"Pendidikan adalah sebuah senjata untuk mengubah dunia." Begitulah kira-kira kutipan kata-kata dari Nelson Mandela. Satu kalimat sederhana yang menyadarkan saya bahwa pendidikan adalah sesuatu yang substansial dalam kehidupan. 

Betapa senangnya saya ketika mengetahui Nadiem Makarim ditunjuk menjadi Menteri Pendidikan dalam Kabinet Indonesia Maju 2019-2024. Alasannya mudah karena saya sangat kagum dengan karyanya yang luar biasa mengubah. 

Jika menilik kembali quotes di bagian pembuka tulisan ini, saya berpikir bahwa ada banyak sekali tugas yang harus diselesaikan oleh Nadiem sebagai Menteri Pendidikan. 

Pendidikan di Indonesia adalah hal yang cukup pelik. Banyak sekali kontroversinya. Mulai dari urusan teknis seperti pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia, sampai hal kemanusiaan yang terjadi di sekolah, misalnya ospek yang memakan korban jiwa, murid melawan gurunya, dan lain sebagainya. 

Saya bukan dari kalangan pengamat pendidikan, bukan pula akademisi, tetapi saya merasa pendidikan adalah hal yang sangat penting. Pendidikan yang saya maksud di sini tidak sesempit mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, tetapi lebih mengarah kepada pendidikan secara seluruhnya. 

Entah bagaimana saya memiliki harapan yang begitu besar dengan hadirnya Nadiem Makarim ke dalam pendidikan di Indonesia. Harapan saya, pendidikan bisa menjadi fondasi yang kuat untuk kemajuan negeri ini. 

Mari kita mulai dengan contoh yang paling sederhana dan paling mudah, tetapi sulit untuk dilakukan. Apakah itu? Antre. 

Jujur, saya adalah orang yang paling kesal ketika antrean saya diserobot. Mungkin saya bukan satu-satunya orang yang kesal dengan hal itu. Tetapi apa kaitannya dengan pendidikan? 

Jika kita berefleksi dengan contoh di atas, bukankah sebetulnya kita sudah diajarkan untuk antre baik, benar, dan sopan dengan cara baris berbaris untuk memasuki kelas ketika semasa taman kanak-kanak? Bukankah itu hal yang sangat mudah untuk dilakukan?

Hal semudah itu rupanya sudah dilupakan oleh orang-orang dewasa. Mungkin mereka yang tidak bisa melakukan harus kembali lagi belajar dengan anak-anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Persoalan itu memang sepele, tetapi itu adalah suatu bentuk menghormati orang lain. 

Saya curiga bahwa rupanya hal-hal kecil yang yang diajarkan selama masa sekolah sudah dilupakan begitu saja ketika beranjak dewasa. 

Sungguh saya bertanya-tanya kepada diri saya sendiri. Apakah selama dua belas tahun di sekolah sebetulnya kita hanya mengejar peringkat dan nilai saja? Apa yang sebetulnya menjadi tolak ukur keberhasilan dalam sebuah pendidikan? 

Kemudian saya mulai kembali menggali dan flashback tentang pendidikan yang sudah saya jalankan selama dua belas tahun mulai dari SD sampai SMA. 

Dan benar saja adanya bahwa selama SD sampai SMP saya hanya mengejar nilai dan peringkat. Sudah belajar di sekolah dari pukul tujuh pagi sampai jam dua siang masih ditambah dengan les mata pelajaran di luar. 

Kemudian muncul pikiran saya bahwa mungkin nilai dan peringkat adalah gambaran materi yang didapat ketika kita bekerja. Berapapun nilainya dan peringkatnya rupanya sudah ditanamkan dalam bahwa saya tidak boleh puas dengan apa yang sudah saya raih, dua hal itu harus selalu sempurna. 

Tetapi hal itu berubah seutuhnya ketika saya memasuki jenjang pendidikan SMA. Beruntung sekolah saya tidak pernah menjadikan nilai sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan. 

Saya menempuh pendidikan menengah atas di SMA Kolese De Britto, Yogyakarta. Sekolah katolik milik serikat pastur Yesuit. Sekolah ini sangat terkenal dengan seluruh siswanya laki-laki, berambut gondrong, dan sebagian besar susah diatur, tetapi pintar. 

Selama masa SMA, saya tidak pernah merasa sangat tertekan dengan nilai yang jelek. Hal ini sama sekali tidak berarti nilai akademis bukan hal yang penting tetapi tujuan pendidikan itu sendiri yang lebih penting. Lalu apa tujuannya? Jawabannya adalah karakter. 

Semakin ke sini saya merasa sangat beruntung pernah menjadi siswa di sekolah itu. Banyak hal yang berubah dalam diri saya, termasuk orientasi pendidikan yang sebelumnya saya percaya, kemudian berangsur-angsur bergeser. 

Karakter adalah hal yang paling mendasar dalam sebuah pendidikan. Jika diibaratkan sebagai rumah, maka karakter adalah fondasinya. Kita tidak akan pernah membangun sebuah atap tanpa fondasi. Jika fondasi tidak kuat, bangunan akan menjadi mudah runtuh ketika angin menerpa. 

Bayangkan jika itu bangunan itu adalah seseorang, bukankah itu akan menjadi sebuah ironi kehidupan? 

Saya sungguh bisa memahami bahwa pendidikan karakter tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Prosesnya sangat panjang dan melelahkan. Kadang bagi saya pribadi justru terasa menyebalkan. Bahkan dalam saat tertentu, kita juga harus membuat orangtua peserta didik paham dengan hal itu. 

Guru SMA saya pernah mengatakan bahwa ketika ada seseorang yang dididik melakukan kesalahan yang sama, seorang pendidik tidak boleh lelah untuk mengingatkan apalagi meninggalkannya, tetapi dia wajib mendampingi sampai dia berhasil melakukan tugasnya dengan benar. Di situlah letak pendidikannya. 

Sekali lagi, tujuan pendidikan adalah karakter, bukan dari besarnya nilai, peringkat di sekolah, atau akreditasi sekolah itu sendiri. Jika kembali kepada analogi mengenai bangunan, hal-hal itu tidak bisa menjadi jaminan bangunan tersebut akan kuat. 

Saat ini Indonesia tidak dalam keadaan urgen membutuhkan orang-orang yang memiliki nilai bagus di sekolah, tetapi Indonesia sangat membutuhkan generasi yang berkapasitas sesuai dengan pembukaan UUD 1945. 

Generasi yang bisa melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Terlepas dari program-program positif yang disusun oleh Nadiem Makarim, saya bisa membayangkan jika Nadiem Makarim harus menjalankan misi tersebut sendirian dari Sabang sampai Merauke. 

Kalau beliau bisa mengubah gaya hidup banyak orang dengan Gojek, seharusnya Nadiem juga memiliki daya yang sama untuk pendidikan.