Saya secara pribadi akan lebih percaya diri ketika masyarakat mencap saya sebagai santri, bukan mahasiswa atau profesi lain yang saya geluti. Bukan dalam rangka menyombongkan diri sebagai tahu agama, atau legitimasi identitas ketimuran. Ini hanya salah satu bentuk pengabdian total kepada kehidupan dan kemanusiaan.

Format kesantrian saya berawal dari Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri, Jawa Timur, 2009 silam. Di sini saya hanya punya beberapa detik untuk membanggakan pesantren yang khazanah tradisinya mengajarkan saya menyikapi sebuah kehidupan, memahami etika, menyikapi hak dan meletakkan kewajiban pada tempatnya (yukti kulla dzi haqqin haqqoh), menglasifikasikan mana yang penting dan mana yang manfaat, dan sebagainya.

Setelah ini adalah kebodohan pribadi saya. Banyak nilai yang diajarkan kepada kami (para santri) selama berada di pesantren. Poin terpentingnya, hal tersebut tersalur bukan melalui proses indoktrinasi. Maka, santri-santri di Kedunglo dituntut untuk giat mengeksplorasi apa pun yang ada dalam diri mereka.

Sebuah keniscayaan pula dalam proses eksplorasi dan pencarian tersebut muncul berbagai kesalahan, mulai dari yang prinsipil seperti penyimpangan-penyimpangan ilmu terapan sampai kesalahan-kesalahan konyol dalam hal menyikapi hak dan kewajiban.

Saya sendiri selalu gagal untuk bisa secara anggun meletakkan hak dan kewajiban sesuai dengan tempatnya. Yang paling sederhana, dalam kehidupan sosial santri, saya kemudian bertemu hal baru dengan sebutan ghasab, mengambil hak orang lain.

Ulama-ulama fikih sentris dengan berbagai mazhab sangat mencela perbuatan ini. Akal budi manusia pun tidak membenarkan jika hak orang lain diambil secara terang-terangan dan juga sembunyi-sembunyi. Baik itu sandal, baju, peci santri lain, dan sebagainya.

Uniknya di lingkungan pesantren secara umum, seolah-olah budaya ghasab dilegitimasi oleh sikap santri yang tidak merasa kehilangan ketika sandal yang mereka lepas menjelang salat, mendadak raib bak ditelan bumi ketika dihampiri kembali setelah selesai salatnya.

Ya bagi yang ter-ghasab sandalnya ini, rasa sesal pasti ada. Herannya, muara rasa sesal tersebut bukan pada kemarahan, melainkan pemakluman kecut atas sebab akibat yang tanpa menghilangkan perspektif kebersamaan dan pengakuan hak milik santri lain. Aneh bukan?

Hal itu menjadi postulat yang merupakan bentuk penegasan paham kolektivitas dari para santri. Mungkin juga, ghasab ini diyakini sebagai refleksi konsep kepemilikan dari kalimat “innalillahi wa innailaihi roji’un”, bahwa yang dari-Nya akan menuju kepada-Nya. Bukankah ini pelajaran tentang ikhlas yang paling tinggi derajatnya? Menurut saya sih seperti itu.

Begitu kuatnya semangat kolektivitas yang tumbuh dalam kehidupan sosial pesantren, sampai seolah-olah fikih dengan dalilnya telah diingkari tarikan-tarikan kuat dari sosialisme ala santri tersebut. Sangat tidak mungkin pula menghindarkan santri dari budaya ghasab.

Pernah salah seorang teman (yang terkesan individualis) menyengajakan tidur lebih awal, berniat agar pagi harinya lebih terorganisir karena besok ada ujian sekolah. Dibawalah seluruh atribut tidur milik pribadinya lengkap dengan bantal, jaket, kaus kaki, selimut super tebal, kasur lipat dan penghangat telinga.

Patut diketahui, pola tidur di pondok saya, mungkin juga kebanyakan pondok lain, berjejer rapi bak ikan pindang di pasar. Apa yang terjadi kemudian? Teman-teman lain yang tidur larut satu demi satu melucuti atribut teman yang tidur awal tadi.

Peta pun berubah, bantal dipakai oleh dua orang, selimut dipakai untuk jamaah tiga orang, kasur lipatnya ditarik perlahan untuk kemudian digelar horizontal tiga orang yang lain. Praktis menyisakan atribut yang melekat di badan. Acara bangun tidur pun disambut mata kantuk tanpa dendam. Hanya umpatan kecil dari mulut, yang mungkin dalam hati teman saya tadi diiringi kalimat, “Ah. Ya sudahlah!”

Paginya, mereka semua asyik cengengesan kuda, merokok layaknya ahli isap Kuba dan ngopi satu gelas ramai-ramai padahal belum tersentuh pasta gigi. Seolah hal semalam bukan merupakan dosa sosial yang patut dipertanggungjawabkan.

Saya jadi membayangkan, jika santri-santri itu, yang secara kemampuan ekonomi berbeda-beda, memiliki sense of belonging yang terlalu kuat pada barang pribadinya, kemudian mencari segala kemungkinan untuk memastikan barang pribadinya aman dari tindak laku ghasab, apa yang akan terjadi? Jawabannya akan sangat bersifat nisbi. Saya pribadi akan menjawab bahwa yang terjadi kemudian adalah kebudayaan yang seolah-olah berjalan mundur.

Indikasinya adalah intoleransi menguat, keterbagian kelas atas persepsi serta semakin kukuhnya individualisme. Padahal, sistem sosial para santri lewat ghasab sudah terancang tanpa rasa penindasan, sudah dijalankan dengan semangat kolektivitas tanpa kelas dan sudah secara progresif gotong royong membuat santrinya tetap bertahan dengan keterbatasan-keterbatasan pribadi.

Ya begitulah praktik sosialisme di kalangan santri. Dilematis sekali bukan?