Rencana sidang pembacaan putusan sengketa hasil pemilu akan digelar esok hari. Namun, sampai sekarang pertemuan antara Prabowo dan Jokowi belum juga digelar. Hal ini menjadi pertanyaan sebenarnya, untuk bertemu saja sulit. 

Akan tetapi, pertemuan antara Jokowi belum digelar, tetapi isu Prabowo jadi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Jokowi beredar hangat.

Hal itu terkait pernyataan Wakil Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) Faldo Maldini mengatakan tak menutup kemungkinan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto  mendapat jabatan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di pemerintahan Joko Widodo di periode 2019-2022. 

Namun direspon juru bicara BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade bahwa belum ada pembicaraan yang dilakukan Prabowo dengan Jokowi terkait bagi-bagi jabatan (cnnindonesia.com, 25/6).

Apapun yang diisukan tersebut, tak menjadi masalah juga buat kita. Jikalau Prabowo mau jadi Wantimpres, ya luar biasa karena akan ada sinergitas antara kedua tokoh nasional itu terkait kemajuan bagi bangsa dan negara. 

Kita akan melihat kolaborasi antara Prabowo dan Jokowi. Segala program dan kebijakan dari Jokowi akan didiskusikan juga kepada Prabowo, sehingga bisa jadi timbul kesepakatan yang membuahkan hasil yang lebih baik.

Tidak masalah sebenarnya, jikalau itu untuk bangsa dan negara. Siapa saja akan melihat harmoni bila Prabowo masuk kedalam pemerintahan maupun kadernya Prabowo juga masuk pemerintahan. 

Dengan begitu, kita akan melihat, begini ternyata keindahan dari sebuah persahabatan. Negara akan semakin baik tentunya, bila ada kolaborasi dan komitmen menuju pada kebaikan buat bangsa dan negara. Perbedaan akan menjadi satu kesatuan, dimana berbagai kader partai masuk untuk membicarakan kebaikan buat bangsa dan negara.

Apa yang ada dipikirkan Prabowo akan disalurkan kepada Jokowi begitu juga sebaliknya. Apa yang dilihat Prabowo selama kampanye akan diberikan kepada Jokowi demi sebuah kebaikan bersama. Indah, sungguh indah sekali!!.

Karena itulah, dukungan penuh kita berikan. Terlebih dahulu, dibicarakan dulu baik-baik rencana Prabowo jadi Wantimpres Jokowi agar tidak timbul kesenjangan diantara partai lainnya yang mengusung Jokowi. 

Aneh, bila ada kesenjangan akibat tidak ada komunikasi terlebih dahulu terkait Prabowo jadi Wantimpres. Yang terjadi semakin banyak barisan sakit hati yang membuat bibit kebencian muncul dan semakin mengacaukan situasi negara kita.

Kita tak menginginkan hal itu terjadi. Selesai kompetisi, maka selesai juga serangan-serangan politik maupun aksi saling menyindir dan menjatuhkan diantara politisi. Kita memasuki masa tenang, damai dan tenteram. Masa sulit dan menegangkan sudah habis.

Maukah Prabowo?

 Pertanyaan sederhananya, maukah Prabowo jadi Wantimpres Jokowi?. Apakah Prabowo tidak gengsi kalau jadi Wantimpres, padahal kemarin beliau adalah capres?. Ini menjadi pertanyaan sebenarnya. Benarlah, itu masih sekedar isu, tetapi isu bisa jadi kenyataan bukan?.

Bagi-bagi jabatan sedang hangat saat ini, sehingga setiap koalisi sedang mencari ancang-ancang untuk ditawarkan jabatan menteri maupun di pemerintahan, lembaga atau instansi pemerintah.

Pihak oposisi waktu pemilu kemarin sudah mengambil ancang-ancang untuk dilirik Jokowi menempati singgasana empuk jabatan di pemerintahan.

Kembali pada topik, kita harus menunggu kesediaan dari Prabowo atas isu yang marak beredar tersebut. Kemungkinan akan dibicarakan saat Jokowi dan Prabowo bertemu. Kalau tidak ketemu-ketemu, bagaimana bisa timbul kesepakatan bukan?.

Belum lagi, gengsi akan ada di dalam diri Prabowo. Bisa jadi beliau menolak maupun menerima sesuai hasil kesepakatan saja.

Atau jangan-jangan Prabowo akan menyodorkan nama dari para kadernya menempati jabatan yang ditawarkan tersebut?. Bisa juga. Asal ada saja kesepakatan dari internal Jokowi dan Prabowo. Harus ada hasil kesepakatan yang menciptakan harmoni di tubuh pemerintah yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Kita menunggu itu.

Bisa jadi, citra Prabowo akan semakin wangi di penciuman rakyat jika beliau bisa bersanding dalam pemerintahan bersama dengan Jokowi. Sekaligus, strategi politik menaikkan elektablitas Prabowo di 2024 (jika masih boleh) menjadi capres.

Semakin terlihat di pemerintahan, apalagi kinerjanya bagus, tentu akan menaikkan nilai jual seseorang. Rakyat akan melihat lebih dalam dan lebih terang sepak terjang tersebut, sehingga rasa cinta dan suka muncul sampai menimbulkan rasa kagum. Itulah yang menjadikan popularitas meningkat dan bisa menduduki kursi RI 1.    

Siapa pengkritik pemerintah?

Pertanyaan selanjutnya, siapa pengkritik pemerintah bila kader dari Prabowo masuk ke dalam kabinet atau pemerintahan?. Ini menjadi pertanyaan yang membutuhkan jawaban. 

Kalau saya menjawab, masih ada partai lainnya yang tidak hangat ditawarkan isu masuk kabinet atau pemerintahan. Seperti PKS misalnya atau jangan-jangan PAN dan Demokrat juga.

Biarkan saja, partai-partai tersebut bersama rakyat yang menjadi pengkritik pemerintah. Kalau ada pengkritik, maka ada keseimbangan dalam proses membangun pemerintahan yang lebih baik. 

Dalam sebuah negara, tentu ada koalisi dan ada oposisi. Tak semuanya menuruti pemerintah dan sepakat dengan kebijakan pemerintah. Harus ada kritikan agar menjadi lebih baik.

Dalam hal ini, saya berpendapat bahwa tidak ada masalah kalau Prabowo menjadi Wantimpres asalkan ada juga pengkritik di pemerintahan agar proses jalan menuju kemajuan semakin tercipta.