2 bulan lalu · 904 view · 4 min baca menit baca · Politik 79498_14106.jpg
epicentrumworld.files.wordpress.com

Prabowo dan Sisi Baiknya

Dalam perjalanan Yesus bersama murid-muridnya melihat bangkai anjing, murid-murid Yesus pun mencela betapa bau dan menjijikkan bangkai anjing tersebut. Tetapi, respons Yesus seolah berkebalikan dari murid-muridnya. Yesus memuji betapa putihnya gigi bangkai anjing tersebut.

Terkadang manusia hanya memandang pada sisi luar. Ibaratnya setitik nila merusak susu sebelanga. Manusia menjadi makhluk yang begitu lihai memberikan stigma dan penilaian, walau ada sisi yang terkadang luput dari penglihatannya.

Sosok Prabowo Subianto, mantan Pangkostrad, telah menyita perhatian, bukan hanya karena di masa lalu pernah menjadi menantu Soeharto dan terlebih lagi sepak terjangnya kala masih berseragam militer. Bagi banyak orang, kadang karena cinta menjadikan seseorang melambung tinggi dan kadang pula terperosok lebih dalam.

Kecintaan Prabowo Subianto terhadap militer dan negara pada satu masa menjadikannya begitu cemerlang. Tetapi, bagai seorang pelaut, tidak selamanya ketika berlayar tidak bersua dengan badai. Kecemerlangan Prabowo di dunia militer benar-benar berada dititik nadir, kala Prabowo diberhentikan dari kedinasannya plus menyeret namanya dalam penculikan aktivis.

Sejauh Prabowo melanglang buana di luar negeri, panggilan jiwa untuk mengabdi kepada bumi pertiwi seakan tidak pernah surut, reformasi bergulir dengan kehidupan yang serba demokratis, termasuk urusan memilih presiden. Prabowo kembali mengikuti peruntungannya di dunia politik. Tampaknya pemberhentian dirinya dari kedinasan tidak akan menyurutkan langkah politiknya.


Konvensi Partai Golkar kembali memupuskan langkahnya, seolah Dewi Fortuna lebih berpihak kepada Wiranto. Pengalaman bertempur dengan penguasaan strategi yang mumpuni membuat Prabowo mengambil haluan lain, dengan mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Berdirinya Partai Gerinda menjadi kendaraan politik Prabowo yang strategis.

Pemilu 2009 menjadi ajang bagi Prabowo dan Partai Gerinda menunjukkan tajinya. Jalan terbuka untuk menuju pilpres 2009 pun terbilang terbuka bagi Prabowo. Debutnya di Pilpres 2009 dimulai dengan berpasangan Megawati Soekarnoputri sebagai capres dan Prabowo Subianto sebagai cawapres.

Badai yang berhembus kencang mengakibatkan kapal pasangan Mega-Prabowo tak dapat sandar dengan baik di dermaga KPU. Perahu layar pasangan SBY-Boediono masih begitu tangguh dan kuat menembus amukan ombak.

Mental Prabowo makin teruji dan seolah melekat pada dirinya politisi tangguh, sebab beberapa kali dihempas kekalahan. Tetapi, nyalinya tak pernah terlihat surut sama sekali. Jiwa kesatria yang ditempa semasa pendidikan di Lembah Tidar seakan tak pernah luntur dan lapuk di makan waktu.

Kehebatan dan kelihaian Prabowo bersama Partai Gerindra mulai terlihat ketika pemilihan Gubernur, Wali Kota, dan Bupati. Keberanian Prabowo mengusung figur-figur baru untuk mengisi jabatan politik menunjukkan hasil positif dengan beberapa usungannya berhasil keluar sebagai pemenang pemilu.

Keberhasilan Prabowo dan Partai Gerindra sebagai pengorbit figur-figur baru di panggung politik makin menyita perhatian publik. Bermula ketika mengusung figur Jokowi-Ahok sebagai cagub dan cawagub DKI Jakarta menantang petahana Fauzi Bowo.

Pasangan Jokowi-Ahok terbilang fenomenal sebab keduanya sama-sama berasal dari daerah dan pernah menjadi pemimpin di daerahnya. Jokowi menjabat sebagai Wali Kota Solo saat dicalonkan cagub dan Ahok pernah menjadi Bupati Belitung Timur. Kombinasi keduanya mewakili simbol keragaman di Indonesia.

Sejarah manis kembali dicatatkan Prabowo bersama pengusung pasangan Jokowi-Ahok di Jakarta. Tak berselang lama, keberhasilan itu menunjukkan gangguan-gangguan. Suara lantang Megawati menyebutkan adanya penumpang gelap atas keberhasilan Jokowi-Ahok. Siapakah yang dimaksud Megawati sebagai penumpang gelap?

Kelihaian Prabowo dalam mengusung figur-figur baru dalam panggung politik seakan tak pernah berhenti. Pemilihan Wali Kota Bandung Partai Gerindra dan Prabowo mengusung Ridwan Kamil sebagai jagoannya. Sekali lagi, kelihaiannya berbuah manis. Ridwan Kamil terpilih sebagai Wali Kota Bandung.

Berbekal modal dan rekor kemenangan pada beberapa pemilihan Kepala Daerah membuat Prabowo dan Partai Gerindra berharap dapat mendulung kesuksesan pada pentas pilpres 2014. Suara lantang Megawati soal penumpang gelap tampaknya telah menemui titik terang.

Prabowo harus menerima kenyataan bahwa yang menjadi penantangnya di pilpres tak lain adalah orang yang pernah diusungnya bersama Partai Gerindra di DKI Jakarta. Jokowi sosok penantang yang mungkin tak pernah disangka oleh Prabowo, mengingat kebaikan Prabowo dan Partai Gerindra di Pilkada DKI Jakarta. Tetapi, politik punya hitungan dan kalkulasi sendiri.

Kemenangan Jokowi menjadi catatan tersendiri bagi Prabowo dalam perjalanan karier politiknya. Konsistensi Prabowo dan Partai Gerinda seakan tak pernah luntur hanya dengan mengalami kekalahan di pilpres.


Setidaknya dari geliat dan gerakan politik Prabowo bersama Partai Gerindra masih tetap menunjukkan perlawanan. Konsistensi untuk kembali di jalur kemenangan kembali ditunjukkan Prabowo di Pilkada DKI Jakarta dengan mengusung Anies-Sandi.

Percobaan keberuntungan Prabowo dan Partai Gerindra dengan mengusung Anies-Sandi kembali terbukti bertuah. Kemenangan DKI Jakarta yang berhasil mengalahkan Ahok sebagai petahana seolah menjadi bukti bahwa Prabowo memiliki tangan dingin soal mengorbit figur menduduki jabatan politik.

Tulisan ini tidak dimaksudkan membela Prabowo, tetapi hanya menganalisis sepak terjangnya dalam mengusung figur-figur politik. Bukan berarti publik mesti menutup mata dengan kondisi pasca-Pilpres 2019 yang kembali menjadikan Prabowo sebagai pihak yang kalah dan seruan-seruan yang bisa mengancam keutuhan bangsa dan negara.

Sembari publik menaruh harapan bahwa Prabowo masih memiliki potensi untuk kembali berbuat baik kepada negeri dan bangsa ini, Prabowo mesti menyeru kepada massa pendukungnya untuk tidak bertindak dan berbuat yang bisa memprovokasi serta menyulut emosi massa. Hari-hari ini publik menanti kebaikan Prabowo untuk menyejukkan suasana pasca-pilpres.

Artikel Terkait