Penulis
3 minggu lalu · 5315 view · 3 min baca · Politik 61448_24287.jpg
Foto: Merdeka

Prabowo Pemenang Pilpres Jika...

Barangkali ketika membaca judul tulisan ini ada yang beranggapan saya sedang berhalusinasi. Tak terima hasil putusan MK atau anggapan bernada negatif lainnya. 

It's oke, I understand. Ini negara demokrasi. Cemoohan adalah sudut pandang. Saya terima sudut pandang tersebut. Lalu beginilah sudut pandang saya sehingga lahir judul tulisan ini.

Bagi saya, pemenang itu bukan serta-merta mereka yang juara dalam kontestasi dan pertempuran. Pemenang selalu paham makna sebuah kontestasi, menikmati hasil setelah proses dijalani. Berhasil menjalankan misi dan visi meski kalah dalam kontestasi.

Setelah menang dalam perang fenomenal (badar), Nabi Muhammad mengingatkan kaum muslimin pada saat itu. Pertempuran lebih besar akan kalian hadapi, pertempuran melawan diri sendiri. Melawan nafsu yang akan menjadikan kalian sebagai budaknya apabila kalian kalah. Pertempuran yang terus-menerus terjadi. Pesan ini penuh makna.

Dan benar, perbudakan nafsu kerap terjadi dalam diri manusia. Nafsu menjadi raja dalam diri manusia. Ia memperbudak manusia untuk meraih sesuatu dengan segala cara, bahkan cara-cara tersebut terkadang melanggar nilai-nilai kemanusiaan. 

Bila sudah begitu, seorang ulama, pendeta, cendekiawan, dosen, mahasiswa, berpotensi besar melanggar hak orang lain.

Dalam hal Pilpres 2019, Prabowo dapat menjadi pemenang apabila ia sukses memasuki kepala Jokowi dan Megawati. Prabowo harus menjadi kepala bagi kepala negara. Selama ini, kepala dari kepala negara sudah menjadi rahasia umum siapa dia. Kini saatnya Prabowo menggantikan kepala dari kepala negara tersebut. 


Sebelumnya Prabowo juga sukses menahan diri dari perang sipil-militer. Ia lebih memilih dicemooh ketimbang menggerakkan massa loyalisnya. Entah itu dari kalangan sipil murni maupun mantan militer yang selalu setia bersamanya. 

Rekonsiliasi dari MRT menuju Nasgor telah membuat panik para penghamba jabatan. Mereka kemudian mencoba menekan Jokowi. Sayangnya, Jokowi tak menggubris gerakan itu. Ia malah membubarkan TKN sebagai jawaban atas langkah 'nakal' mereka.

Manuver Prabowo juga sukses memancing SBY keluar sarang. SBY berencana melobi Jokowi pada bulan Agustus. Seperti biasa, ia butuh kepastian posisi AHY dalam kabinet. Ingat, bukan untuk kadernya, namun anaknya. 

Langkah Prabowo kali ini jelas beda dengan langkah 2014. Ia belajar, ia sekarang paham politik tak selamanya harus berhadapan. Ia butuh cara cerdas untuk meraih yang diinginkan tanpa merusak iklim demokrasi. 

Wajar bila partai koalisi pendukung Jokowi kian gelisah. Prabowo ditolak, sebabnya jatah kursi akan berkurang apabila Gerindra masuk dalam kubu pemerintahan. Bahkan bukan mustahil partai tanpa kursi di parlemen bakal kehilangan kursi menteri. 

Dinamika memang enak ditonton. Apalagi bila ending-nya belum ketahuan. Tapi ingat, jangan terbawa emosi karena sang sutradara bakal bangga bila penonton ada yang menangis dan meratap serta tertawa. Seperti kisah MRT, pendukung Prabowo ada yang menangis, sementara pendukung Jokowi malah tertawa.

Jon Snow dianggap tokoh paling ideal menjadi raja The Six Kingdoms versi penonton. Namun sutradara malah mengangkat raja yang cacat secara fisik. Barangkali tidak sampai 1 persen penonton yang menebak Brandon Stark bakal menjadi raja. 

Lalu siapa tokoh di balik terpilihnya Brandon Stark? Siapa lagi kalau bukan Tyron Lannister. Kelihaian argumentasinya membuat semua peserta rapat sepakat. Argumennya memang masuk akal serta solutif. 

Peran Tyron barangkali yang akan diambil Prabowo dalam periode kedua Jokowi. Tentu saja para penghamba jabatan khawatir Prabowo ikut serta dalam menentukan kabinet. Mungkinkah Prabowo akan dilibatkan oleh Jokowi dan Megawati?

Dalam politik, semua mungkin. Itulah mengapa yang suka kepastian sebaiknya jangan berpolitik atau jangan berlebihan mendukung. Efeknya bisa mengganggu kejiwaan. Sebabnya, kepastian dalam politik adalah ketidakpastian.


Saat ini parpol-parpol pendukung Jokowi sedang ketar-ketir. Jangan-jangan Jokowi tidak menoleh pada kader mereka. Jangan-jangan porsi menteri didasari perolehan kursi di parlemen. Who knows?

Nah, Prabowo melihat peluang ini sebagai momentum meraih kemenangan. Porsi menteri didasarkan pada perolehan kursi parlemen tentu saja menguntungkan partainya. Apalagi bila posisi kementrian yang diambil bidang-bidang strategis.

Prabowo kini tinggal memastikan Megawati dan Jokowi menjalankan skenario bersama. Ditopang JK sang kingmaker, Prabowo akan menjadi kepala pemerintahan. Ia menggantikan peran Luhut Binsar Pandjaitan dan Surya Paloh.

Suksesi itu belum mulus berjalan. SBY sudah membaca gerakan yang dilakukan Prabowo. Manuvernya dipastikan akan merusak skenario Jokowi kepala negara dan Prabowo kepala pemerintahan. Bila tidak waspada, SBY yang akan menjadi kepala pemerintahan.

Politik harus cerdas berhitung. Prabowo, jika ingin menjadi pemenang, harus membaca peluang dan tantangan. Satu-satunya jalan ia menjadi pemenang jika mampu menjadi kepala pemerintahan. 

Pengangkatan Dahnil Anzar sebagai juru bicaranya sudah benar. Sebagai kepala pemerintahan, ia akan mendapatkan serangan masif.

Dahnil Anzar cukup komunikatif dan simpatik. Ia menguasai persoalan dan mampu menggunakan diksi diplomasi. Kemampuan itu dibutuhkan Prabowo selama 5 tahun ke depan. Prabowo menjadi pemenang pilpres jika ia sukses menjadi kepala pemerintahan. Setuju?

Artikel Terkait