Ketika di SMA, kita punya cita cita yang tinggi untuk bisa bekerja di lingkungan yang baik dengan penghasilan yang baik. Oleh karena itu kita bekerja keras untuk bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu universitas. Akan tetapi, tidak semua siswa SMA beruntung bisa melanjutkan kuliah.

Sebagian dari mereka harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Pemerintah berusaha meningkatkan sekolah kejuruan untuk memberikan ketrampilan supaya bisa diterima di lingkungan pekerjaan.

Pihak sekolah juga membantu membekali anak didiknya dengan ketrampilan yang siap diterima di lingkungan kerja melalui Prakterk Kerja Lapangan (PKL). Niat baik pihak sekolah pastinya juga disambut dengan baik oleh siswa dan orang tua siswa dengan harapan bisa membuka peluang bagi siswa SMA untuk mendapatkan pekerjaan selepas SMA.

Akan tetapi apa yang menjadi kenyataan di lapangan? Ada perusahaan (semoga hanya 1 perusahaan ini saja) yang sengaja melimpahkan semua pekerjaan administrasinya kepada siswa PKL. Siswa PKL dikontrak selama 3 bulan dengan bayaran sebesar sepuluh ribu rupiah, atau setara dengan RP 250.000,- per bulan. Apabila masa 3 bulan PKL sudah habis, maka perusahaan akan memperkejakan siswa PKL yang lain dengan ketentuan yang sama.

Dengan kata lain, perusahaan tersebut memupuskan harapan para siswa SMA yang kurang beruntung melanjutkan kuliahnya untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan terbesut sebagai karyawan dengan upah standar minimum di daerahnya yang sudah lebih dari Rp. 3.000.000,- yang artinya siswa siswa SMA yang kurang beruntung ini akan menjadi pengangguran setelah lulus SMA.

Pengusaha selalu beralasan karena upah minimum yang terlalu tinggi sehingga memaksa mereka untuk melakukan hal ini. Tambahnya lagi, dengan memperkerjakan PKL secara bergantian tidak melanggar peraturan pemerintah. Pengusaha malah merasa berhati mulia karena menyediakan tepat untuk siswa SMA mengalami pengalaman bekerja.

Ini merupakan contoh suatu niat baik dari pihak sekolah untuk melengkapi siswa mereka ketrampilan bekerja, malah disambut dengan liciknya oleh pengusaha untuk mempergunakannya sebagai tenaga kerja yang hampir gratisan. Walaupun hal ini tidak melanggar peraturan pemerintah, akan tetapi akan menjadi salah satu pemicu tingginya tingkat pengangguran dan masyarakat miskin di Indonesia.

Secara manajemen keuangan, memang tujuan utama terbentuknya suatu perusahaan adalah untuk meningkatkan kekayaan pemilik perusahaan tersebut. Akan tetapi secara kewirausahaan, perusahaan itu dibentuk untuk menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain. Kewirausahaan dalam suatu negara bila mencapai 2% maka negara tersebut bisa makmur. Akan tetapi bila perusahaannya berperilaku seperti ini, akankah kemakmuran di Indonesia terjadi secara merata?

Jangan salahkan pemerintah bila angka penganguran tinggi dan angka kemiskinan tinggi. Jangan salahkan sekolah bila angka pengangguran tinggi. Jangan salahkan upah minimum yang tinggi bila angka penganguran tinggi. Salahkan hati nurani kita sendiri, kenapa tega bertindak demikian terhadap bangsa sendiri, sedangkan untuk tenaga kerja asing didatangkan ke Indonesia dengan gaji dan fasilitas maksimum.

Sudah waktunya pemerintah harus bertindak untuk menertipkan paktek yang tidak terpuji ini. Apabila perusahaan besar dengan nama besar melakukan praktek tenaga kerja yang tidak beretika ini, apakah yang terjadi di Indonesia kemudian hari.

Bonus demografi yang seharusnya menjadi berkah akan berubah menjadi bencana, karena lulusan sekolah tidak akan pernah mendapatkan kerja dengan gaji yang layak. Apabila hal ini dibiarkan, maka lulusan universitas pun akhirnya mendapatkan perilaku yang sama.

Apakah yang terjadi kalau banyak generasi muda putus sekolah tidak bisa mendapatkan pekerjaan? Maka angka kriminal akan meningkat pula. Yang dirugikan adalah masyarakat Indonesia juga. Kalau hal itu terjadi, jangan salahkan mereka yang melakukan tindak kriminal pencurian atau perampokan karena mereka tidak bisa bekerja. Jangan salahkan agama karena gagal menguatkan iman jemaatnya.

Jangan salahkan negara karena tidak bisa menjaga keamanan negara. Akan tetapi salahkan mereka yang tidak memberikan kesempatan bangsanya sendiri untuk mendapatkan upah yang layak. Salahkan mereka yang menggunakan program PKL untuk mendapatkan tenaga kerja gratisan.

Menurut manajemen keuangan, tugas dari manajer keuangan adalah untuk menaikan nilai perusahaan. Apakah dengan mengiritan yang tidak beretika ini bisa menaikan nilai perusahaan? Apakah perusahaan bisa bertahan bila di masa mendatang ekonomi Indonesia tidak berkembang karena nilai penganguran, nilai kemiskinan, dan angka kriminalitas bertambah? Tulisan ini juga mempertanyakan fungsi manajemen keuangan perusahaan tersebut.

Akhir kata, saya masih percaya dengan 'karma'. Karma baik dan karma buruk itu ada, walaupun kita belum tentu bisa diijinkan Tuhan untuk melihatnya. Yang pasti: 'karma' itu tanpa ada tanggal kadaluwarsanya. Jadi berbisnislah yang beretika, katena etika lah yang sebenarnya membuat suatu perusahaan itu bisa bertahan lama. Sama seperti manusia, kejujuran memang terkadang menyakitkan, tetapi kejujuran pasti berbuahkan kebaikan cepat atau lambat.