Mahasiswa
4 bulan lalu · 121 view · 3 menit baca · Politik 21485_17952.jpg
tribunnews.com

Prabowo Tertipu, Desakan Ganti Nama Koalisi Bertebaran
Dampak Kasus Fiktif Ratna Sarumpaet ke Koalisi Prabowo

Ratna Serumpaet berhasil menjadi perhatian publik selama beberapa hari. Wajahnya yang bengkak menjadi obrolan panas di media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Twitter yang merupakan kanal media paling aktif membicarakan isu tersebut. 

Konfirmasi pertama disampaikan oleh politikus Partai Gerindra Rachel Maryam pada pukul 10.51 WIB siang. Melalui akun Twitter-yna, ia menyebut bahwa kejadian penganiayaan itu benar adanya.  

Ia juga menjelaskan bahwa kejadian tersebut berlangsung pada tanggal 21 September 2018. Bukan hanya Rachel Maryam, sejumlah politisi yang dikenal dekat dengan Ratna juga menyampaikan rasa simpati dan kekhawatiran terhadap aktivis yang dikenal sering mengkritik pemerintah ini. Namun, beberapa hari setelah kabar ini keluar, Ratna menggelar jumpa pers di kediamannya di Tebet, Jakarta Selatan. 

Dalam jumpa pers tersebut, Ratna mengaku dirinya telah melakukan kebohongan terkait penganiayaan yang dialami di Bandung sekitar sepekan lalu. Hal yang sebenarnya terjadi, ujar Ratna, wajahnya tampak lebam akibat bedah estetika yang ia lakukan di salah satu rumah sakit khusus kecantikan di Jakarta Pusat.

Pengakuan Ratna tidak hanya membuat publik terkejut namun juga tokoh politisi yang pernah bersimpati terhadapnya, seperti Rachel Maryam, Fadli Zon, Fahri Hamzah, bahkan Prabowo. Mereka merasa telah ditipu dengan cerita bohong Ratna. Pada hari yang sama, Prabowo mengadakan jumpa pers untuk melayangkan permintaan maaf secara terbuka akibat turut andil dalam menyebarluaskan kabar bohong soal penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet

Dalam jumpa pers tersebut, Prabowo didampingi pasangannya dalam pilpres 2019, Cawapres Sandiaga Uno, Ketua Dewan Kehormatan PAN yang juga mengusung dirinya Amien Rais, serta sejumlah anggota tim pemenangannya. Tidak hanya itu, Fadli zon, Fahri Hamzah, Rachel Maryam, Ferdinand Hutahaean, dan Hanum Rais juga sempat meminta maaf dan memberikan penjelasan di Twitter milik mereka.

Di media sosial tempat berita ini pertama kali muncul, Twitter, banyak bermunculan tagar terkait dengan pemberitaan tersebut, seperti #SaveRioDewanto, #SaveAtikahSiholan, #KoalisiPlastik, dan #KoalisiHoax. Kesemuanya sempat menjadi trending topic nomor 1 di Indonesia pada Kamis, 4 Oktober 2018 pukul 9.30 WIB hingga 10.47 WIB. Ini merupakan respons kekecewaan dan kritik dari masyarakat kepada koalisi Prabowo-Sandi yang tergesa-gesa dalam bertindak sehingga ikut menjadi korban hoaks. 

Tanggapan lain dari masyarakat adalah penetapan 3 Oktober 2018 sebagai ‘Hari Anti Hoax Nasional’ di mana pada saat itu Ratna mengakui kebohongannya. Tujuannya penetapan itu adalah untuk mencegah peristiwa tersebut terulang kembali serta membangun budaya bermedsos yang positif, sebab dari kejadian ini masyarakat mengetahui bahaya hoaks terhadap persatuan Indonesia.

Kejadian ini mengundang banyak reaksi dari para politisi, salah satunya adalah Tsamara Amany, Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Tsamara menilai klarifikasi Ratna Sarumpaet menunjukkan bagaimana koalisi ini tidak kompeten untuk memimpin bangsa, bahwa seorang pemimpin tidak seharunya asal menelan informasi. 

Ia juga menginggung Prabowo yang menggelar konferensi pers soal tuduhan penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet tanpa memverifikasi terlebih dahulu. Sebab, sebagai seorang pemimpin, harusnya dapat berpikir rasional dan mencari kebenaran dari suatu opini meskipun opini tersebut bersumber dari orang yang ia percaya. 

Selain Tsamara, Ketua DPP PDI Perjuangan, Andreas Hugo Pareira menyatakan bahwa Kasus Ratna Sarumpaet menyadarkan kita betapa kejinya rekayasa informasi yang dibuat oleh seorang Ratna Sarumpaet yang didukung oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan-kepentingan berkampanye. 

Dan sangat disayangkan, kebohongan Ratna Sarumpaet ini telah menyibukkan pihak kepolisian dan menguras perhatian publik yang seharusnya lebih memperhatikan kasus bencana dan bersama-sama memulihkan kembali Sulawesi Tengah.

Sekarang masyarakat sudah lelah dengan segala drama politik yang muncul di Indonesia, mulai dari berita bohong (hoaks), ujaran kebencian, fitnah, serta black campaign. Banyak netizen yang akhirnya mengaitkan peristiwa ini dengan hoaks yang sering terjadi belakangan ini. Apakah dalangnya sama? Atau hanya kebetulan semata?

Yang jelas, apa pun motif sebenarnya Ratna Serumpaet menyebarkan kebohongan ini, masyarakat sudah mulai kehilangan kepercayaannya, dan dengan kejadian ini masyarakat mulai menyadari bahwa sebagai seorang pemimpin seharusnya tidak mudah menyimpulkan sesuatu tanpa bukti dan fakta yang kuat, apa lagi menuduh pihak lain sebagai penyebabnya tanpa adanya investigasi.