Dari sejak menduduki Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Lanjut Tingkat Atas (SLTA), kita sebagai murid tentunya sudah tidak asing lagi dengan yang namanya PR alias 'Pekerjaan Rumah'. Ya, walupun ujung-ujungnya jadi PS (Pekerjaan Sekolah).

Sebagai perempuan yang masih duduk di bangku sekolah, mana ada terpikir PR mengenai persoalan perempuan. Sampai saatnya ketika saya menduduki bangku kuliah, mulai dibenturkan dengan permasalahan-permasalahan ideologi.

Diskusi dan literasi mulai meawarnai hari-hari saya. Yang dulunya enggak suka, sekarang mau tidak mau harus dipelajari. Karena ini adalah kebutuhan, ini adalah bekal untuk mengerjakan PR-PR kehidupan, khususnya persoalan perempuan. 

Di kampus, saya mengikuti Komunitas Perempuan Berdaulat. Dari situ saya mulai belajar mengenai persoalan-persolan perempuan.

"Membicarakan perempuan memang tidak ada habisnya, banyak sekali permasalahan yang dialami perempuan; dari mulai pelecehan, pemerkosaan, victim blaming, komoditas tubuh perempuan, belum lagi perempuan yang menjadi korban kekerasan namun tidak berani speak up, ditambah dominasi patriarkal yang memaksa perempuan untuk tunduk pada konstruksi sosial dan keadilan gender yang hingga detik ini benar-benar belum bisa sepenuhnya tercapai.

Ini hanya sebagian, tetapi begitu menyakitkan. Tentunya masih banyak lagi permasalahan-permasalah yang dialami perempuan dan hingga saat ini belum terselesaikan," ujar Founder Perempuan Berdaulat dalam salah satu kajian.

Setelah beberapa kali mengikuti kajian, sepertinya saya mendapatkan hidayah berupa kesadaran. Walaupun tidak sepenuhnya sadar, setidaknya saya mulai berpikir tentang perempuan, karena saya sendiri adalah seorang perempuan.

Saya bukanlah perempuan baik, bukan pula perempuan hebat. Saya hanyalah perempuan yang baru menyadari betapa banyaknya persoalan perempuan yang belum terselesaikan. Belum lama sadar, kesadaran ini mengantarkan saya pada pertanyaan;

"Memangnya, kalau saya sadar, saya bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan perempuan yang begitu banyak? Memangnya siapa saya? Hanya seorang perempuan".

Kesadaran ini berhasil membuat perasaan saya campur aduk, perasaan malu dan bersalah karena tidak bisa menolong perempuan lain, namun di sisi lain muncul kobaran api semangat untuk ikut memikirkan persoalan-persoalan perempuan.

Pertanyaan di atas menenggelamkan saya pada perenungan yang lebih dalam.

"Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana bisa saya enak-enakan dan hidup tenang sedangkan perempuan-perempuan lain merasakan ketidakadilan, direndahkan, dilecehkan dan lain sebagainya."

"Apakah saya pantas memikirkan ini? Padahal selama ini, saya hanya membuang-buang waktu, menghabiskan uang dan bersenang-senang. Memberdayakan diri sendiri pun belum bisa, apalagi memberdayakan perempuan-perempuan lain". (Tamparan yang sangat keras).

Akhirnya saya memutuskan untuk menyelesaikan masalah yang ada pada diri sendiri, masalah kesadaran untuk memberdayakan diri sendiri. Karena setelah selesai dengan diri sendiri, setidaknya perempuan bisa speak up ke public untuk menyuarakan bagaimana segala bentuk marjinalisasi, subordinasi, kekerasan dan ketidakadilan yang terjadi pada perempuan.

_ _ _ _

Dear para perempuan di mana pun kalian berada; hidup kita bukan hanya soal perasaan, percintaan dan penampilan semata. Sering kali kita terjebak dan luput untuk memberdayakan diri sendiri.

Sadar tidak sadar, ketidaksadaran itu menjatuhkan, kita direndahkan sedangkan kita tidak sadar, kita bodoh dan dibodohi karena kurangnya kesadaran. Bisa-bisanya kita hanya memikirkan skincare (merawat wajah) agar terlihat cantik demi menyenangkan mata laki-laki, bisa-bisanya kita membuang waktu hanya untuk mencari perhatian laki-laki.

Dengan setengah kesadaran, saya mengajak seluruh perempuan di mana pun kalian berada, untuk saling sadar menyadarkan. Kita sebagai perempuan harus bersatu dalam menyuarakan keadilan dan perdamaian, bukan saling menjatuhkan.

 _ _ _ _

Kesadaran yang menggebu-gebu ini kembali menenggelamkan saya pada sebuah perenungan baru; "Baru ikut kajian beberapa kali aja kok udah sok banget sih?". Lagi-lagi semangat dan pesimis bercampur aduk dalam pikiran saya. 

Dan yang harus saya lakukan adalah terus belajar dan belajar terus, penuhnya pengetahuan akan membantu saya dalam kebimbangan. Tepatnya bukan saya tapi "kita" (perempuan), mari lanjutkan cita-cita pejuang perempuan dalam memperjuangkan kemerdekaan (perempuan).

Kita belum merdeka selagi masih bergantung dengan hal-hal unfaedah (tidak berfaedah), seperti skincare, fashion, body goals dan chat doi. Hadeuh. 

Bukannya tidak boleh memikirkan hal-hal tersebut, sebagai perempuan kita juga berhak membahagiakan diri sendiri, berdandan, bergaya dan merawat wajah untuk kesenangan sendiri, kita bebas memilih mau bagaimana kita hidup.

Hanya saja, apa peran kita sebagai perempuan ? konstruksi sosial yang menempatkan perempuan dalam ranah domestik tidak bisa seenaknya membelenggu perempuan dalam melangkah. Sumur, dapur, kasur bukan takdir mutlak kita, itu hanya konstruksi sosial. Kita bisa keluar dan melangkah lebih jauh lagi. 

Lalu kita harus bagaimana ? sebagai perempuan cerdas kita harus bisa menyeimbangkan peran; dalam sektor domestik dan juga public. Tapi sebelum berperan kita harus sudah selesai dengan diri kita sendiri.

Sedikit curhat. Sebagai jomblo, saya secara tidak sengaja memperhatikan kawan-kawan sekitar saya, sepertinya mereka terkena virus corona bucinisme. Miris juga, walaupun sama-sama miris; saya jomblo dan kalian bucin (budak cinta). Hahaha.

Tapi intinya, baik jomblo maupun memiliki pasangan, sebagai perempuan kita harus pintar dalam memberdayakan diri sendiri. Jangan menjadi perempuan bodoh ! jangan bodoh jadi perempuan ! ngerti ?.

PR awal bagi kita adalah menyelesaikan (memberdayakan) diri sendiri, dengan belajar; bagaimana menjadi perempuan yang cerdas mencerdaskan, hebat menghebatkan dan kuat menguatkan. Minimal perempuan bisa berdaya dari segi pemikiran, talenta, finansial dan lain sebagainya.

Ini adalah salah satu gerakan perempuan dalam memberantas beberapa persoalan seperti; kebodohan, kemiskinan dan stigma laki-laki terhadap perempuan. 

Semakin banyak perempuan yang sadar, semakin banyak yang mengerjakan PR, bukankah menyenangkan mengerjakan PR bersama ?. Kesadaran ini bisa membuat perempuan selangkah lebih maju dari keterpurukan. Salam berdaulat.