Di masa Pandemi COVID-19, seluruh kegiatan seolah-olah berubah dari biasanya. Dimulai dari slogan #WFH ( work from home), PSBB, PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) untuk pelajar maupun mahasiswa, lalu social distancing yang seharusnya terus dipatuhi dikarenakan virus yang belum dapat dikendalikan hingga saat ini. Rumah sakit dipenuhi pasien COVID-19, bahkan wisma atlet telah “disulap” menjadi rumah sakit dadakan.

Dapat kita rasakan dampak yang ditimbulkan oleh pandemi ini dari kesehatan hingga perekonomian. Banyak UMKM yang harus gulung tikar dan PHK di mana-mana. 

Pemerintah memang sudah bahu-membahu berusaha meminimalisir dampak tersebut. Tetapi, ada pekerjaan rumah lain yang menanti pemerintah, yaitu timbulnya ledakan kelahiran bayi di masa pandemi COVID-19. Kelahiran ini sangat erat kaitannya dengan program keluarga berencana.

Keluarga berencana adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran, dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi. Gerakan ini sudah dicanangkan sejak era Orde Baru pada tahun 1970-an yang bertujuan untuk menggunakan alat kontrasepsi, menurunnya jumlah angka kelahiran bayi, dan meningkatnya kesehatan keluarga berencana dengan cara penjarangan kelahiran.

Program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia salah satu program KB yang diakui paling berhasil di dunia. Pada era Orde Baru, program ini menjadi prioritas dan program pemerintah. 

Menurut sensus penduduk, pada tahun 1980-1990 pertumbuhan penduduk mengalami penurunan sebesar 1.98%, dan penurunan ini berlanjut hingga tahun 2000-an. 

Pada tahun 1970, program Keluarga Berencana ini berhasil menurunkan angka kelahiran di Indonesia dari 5.7 anak per keluarga pada tahun 1960 menjadi 2.45 anak per keluarga pada tahun 2020. Walaupun belum memenuhi target yaitu 2.1 anak per keluarga, setidaknya program ini berhasil memangkas lebih dari 50% angka kelahiran setelah menempuh 50 tahun program ini berjalan.

Apa Kabar Program Keluarga Berencana di Masa Pandemi COVID-19?

Pandemi COVID-19 menyebabkan program keluarga berencana mengalami kemunduran. Kepala BKKBN Republik Indonesia, Hasto Wardoyo mengungkapkan bahwa di tingkat nasional, presentase kehamilan yang tidak di kehendaki mencapai 17.5%. 

Dapat diartikan bahwa dari 100 orang hamil, terdapat 17 orang yang mengalami kehamilan yang tidak disengaja. Bahkan sudah diperkirakan pada awal tahun 2021 ada tambahanhingga 500 ribu kelahiran. Angka kelahiran naik sebesar 10% . 

Padahal Indonesia telah menempati peringkat keempat tertinggi dalam angka kelahiran dengan populasi hampir 270 juta jiwa. Peningkatan angka kelahiran secara signifikan memicu terjadinya baby boom”.

Penyebab Angka Kelahiran Meningkat Secara Signifikan

Secara umum penyebab angka kelahiran meningkat yaitu struktur umur, tingkat pendidikan, umur pada waktu kawin pertama, banyaknya perkawinan, status pekerjaan wanita, penggunaan alat kontrasepsi, dan pendapatan/kekayaan. 

Mengingat saat ini berada dalam situasi pandemic COVID-19, penyebabnya semakin kompleks, seperti kekhawatiran akseptor KB untuk menggunakan fasilitas kesehatan, terhambatnya akses menuju tempat pelayanan KB karena diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar, dan kurang efektifnya program penyuluhan secara online bagi masyarakat yang tinggal di daerah yang tidak terjangkau internet. 

Meningkatnya jumlah kehamilan di era pandemic COVID-19 disebabkan oleh penurunan angka pelayanan KB.

Jika angka pelayanan KB menurun, penggunaan alat kontrasepsipun menurun. Tercatat bahwa penggunaan alat kontrasepsi seperti IUD (intrauterine device), KB implant, KB suntik, KB metode pil, kondom, vasektomi, dan tubektomi menurun hingga 40% dalam kurun waktu yang cukup singkat. Slogan “dua anak lebih baik”  seolah-olah luntur semenjak masa pandemi COVID-19.

Angka kelahiran yang meningkat secara dahsyat ini menimbulkan dampak yang signifikan bagi negara. Jika angka kelahiran meningkat menyebabkan pertumbuhan penduduk menjadi tinggi. Apabila angka kelahiran tidak terkendali maka jumlah penduduk akan semakin besar. Padahal, jumlah penduduk yang besar di negara kita belum tentu diimbangi dengan kualitas sumber daya manusianya. 

Jika belum berimbang dengan kualitas SDM yang baik maka fenomena “baby boom”  berangsur-angsur akan menjadi beban bagi pembangunan Indonesia.  Dampak untuk jangka panjang, seperti permasalahan ketenagakerjaan, ketahanan pangan, dan kemiskinan.

Pada kenyataannya saat ini masih terjadi ketidakseimbangan lapangan pekerjaan dengan tenaga kerja, mengakibatkan tingkat pengangguran meningkat. Jika tingkat pengangguran meningkat akankah terjadi peningkatan dalam tingkat kemiskinan negara kita?

Dalam permasalahan ini BKKBN mengembangkan aplikasi “KLIK KB” yang bertujuan untuk meningkatkan akses bagi akseptor KB untuk mendapatkan informasi dan konseling terkait program KB ditengah pandemi COVID-19. Aplikasi tersebut untuk menghubungkan secara langsung antara akseptor KB dengan bidan dan akseptor KB mendapatkan informasi sekaligus konseling terkait program KB.

Pada kenyataannya belum banyak orang yang cakap teknologi, bahkan jaringan internetpun jangkauannya tidak merata. Berbagai cara dapat ditempuh pemerintah untuk mengendalikan kelahiran, seperti memberikan sosialisasi dengan menyeluruh tentang penggunaan aplikasi “KLIK KB”. 

Sosialisasi tersebut bisa melibatkan komunitas-komunitas yang dekat dengan masyarakat atau melibatkan kegiatan PKK karena sangat erat kaitannya dengan para ibu atau melibatkan sosok-sosok yang berpengaruh dalam media sosial. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat #WFH dan PSBB mayoritas masyarakat mengakses sosial media. Pemerintah harus memberikan inovasi-inovasi baru sehingga pelayanan KB efektif kembali dan dapat menahan pertumbuhan penduduk yang luar biasa. 

Permasalahan ini tidak hanya berefek pada era pandemi, tetapi berdampak hingga pandemi ini rampung. Walaupun, saya tidak tahu kapan akan berakhir pandemi ini.