Pencerita
4 minggu lalu · 2838 view · 3 menit baca · Politik 58738_91909.jpg

Prabowo, Peran Antagonis Terbaik 2019

Publik kenal sosok dia dengan banyak catatan. Prestasi terbaik dan terburuknya mungkin dialami di dunia militer. Kita bisa mencari cemerlangnya kariernya yang kemudian diakhiri dengan pemecatan.

Tapi, setiap orang tentu ada sisi baik dan buruk. Kita berperilaku karena merespons perilaku orang. Kita memiliki banyak potret diri di mata orang-orang kepada siapa kita berinteraksi. Image diri yang kita bangun dan percaya dalam diri kita bahkan mungkin tidak eksis di mata orang lain.

Lahirnya Peran Antagonis Prabowo

Jalan panjang permainan elite politis di level atas yang akan selalu mengorbankan masyarakat. Semua tragedi tidak pernah melahirkan orang biasa sebagai pahlawan, hanya elit politis yang menjadi kesatria. 

Orang biasa hanya menjadi korban. Tulisan sejarah bangsa hanya akan mencatat harum nama mereka yang menjadi elite-elite politikus. Walau lebih banyak kebobrokan yang tertinggal, tapi kita hidup di negara yang memoles semua wajah yang tampil di hadapan publik dunia dan lokal dengan wajah sempurna tanpa cacat. 

Bukankah dia, bapaknya Titik itu, digelari Bapak Pembangunan? Dan berapa juta orang yang percaya lebih enak di zamannya?


Permainan elite politik di Indonesia ini seharusnya membuat kita miris. Berapa banyak energi dan waktu dan materi terbuang percuma. Masyarakat (dengan kesadarannya atau tidak) dibenturkan hanya untuk mengangkat mereka duduk di puncak kekuasaan untuk menikmati kemewahan dengan legitmasi demokrasi. 

Demokrasi, yang tentu satu-satunya, adalah sistem yang baik yang ada saat ini. Semua proses itu berulang, hanya untuk menyadari lingkaran kekuasaan itu, tamak dan rakus, antara mereka-mereka juga. Orang-orang tersedot ke dalamnya hanya untuk menyadari, menemukan dan membarter kepentingan dengan kepentingan. Kepentingan pribadi, kelompok, golongan.

Masyarakat diberi euforia oleh masing-masing kubu, soal dan hal "menegakkan kebaikan dan keadilan". Padahal jika saja sudi merefleksi, kita hanya punya kesempatan untuk menjadi pion-pion malang untuk melanggengkan hegemoni elite-elite ini. Karena, prinsip yang para elite ini jalankan adalah membuat elite yang kaya makin kaya dan masyarakat yang miskin makin miskin. Mereka tidak akan sudi melepas “kue bernama NKRI” ini kepada orang lain yang tidak mendukung kepentingannya.

Tuan Jokowi telah hadir dengan wajah publikasi yang terbaik sebagai orang yang lahir dari proses demokrasi yang dunia junjung ini. Tuan Prabowo? Dia lahir dari dan dalam elite politik "jalur khusus". 

Ningrat politik. Berjuta orang yang percaya bahwa seolah semua pemimpin haruslah dari lingkaran elite-elite mereka. Jokowi, yang publik suguhkan pun, tentu masuk dalam kubangan elitis. Balas-jasa dalam ruang-ruang balas budi politik itu langgeng. Bukankah seni berpolitik begitu?

Saat 2014, Prabowo sudah kalah, obsesinya menjadi presiden dimanfaatkan tetap oleh elite-elite di kubu mana pun. Orang-orang dengan semua modus dan latar dengan lihai saling berebut mengambil keuntungan dari obsesinya Tuan Prabowo. 

Tuan ini mencalonkan diri hanya untuk tahu dia adalah keledai yang akan jatuh ke dalam lubang yang sama kedua kalinya. Apa yang mungkin terjadi? Banyak! Bangsa ini sudah mengalami banyak keributan yang tidak produktif dan hari-hari ini akan disuguhkan ujungnya di mana.

Semoga Tuan Prabowo Jadi "Kesatria"

Adakah tertafsir kemungkinan oleh elite-elite politis yang menyorong dan mendukung Tuan Prabowo prediksi kejadian di depan, kalau sisi antagonis si Tuan ini akan merangsek muncul ke permukaan, dalam proses kekalahannya? Sisi antagonis itu akan di-kompori oleh siapa pun yang bisa mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun hingga tetes terakhir. 

Semua "manusia politik si serigala pemangsa" akan saling mencari ruang gerak dalam runyam keadaan. Kelompok teroris, organisasi anti-demokrasi, dan mereka yang hanya sekadar merasa menjalankan tugas mulia agamanya, atau bahkan sekadar demi dapat uang makan sebulan. Itu semua memungkinkan. Korban? Kita, masyarakat.

Masalahnya, realitas yang muncul ke permukaan, semua tingkah laku elite itu mengorbankan masyarakat yang saban hari berusaha hanya mencari hidup yang aman dan nyaman. Hanya mencari kesempatan yang sama untuk menjadi apa pun yang mereka mau, berkarya untuk negara ini. 

Bahkan, dengan semua tetek bengek KKN dan lazimnya ketimpangan kesetaraan, masyarakat yang sudah kalah sejak awal untuk mendapat hak politis dan ekonomi secara imbang harus menjadi korban dari perilaku elite-elite politis seperti Tuan Prabowo dan juga kubu pemenang beserta semua pendukungnya.


Di akhir episode ini, Tuan Prabowo, Anda sudah layak mendapatkan peran antagonis terbaik tahun ini, dan itu semua dengan mengorbankan masyarakat. Pemeran pendukung terbaiknya adalah para elite politikus negara yang itu-itu juga.

Di akhir, biar kita doakan happy ending, walau dengan suguhan semua keributan ini, luka dan semua kerugian bangsa, adegan selanjutnya adalah Tuan Prabowo akan melakukan press conference bahwa dia dengan kesatria mengakui kemenangan dan bersama akan membangun bangsa dan mengkritisi pemerintahan terpilih. 

Kubu elite pemenang akan berdecap kagum akan sifat kesatria itu. Tepuk tangan bergemuruh di ruang publik. Masyarakat yang menjadi korban kembali menjalani hari-hari dan melupakan pentingnya pendidikan kewarganegaraan dan hak kewarganegaraannya.

Atau, chaos! Yang akan mengorbankan masyarakat kembali. Kita akan menjadi korban atas pertarungan elit-elit ini.

Selamat!

Artikel Terkait