperilaku positif.

Semua itu dibuktikan dengan kejadian yang terjadi di Indonesia. Bencana alam yang mengguncang sebagian wilayah di Indonesia yaitu gempa bumi, tsunami dan lainnya. Sebagian anggota Pramuka terjun ke lapangan sebagai bukti nyata pengamalan kode kehormatan Gerakan Pramuka. Kode kehormatan tersebut adalah Trisatya dan Dasadarma (AD & ART Gerakan Pramuka, 2013: 31).

Bukan hanya pada kejadian tersebut, namun dari kurun waktu tahun 2018, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana jumlah bencana di Indonesia mencapai 1227 kejadian. Pramuka menjadi salah satu organisasi berkontribusi menjadi relawan. Kontribusi terhadap bencana semua itu berdasarkan kode kehormatan Pramuka yang sudah tertanam dalam hatinya.

Beberapa waktu terakhir di Lombok, Palu, Donggala serta Sigi terdampak gempa bumi. Bencana tersebut menjadikan anggota gerakan Pramuka tergerak hatinya untuk ikut berkontrisbusi menjadi relawan di tempat kejadian bencana. Bagi anggota Pramuka yang tidak di tempat kejadian bencana, mereka membantu dengan aksi penggalangan dana di tempat umum. Selain penggalangan dana,  Pramuka memberi donasi pakaian.

Motto dan kode kehormatan menjadi sihir terhadap anggota Pramuka untuk selalu berbuat kebaikan terhadap sesama hidup. Kesaktian isi dari dua hal tersebut menjadikan tertanamnya rasa peduli sosial.

Trisatya 

Bapak Pandu Dunia mengatakan “Atas kehormatanku, aku berjanji bahwa aku akan melakukan yang terbaik. Untuk melakukan tugasku kepada Tuhan dan Raja atau kepada Tuhan dan negaraku. Untuk membantu orang lain setiap saat. Untuk mematuhi hukum Pramuka” (Baden Powell, 1908). Petuah di atas, di Indonesia lebih dikenal dengan Trisatya atau tiga janji Pramuka, penekanan pada scout promise untuk selalu menolong setiap saat terhadap manusia.

Penekanan nilai tolong menolong dimulai sejak dini bermula dari golongan Siaga (7-10 tahun) dibuktikan dengan Dwisatya yang sebagian bunyinya “setiap hari berbuat kebaikan”. Pada golongan Penggalang (11-15 tahun) nilai tersebut tetap masih menjadi janjinya. Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat sebagai janji di golongan Penggalang (AD & ART Gerakan Pramuka, 2013:32).

Golongan Penegak (16-20 tahun) ke atas memiliki bunyi “Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, menolong sesama hidup, dan ikut serta membangun masyarakat, serta menepati Dasadarma” (AD & ART Gerakan Pramuka, 2013). Enam kewajiban harus dilakukan anggota Pramuka adalah terhadap Tuhan, NKRI, Pancasila, sesama hidup, masyarakat, dan Dasadarma.

Sejak dini hingga dewasa tolong menolong adalah dasar dalam bersosial masyarakat. Nilai tersebut menjadikan Pramuka selalu siap sedia setiap saat dalam menolong sesama manusia dan membangun masyarakat. Tanpa disuruh Pramuka memiliki inisiatif untuk menolong karena sejak awal sudah di ajarkan dan bentuk karakter tersebut.

Timbal balik dalam kehidupan manusia adalah hubungan kepada Tuhannya, hubungan kepada manusia serta hubungan kepada alam. Tiga tanggung jawab tersebut menjadikan dasar seorang Pramuka untuk berbuat positif terhadap sesama manusia. Jika dikembalikan pada motto Pramuka semuanya saling berkaitan untuk saling tolong menolong terhadap siapa pun. Semua itu telah terkandung di Trisatya.

Bila dikaji dalam prespektif Islam bahwa konsep manusia sebagai makhluk sosial, dipertegas oleh Q.S Al-Maidah ayat 3 yang artinya: “… Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” .

Pramuka sebagai makhluk sosial tidak lepas dari ayat tersebut. Panggilan kemanusian untuk tolong-menolong merupakan kewajiban pokok terhadap tanggungjawabnya sebagai makhluk sosial. Tanggungjawab terhadap tuhan sebagi bentuk beribadah, tanggungjawab kepada manusia sebagai wujud kemanusian antar makhluk ciptaan Tuhan.

Selain tolong menolong terhadap manusia, Pramuka juga diwajibkan untuk ikut serta membangun masyarakat. Kewajiban ini memunculkan inovasi dari dalam tubuh Pramuka untuk saling bahu membahu kepada masyarakat yang sedang kesusahan.

Bukan sekadar doa yang Pramuka ucapkan namun juga bakti nyata. Berdiri ditengah aspal hitam untuk meminta donasi kepada pengendara kendaraan bermotor. Memasuki ruang-ruang kelas memohon bantuan kepada teman-temannya. Semua itu berlandaskan kewajiban kepada Tuhan, NKRI, Pancasila, sesama hidup, masyarakat serta Dasadarma.

Dasadarma 

Dasadarma sebagai ketentuan moral bagi Pramuka di Indonesia dan Scout Law di seluruh dunia. Kedua hal tersebut beda tipis karena disesuaikan dengan negara masing-masing. Scout Law disesuaikan dengan negara Inggris dan Dasadarma disesuaikan dengan Indonesia tanpa mengganti poin penting dalan kode kehormatan tersebut.

Dasadarma atau ketentuan moral dalam Gerakan Pramuka, memiliki sepuluh ketentuan moral yang wajib diamalkan oleh setiap anggota Gerakan Pramuka. Sepuluh ketentua moral, salah satunya berbunyi: rela menolong dan tabah.  

Rela monolong dan tabah, menjadi perilaku Pramuka dalam setiap tindakannya. Menurut Baden Powell setiap Pramuka diseluruh dunia, setiap hari harus berbuat kebaikan minimal satu kali. Namun jangan hanya berpatokan hanya sekali, berbuatlah sebanyak mungkin berbuat kebaikan. Walau hanya sekadar menyingkirkan batu kecil ditengah jalan (Baden Powell, 1908).

Bermula dasar tersebut, Pramuka peduli menjadi alternatif berikutnya sebagai wadah pengembangan bakat tentang kemanusiaan. Pramuka peduli merupakan bentuk kepedulian Pramuka dalam menghadapi situasi yang tidak menguntungkan bagi sebagian masyarakat Indonesia (Kwartir Nasional, 2007: 14).

Tujuannya membantu meringankan beban penderitaan masyarakat yang tertimpa musibah akibat bencana alam (gempa, longsor, banjir, angin ribut) kebakaran, dan konflik (pengungsi) serta berupaya pencegahan terjadinya bencana (Kwartir Nasional, 2007: 15).

Semuanya berawal dari Pramuka sehingga proses pembelajaran tentang kemanusian hanya didasari dari Trisatya dan Dasadarma. Segala bidang dan faktor telah terkonsep dalam kedua hal tersebut. Peran Pramuka sebagai panggilan kemanusiaan tidak diragukan lagi. Setelah bencana gempa bumi serta longsor melanda sebagian Indonesia. Unsur Pramuka ikut andil di dalamnya entah itu secara langsung mau pun hanya sekadar penggalangan dana saja.