Penulis
3 bulan lalu · 1733 view · 4 min baca · Cerpen 97400_74734.jpg

Prabowo, AHY dan Tukang Mi Ayam

Tepat pukul 20.19 WIB saya turun dari Busway di Terminal Pinang Ranti Jakarta Timur. Andai tak ada keperluan mendesak, enggan rasanya untuk meninggalkan tarawih berjamaah di Mushalla dekat rumah.

Sayang membuang kesempatan untuk meningkatkan ibadah di bulan Ramadan ini, karena belum tentu tahun depan saya masih bertemu dengan bulan Ramadan, atau bahkan hari raya Idul Fitri tahun ini, karena kita tidak akan pernah tahu kapan kematian akan datang.

Niat untuk melanjutkan perjalanan terpaksa saya urungkan, karena cacing dalam perut mulai berdemo menuntut keadilan. Meski tanpa perang hastag di media sosial seperti #WormPower atau #GerakanKedaulatanCacing dan tanpa teriakan takbir, saya tetap mengabulkan keinginan mereka, karena memang semenjak buka puasa tadi baru terisi lontong dan gorengan serta segelas air mineral.

"Mi ayamnya satu, Pakde! sambalnya sedikit aja, daun bawangnya dibanyakin!" pinta saya kepada seorang lelaki paruh baya penjual mi ayam gerobak yang mangkal di seberang terminal.

Duduk sendiri di bangku kayu panjang di bawah pohon tepat di depan bengkel sepeda motor yang sudah tutup, sambil sesekali memerhatikan kendaraan yang lalu lalang, saya iseng membuka percakapan,"Kemarin pilpres pilih siapa, De?"

Dilalah-nya, bukan menjawab pertanyaan saya, pakde penjual mi ayam ini malah langsung berceloteh panjang lebar tentang dinamika politik kekinian termasuk "gerakan 22 Mei", rupanya demam politik sudah melanda segala kalangan.

Ada hal menarik dari cerita pakde penjual mi ayam yang lupa saya tanyakan siapa namanya ini, yaitu seputar isu kampanye pilpres 2019 di daerah tempat tinggalnya.

Ia tinggal di belakang terminal Pinang Ranti  yang termasuk kedalam Wilayah Kecamatan Makasar, yang semua TPS-nya dimenangkan oleh Jokowi, berbanding terbalik dengan yang terjadi di kampung seberangnya, yang hanya dipisahkan oleh jalan pintu II TMII, yaitu Kelurahan Lubang Buaya Kecamatan Cipayung yang semua TPS-nya dimenangkan oleh Prabowo.

Perbedaan itu disebabkan oleh adanya isu sederhana yang dikembangkan di wilayah masing-masing. Di Lubang Buaya: Jika Prabowo menang maka Taman Mini akan kembali kejayaannya seperti jaman Orde Baru dan Televisi Pendidikan Indonesia akan "hidup" lagi menyusul kemenangan Tutut Soeharto atas Harry Tanoe dalam perkara sengketa lahan dan perusahaan TPI (MNC TV). Yang akan membawa dampak ekonomi secara langsung termasuk terbukanya lapangan kerja.

Sementara itu, di wilayah Pinang Ranti: jika Prabowo menang, maka wilayah Pinang Ranti akan digusur, karena sejatinya wilayah tersebut memang milik Yayasan Harapan Kita yang akan digunakan untuk perluasan areal TMII, tentu saja mereka tidak mau kehilangan lahan yang mereka tempati secara cuma-cuma selama lebih dari 22 tahun.

***

Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY memang berpangkat Mayor dalam karir militernya, akan tetapi sikap gentle dan sportif yang  Ia tunjukkan adalah "bintang empat", tidak perlu menunggu hasil penghitungan resmi dari KPUD Provinsi DKI Jakarta, cukup dengan melihat hasil quick count, AHY mengakui kekalahannya dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Secara ksatria dan lapang dada saya menerima kekalahan di Pilkada DKI Jakarta," begitu ucapan AHY di Posko Pemenangan Agus-Sylvi, di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (15/2/2017).


Selain mengakui kekalahannya,  AHY juga memberi ucapan selamat atas keunggulan dua rival politiknya yang akan bertarung di Pilkada DKI putaran kedua, yaitu pasangan Ahok-Djarot, dan pasangan Anies-Sandi.

Menerima kekalahan dengan legowo adalah hal baru di Jagat perpolitikan Indonesia, Tren positif dan contoh yang baik dari AHY tersebut, harusnya menjadi warna baru dalam budaya politik Indonesia.

Jalan masih panjang bagi AHY, jika saja Ia mau berguru pada seniornya yang merupakan satu-satunya Presiden Indonesia yang berhasil menjabat selama dua periode dan mampu menyelesaikan masa jabatannya dengan mulus sesuai konstitusi, serta mampu menjaga konsistensi sikap ksatrianya tersebut, maka jabatan Ketua Umum Partai Demokrat bisa dipastikan berada dalam genggamannya sekaligus menjadi salah satu kandidat Calon Presiden yang akan berlaga di Pilpres tahun 2024.

***

Seorang lelaki dengan senyuman yang lebar dan dengan tangannya sendiri membereskan barang-barang pribadinya lalu mengemasnya kedalam satu kardus mie instant.


Bukan sebuah pencitraan peristiwa yang terjadi pada awal bulan Mei 2007 di ruangan Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), melainkan sikap legowo yang Ia tunjukkan atas pemberhentian dengan hormat dirinya sebagai Menteri, dikarenakan keberadaanya dalam Kabinet tidak lagi sebagai refresentasi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menyusul konflik internal PKB dan kepindahannya ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Kenangan tersebut seolah kembali hadir pada Kamis malam 14 Februari 2019 di Gedung Grahadi Surabaya saat Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) menghadiri acara Tasyakuran atas Pelantikan Khofifah Indar Parawansa sebagai Gubernur dan Emil Dardak sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur. Kehangatan dan keakraban dua tokoh Jatim ini seakan melenyapkan fakta bahwa keduanya pernah terlibat dalam perseteruan politik yang sengit dan bertarung pada Tiga kali Pilgub Jatim.

Pertama pada Pilgub Jatim 2008 Gus Ipul mendampingi Soekarwo, sedangkan Khofifah menggandeng Brigjen TNI (Purn) Mudjiono. Berikutnya pada Pilgub Jatim 2013, Gus Ipul tetap mendampingi Soekarwo sekaligus memasuki periode kedua, sedangkan Khofifah memilih menggandeng mantan Kapolda Jatim Irjen Pol (Purn) Herman S Sumawiredja.

Pada dua kali Pemilihan Gubernur tersebut, Gus Ipul menang dan berhak menjadi Wakil Gubernur Jatim dua periode, akan tetapi pada tahun 2018  Khofifah yang berpasangan dengan Emil dardak berhasil mengalahkan Gus Ipul yang berpasangan dengan Puti Guntur Soekarno.

"Wis wayae (sudah saatnya, red), Bu Khofifah" ucap Gus Ipul dengan senyum lebarnya yang khas sekaligus Ia menjadi tamu terakhir yang berpamitan pada acara tersebut. Andai setiap pergantian pemimpin di Negeri ini bisa meneladani sikap mereka berdua, tentu akan sejuk kehidupan demokrasi kita.

***

"Lha terus pakde pilih siapa?" Tanya saya.

"Lha yo kuwi" jawabnya singkat. 

"Siapa, Dhe?" 

"Yo, kuwi".

Saya membalasnya dengan senyum dan tidak ingin melanjutkan pertanyaan, Karena tujuan saya hanya sekadar menggodanya. Dari gaya dia bercerita dan dari gambar stiker yang menempel di gerobak mi ayam miliknya, sudah bisa dipastikan bahwa yang dimaksud dengan "Yo kuwi" adalah Jokowi.

Hanya saja yang membuat saya sedikit heran ialah keengganannya untuk berterus terang menunjukkan sikap politiknya. Entah karena tampang saya yang lebih ganteng daripada Sandiaga Uno atau karena penampilan saya yang mirip Dilan sehingga dianggapnya saya ini adalah seorang intel atau aparat. Atau mungkin juga ada kekhawatiran dalam dirinya, takut dikatakan sebagai Muslim yang tidak shaleh jika tidak memilih Capres hasil ijtimak ulama.

Artikel Terkait