Kerajaan Majapahit ini adalah salah satu kerajaan yang paling besar yang pernah ada di nusantara. Nama Kerajaan Majapahit diambil dari nama buah maja yang rasanya pahit. Raja yang paling terkenal dari kerajaan Majapahit adalah Raja Hayam Wuruk dan Patihnya, Gajah Mada. Wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit bahkan melebihi luas wilayah Republik Indonesia sekarang.

Bicara soal Majapahit adalah bicara tentang Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Duo andalan Majapahit ini ibarat goals bagi kepemimpinan Indonesia saat ini. Majapahit sendiri mencapai masa keemasannya di bawah Panglima perang Mahapati Gajah Mada dengan rajanya Prabu Hayam Wuruk.

Gajah Mada dikenal juga oleh masyarakat dengan nama Mpu Mada, Jaya Mada, atau Dwirada Mada. Ia diyakini sebagai Lembu Muksa yang merupakan titisan dari Dewa Wisnu. 

Dengan keyakinan masyarakat tersebut, Gajah Mada mendapat legitimasi yang sangat kuat dari seluruh rakyat Majapahit, sehingga mendapatkan dukungan kepatuhan yang kuat dari rakyat dan kepercayaan yang besar dari Raja.

Gajah Mada berasal dari kalangan rakyat biasa, bukan dari kalangan keluarga kaya ataupun bangsawan. Sejak kecil dia memiliki talenta kepemimpinan yang sangat kuat melebihi orang-orang sebaya di masanya dan konon dia terus menempa dirinya agar dapat masuk ke lingkungan pasukan kerajaan. Nama Gajah Mada sendiri mengandung makna “Gajah yang cerdas, tangkas, dan enerjik.”

Awal kariernya dimulai sebagai anggota prajurit Bhayangkara. Karena kemampuannya, ia pun diangkat menjadi Bekel atau Kepala Prajurit Bhayangkara dengan tugas memimpin pasukan pengaman dan pengawal Raja; kalau saat ini mungkin sebagai Kepala Paspampres.

Pengabdian Gajah Mada kepada Negara dimulai pada masa pemerintahan Raja Jayanegara (1309 – 1328). Pada masa ini, banyak sekali prestasi yang ditunjukkan oleh Gajah Mada, sehingga membuat prestasinya terus menanjak. Salah satunya yang tercatat di dalam sejarah adalah ketika Gajah Mada berhasil menyelamatkan pemerintahan dari kudeta Ra Kuti.

Atas prestasinya tersebut, dia dianugerahi menjadi Patih di kawasan Kahuripan pada 1319. Gajah Mada menjabat Patih Kahuripan selama 2 (dua) tahun, yaitu 1319 – 1321. 

Posisinya sebagai Patih Kahuripan merupakan hal yang menantang baginya. Dengan posisinya ini, Gajah Mada dapat terus meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta pengalamannya di bidang kepemimpinan, manajemen tata pemerintahan, dan ketataprajaan (ketatanegaraan).

Salah satu kemampuannya yang sangat dikagumi oleh rakyat Majapahit, terutama kalangan Istana adalah dalam problem solving & decision making. Kemampuannya di dalam menganalisis suatu permasalahan sangat tajam serta tegas di dalam mengambil suatu keputusan.

Pada tahun 1321, dia dipromosikan menjadi Patih di Daha, yaitu suatu daerah yang lebih prestisius dengan wilayah yang lebih luas dibanding Kahuripan, menggantikan Arya Tilam. Selama menjalankan tugasnya di Daha, Gajah Mada mendapatkan dukungan (endorsement), pendidikan (training), pelatihan (coaching), dan pembimbingan (counseling) dari seniornya yang merupakan Maha Patih Majapahit saat itu, yaitu Arya Tadah. 

Melihat kemampuan Gajah Mada yang luar biasa tampaknya membuat Arya Tadah sengaja mengader Gajah Mada untuk menggantikan posisinya kelak.

Bersama Adityawarman pada tahun 1331, Gajah Mada berhasil menumpas kasus separatisme Sadeng. Hal tersebut makin mempermulus jalannya untuk menggantikan posisi Arya Tadah sebagai Maha Patih Majapahit. 

Hingga ketika Arya Tadah merasa sudah tua dan ingin pensiun sebagai Maha Patih, Arya Tadah mengusulkan kepada Ratu Tribhuawanatunggadewi Jayawisnuwardhani untuk mengangkat Gajah Mada sebagai Maha Patih menggantikan posisinya. Sang Ratu pun menyetujui usulan Arya Tadah tersebut untuk mengangkat Gajah Mada sebagai Maha Patih Kerajaan Majapahit.

Laiknya pelantikan Kepala Pemerintahan zaman sekarang, saat dikukuhkan menjadi Maha Patih, Gajah Mada membuat suatu statement atau janji politik yang sangat luar biasa. Janji yang sangat melegenda hingga saat ini dan akan selalu dikenang oleh berbagai generasi, yaitu suatu janji yang dikenal dengan nama SUMPAH PALAPA.

Sumpah Palapa tersebut termuat dalam kitab Pararaton yang berbunyi:

Sira Gajah Mada Pepatih amangkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, saman ingsun amukti palapa.”

Artinya :

Beliau Gajah Mada menjabat Patih Mangkubumi tidak ingin menikmati palapa, beliau Gajah Mada berkata: “Kalau sudah kalah seluruh Nusantara, saya akan menikmati palapa: Kalau sudah kalah Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang (Semenanjung), Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik (Singapura), pada waktu itulah saya menikmati palapa.

Suatu janji politik yang luar biasa dan akhirnya dapat dia wujudkan untuk menyatukan Nusantara, yaitu suatu kawasan yang lebih besar dari kawasan Negara Indonesia saat ini yang meliputi Seluruh semenanjung Malayu (Malaysia dan Singapura), Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sunda kecil, Bali, Maluku, Papua, hingga wilayah Darwin (Australia).

Gajah Mada juga punya beberapa tokoh yang mendukung dia, misalnya laksamana Nala Majapahit dan Adityawarman. Di bawah pimpinan Laksamana Nala Majapahit, angkatan laut Kerajaan Majapahit menjadi sangat kuat. Tugas utama dari angkatan laut ini adalah mengawasi seluruh perairan yang ada di Nusantara.

Gajah Mada terus melakukan penaklukan ke wilayah timur sampai tahun 1357. Gajah Mada memang hampir berhasil menaklukkan Nusantara. Gajah Mada melaksanakan politik penyatuan Nusantara selama 21 tahun, yakni antara tahun 1336 sampai 1357. 

Isi program politik ialah menundukkan negara-negara di luar wilayah Majapahit bahkan, dalam kitab Nagarakretagama pupuh 13 dan 14 nama-nama negara yang disebutkan jauh lebih banyak daripada yang dinyatakan dalam sumpah Nusantara.

Gajah Mada Lebih Terkenal daripada Hayam Wuruk

Mahapatih Gajah Mada gigih dengan Sumpah Palapa-nya untuk menyatukan Nusantara, Gajah Mada kerap menjadi kekuatan besar di balik Kerajaan Majapahit. Pun, di bawah kekuasaan Hayam Wuruk, Majapahit menaklukkan Kerajaan Pasai dan Aru.

Namun, ada yang sedikit janggal pada hubungan mereka berdua. Seperti yang telah disebutkan pada cerita di atas, Hayam Wuruk adalah raja, sedangkan Gajah Mada adalah patih. Dalam kisah mana pun, raja pastilah yang paling dikenal dan dikenang namanya, lebih dari siapa pun.

Ternyata, kisah Hayam Wuruk dan Gajah Mada adalah pengecualian. Hingga hari ini, sepertinya semua orang pun tahu: Gajah Mada jauh lebih terkenal dibandingkan rajanya sendiri, Hayam Wuruk!

Satu alasan kenapa Gajah Mada terkenal, tidak lain dan tidak bukan, hal ini disebabkan oleh ketangguhan sikap dan peninggalannya yang masih terus dikenang. Apa saja?

Sumpah Palapa adalah salah satunya. Tentu, sejarawan dan masyarakat umum masih mengingat betapa Sumpah Palapa adalah cikal bakal lahirnya persatuan Nusantara. Bahkan, bukan hanya kenangan, Palapa di zaman kini pun tetap populer dan dikagumi.

Tak heran kalau kepopulerannya terus meluap hingga beratus-ratus tahun kemudian. Pesona Gajah Mada tidak terbantahkan. Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta adalah universitas negeri yang dinamakan menurut namanya. Satelit telekomunikasi Indonesia yang pertama dinamakan Satelit Palapa, yang menonjolkan perannya sebagai pemersatu rakyat Indonesia.

Sebagai salah seorang tokoh utama Majapahit, nama Gajah Mada sangat terkenal di masyarakat Indonesia pada umumnya. Pada masa awal kemerdekaan, para pemimpin antara lain Soekarno dan Mohammad Yamin sering menyebut sumpah Gajah Mada sebagai inspirasi dan "bukti" bahwa bangsa ini dapat bersatu, meskipun meliputi wilayah yang luas dan budaya yang berbeda-beda. 

Banyak hal yang dapat dipelajari dan menginspirasi para pemimpin saat ini dari kisah perjalanan Gajah Mada didalam upayanya menjadi seorang Maha Patih, mulai dari idealismenya, kemauannya untuk menempa diri dengan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalamannya (kompetensinya), 

Kemampuannya di dalam menganalisis suatu permasalahan dan memecahkan masalah, ketegasannya di dalam mengambil suatu keputusan, kewibawaannya, serta yang paling utama adalah komitmennya di dalam memegang janji politiknya yang merupakan visinya, yaitu menyatunya Nusantara.

Dari kisah tersebut di atas, ada fakta menarik di sini mengenai hubungan antara Gajah Mada di zaman Majapahit dengan Prabowo Subianto. Di mana setelah penulis amati Prabowo Subianto memiliki banyak kesamaan dengan Gajah mada.

Kesamaan pertama, yaitu sama-sama memiliki rasa nasionalisme yang sangat tinggi. Kita bisa simak narasi kebangsaan Prabowo Subianto yang tertuang dalam program aksi Partai Gerindra dan orasi politik maupun ceramah yang dilakukan oleh Prabowo (telisik di www.youtube.com, gerindraTV dan badingkan dengan sumpah palapanya Gajah Mada)

Kesamaan kedua, yaitu Gajah Mada dan Prabowo sama-sama berasal dari pasukan khusus dan pasukan tempur bagian telik sandi (inteligent). Karier mereka di militer sama-sama melesat di waktu mudanya (the rising star) sehingga sama-sama menjadi komandan. Kalau Gajah Mada Komandan pasukan Bhayangkara, Prabowo Komandan Jendral Kopassus

Kesamaan ketiga adalah karier militer mereka jatuh ditandai oleh peristiwa huru-hara. Karier militer Gajah Mada berhenti setelah kasus huru-hara di Bubat sedangkan karier militer prabowo jatuh tidak lama setelah kasus huru-hara Mei 1998. Baik Gajah Mada maupun Prabowo sama-sama dipecat tidak lama setelah peristiwa huru-hara itu terjadi.

Kesamaan berikutnya adalah setelah di pecat dari militer Gajah Mada kemudian mengasingkan diri beberapa waktu (tidak tahu ke mana). Prabowo mengasingkan diri ke Yordania sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. Mereka berdua sama-sama tidak terlibat urusan pemerintahan dalam kurun waktu tertentu.

Diceritakan kemudian Gajah Mada kembali ke pemerintahan dan menjabat Mahapatih (kurang lebih sama dengan jabatan dengan presiden atau perdana menteri) dan menjadi Maha Patih terbesar dalam sejarah Majapahit, yang mempersatukan Nusantara, yang membawa Majapahit memasuki zaman keemasannya.

Penulis coba lihat-lihat foto-foto Pak Prabowo waktu muda. Terlihat perbedaan wajah Prabowo yang waktu muda terlihat kurus namun tegap, tampan, dan gagah dengan Pak Prabowo yang sekarang. Meskipun sekarang terlihat lebih gemuk, namun kegagahan masih terlihat; dan yang menarik adalah wajah Pak Prabowo sekarang mirip sekali dengan sketsa wajah Gajah Mada.

Ibarat Gajah Mada, Mahapatih Majapahit, sosok Prabowo adalah pemimpin yang mampu mewujudkan kejayaan Indonesia, Menjaga kedaulatan, keutuhan, dan memperkuat pertahanan NKRI agar tidak mudah dirongrong bangsa asing. Serta menjaga agar bangsa ini tidak terjajah secara ekonomi oleh kekuatan asing.

Semoga Prabowo Subianto akan mengikuti jejak Gajah Mada dengan terpilihnya menjadi menteri pertahanan di kabinet Indonesia Maju. Pengabdian dan karya bakti Prabowo untuk negeri ini bakal menjadi catatan terbesar sepanjang sejarah Republik Indonesia?