“Tulisan ini sebagai refleksi kecil atas sejarah dunia, sejarah Indonesia, bahwa kita pernah melalui krisis sedemikian berat dan hidup harus tetap berlanjut. Kendati kita tahu bahwa kematian menggentayangi dalam rupa wabah, namun kehendak yang membuat kita sadar betapa dekat kita dengan kematian, dan betapa jauh kita dengan hidup.”

Pandemi di Indonesia, PPKM 

Hari ini, 16 Juli 2021, Covid 19 belum mereda, hidup semakin meradang, pemerintah terus berdendang. Sekarang kita dipaksa menghadapi Covid melalui kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah yaitu PPKM. 

Tak lama, kebijakan ini banyak menuai pro dan kontra. Saling menyalahkan antara pemerintah dan masyarakat pun tak terelak. Di sis lain kita dihadapkan dengan situasi sosial yang semakin kacau. 

Penulis tidak hendak menyalahkan sebagian atau seluruh pihak. Namun, perlu disadari bahwa memang masing-masing pihak secara elementer memiliki kehendaknya masing-masing.

Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan PPKM demi menghambat penyebaran virus yang begitu cepat. Langkah ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan PSBB yang telah dilakukan tahun lalu. 

Hanya saja, bersama pihak-pihak berwajib, PPKM dijalankan begitu ketat. Toko-toko ditutup, warung dan tempat makan hanya bisa melayani pesan antar, dsb. Di sisi lain pemerintah seolah menghindari term “karantina” untuk menghindari Undang-Undang darurat kesehatan serta segala kewajiban yang harus dipenuhi atas tuntutan Hukum yang berlaku. 

Penyebaran virus yang begitu cepat juga dimungkinkan atas dasar masyarakat yang selama ini tidak cukup patuh terhadap protokol kesehatan. 

Kita dapat melihat selama masa sebelum pengetatan terulang, orang-orang masih banyak berkumpul dalam satu ruangan tanpa masker, tidak menjaga jarak, bahkan sama sekali tidak menggunakan masker. 

Kesadaran yang ada atas kesehatan baik secara individual maupun komunal masih belum tumbuh dengan baik. Meski, dapat diapresiasi sebagian masyarakat lain juga mau bergotong royong menghadapi situasi pandemi ini supaya dapat mengadakan kehidupan bersama yang baik.

Selama kebijakan PPKM diberlakukan, banyak efek yang seketika itu juga terasa, baik secara ekonomi, sosial, psikis, dsb. 

Di sisi ekonomi, banyak terjadi pengurangan upah karena jam kerja yang dipotong akibat kebijakan PPKM, secara sosial kita menghindar dari pertemuan tatap muka dan interaksi secara langsung. 

Secara psikis kita akan sangat drop karena kondisi yang begitu buruk dalam berbagai aspek. 

Konsekuensi semacam ini yang kemudian mengharuskan kita untuk tetap bertahan hidup bagaimana pun caranya. Harus tetap mencari uang supaya dapat menafkahi keluarga, tenaga kesehatan harus tetap berjaga demi orang-orang yang sedang sakit juga tuntutan profesional, dsb.

Scopenhauer dan Kehendak sebagai Daya Hidup

Masing-masing dari kita perlu menyadari bahwa kita secara partikular didorong oleh kehendak. Kehendak yang memberi kita dorongan untuk bertahan hidup di situasi apapun. Kehendak yang memberi kita rasa serakah, dengki, atau sebaliknya, berbuat baik. Tidak ada yang bisa melampaui kehendak. 

Kehendak telah berubah menjadi kepentingan diri, baik itu egoisme individual maupun aktualisasi diri. Salah satu filsuf yang berbicara betapa mengerikannya dunia, dan kita yang selalu jatuh pada tirani kehendak adalah Arthur Schopenhauer.

Arthur Schopenhauer berpandangan bahwa basis kehidupan manusia adalah kehendak. Kehendak melebur ke dalam hakikat manusia, melampaui rasionalitas. Kehendak menjadi daya hidup manusia, yang menggerakkan keseluruhan elemen yang menyusun unsur-unsur dalam diri manusia. 

Kendati demikian, rasionalitas juga merupakan bagian dari hakikat manusia, namun sejatinya rasionalitas hanya terdapat pada luaran konsepsi metafisis atas manusia. 

Rasio manusia ditentukan oleh kehendaknya, karena kehendak bekerja di luar kesadaran, berbeda dengan rasio. Kita dapat berpikir sesuatu tapi kita tidak mungkin memikirkannya bila kita tidak menghendaki untuk memikirkannya.

Kehendak, dalam hal ini, merupakan substansi dari keseluruhan hal-hal yang ada. Ia tidak saja merupakan pendorong aktivitas manusia, tetapi kehendak juga menjadi pendorong bagi gerak alam semesta dalam wujud kehendak dunia. 

Kehendak kemudian menjadi daya hidup, “roh” pendorong, dalam dunia. Manusia di dalam dunia, tentu akan didorong oleh kehendak, juga segala hal yang ada di dalam dunia. 

Pengertian kehendak dalam hal ini sebagai kehendak untuk hidup, "daya hidup", dan tidak ditempatkan sebagai kehendak yang partikular. Demikian, kehendak bisa dikatakan sebagai hakikat dari segala hal, ia menjadi substansi dari kehidupan dan atasnya ia mengendalikan segala hal bagai, arus yang terus mendorong.

Secara aktual, kita dapat melihat kehendak yang ada di dalam manusia melalui wujudnya sebagai hasrat seksual. Hasrat seksual ini adalah manifestasi kehendak untuk mendorong manusia menginginkan proses reproduksi/kawin supaya tetap dapat melanjutkan keturunan serta hidupnya. 

Lebih halus, orang sering kali menamainya cinta. Cinta ini lah manifestasi kehendak supaya manusia terdorong untuk melestarikan spesiesnya, menghindari kepunahan, menghindari kematian. 

Tak hanya manusia, dorongan kehendak untuk saling mencintai/hasrat seksual ini juga berlaku dalam alam non rasional seperti tumbuhan juga hewan.

Bagaimana kemudian kehendak bisa disadari bila ia bekerja di luar kesadaran? Kehendak memberikan kita keinginan untuk bertindak/sebagai penggerak sehingga manusia mampu untuk bergerak dan berpikir. 

Kehendak sebagai penggerak elementer berkembang dari keadaan yang tak sadar menuju keadaan yang sadar melalui kemampuan berpikir manusia. Kehendak memberikan wujudnya dalam rupa fenomena melalui hal-hal di sekitar kita. 

Dunia yang ada merupakan dunia fenomena yang terejawantah dari satu dasar utama yaitu kehendak. Kehendak menjelma menjadi berbagai hal dan wujud yang dapat kita pahami.

Sialnya, kehendak tidak saja menjelma menjadi hasrat yang tunggal. Ia memiliki kawanan hasrat lain yang menuntut untuk dipenuhi. Secara positif, inilah yang membuat manusia memiliki daya hidup dalam kesehariannya. 

Secara negatif, hasrat itu akan terus muncul, dan menuntut. Ketika hasrat dipenuhi, ia akan muncul sebagai hasrat yang lain. Hasrat tidak akan pernah terpuaskan sedangkan manusia memiliki keterbatasan untuk memenuhi keinginannya. 

Di sinilah penderitaan muncul, di mana ketika hasrat yang belum terpenuhi, membuat kegelisahan dan memunculkan hasrat yang lain yang belum tentu dapat dipenuhi juga. 

Maka, sepanjang kita sadar, sepanjang itu pula kita terus diperangkap oleh keinginan-keinginan yang tak pernah terpuaskan. Dari sini kita tak akan mungkin mencapai kebahagiaan dan kedamaian. Kita jatuh ke dalam tirani kehendak.

PPKM dan Perang Kepentingan sebagai Wujud Tirani Kehendak

Lantas, kehendak yang memberikan daya bagi manusia supaya ia terus memiliki hasrat. Hasrat ini berperan penting dalam hidup manusia. Kita diperlihatkan pada bagaimana kehendak yang terwujud dalam bentuk hasrat, menjadi sangat telihat dalam masa pandemi. 

Selama PPKM yang sudah berjalan 13 hari saja (sampai artikel ini ditulis), kita disuguhkan pada berbagai fenomena yang mencerminkan hasrat dan kepentingan seseorang melalui perilakunya. 

PPKM dilanggar karena bantuan sosial belum juga datang yang mengakibatkan orang-orang tetap bekerja dan abai pada PPKM. Di sisi lain bantuan sosial tidak kunjung hadir karena pemerintah masih menyiapkan dan melihat proyeksi keuangan serta kemungkinan terhadap keputusan yang diambil. 

Selain itu ada juga orang-orang yang berebut susu, vitamin, obat-obatan, juga para pedagang yang menjualnya dengan harga tinggi. Apa yang bisa lolos dari tirani kehendak?

Masing-masing memiliki kehendak dalam rupa kepentingan, hasrat, dan lain sebagainya, yang menuntut untuk selalu dipenuhi. Di sisi lain kita juga dapat menyadari bahwa alam bekerja dengan memelihara Covid dengan alasan yang kita belum tahu. 

Namun, yang pasti itu memberikan kita kehendak atas fenomena-fenomena yang terjadi hari-hari ini. Secara individual maupun komunal, kita akan selalu terperangkap untuk mencapai kepentingan diri kita. 

Tanpa sadar kita juga menciptakan penderitaan yang begitu hebat dan meluas, tak hanya bagi diri kita sendiri, tapi juga bagi orang lain. 

Memang hidup adalah penderitaan yang berlarut-larut dan kita tidak mungkin bisa lepas dari jeratan penderitaan tersebut. Tentu selama kita masih didorong oleh hasrat dan tuntutan kehendak lainnya yang terus kita ikuti secara membabi buta.

Hidup di masa Pandemi a la Schopenhauer

Kendati hidup adalah penderitaan, situasi pandemi ini merupakan penderitaan yang berkepanjangan, lantas kita tak dapa menerima hidup? Banyak pengalaman yang bisa membuat kita menerima hidup kita hari ini. Pertama, adalah melalui seni. 

Seni memberi kita pijakan supaya kita bisa lepas dari siklus keinginan yang tak dapat habis, meskipun hanya bersifat temporal. Schopenhauer menyarankan untuk mendengarkan musik, karena musik merupakan seni terbaik. 

Musik baginya adalah salinan “kehendak”, di mana musik dapat menggerakkan kita begitu dalam. Kita tak hanya dirangsang secara emosional, namun musik juga memberikan kita sekilas kenyataan sebagaimana adanya.

Tiap hari kita disuguhkan oleh kegaduhan yang terjadi di mana-mana selama PPKM, kesedihan terhadap orang-orang yang telah meninggal, kelaparan, kemiskinan karena banyak PHK, dsb. 

Sejenak kita dapat menarik diri dan mendengarkan musik. Melalui itu, kita dapat melihat dengan jernih bagaimana kenyataan begitu menggelisahkan. Ini merupakan titik balik dari kehendak yang masuk dalam kesadaran membawa mengeluarkan seluruh emosi yang ada atas kenyataan yang terjadi. 

Namun tidak hanya musik, kesadaran semacam ini juga menjadi pijakan moral Scopenhauer untuk berperilaku welas asih.

Kesadaran yang muncul setelahnya adalah kesadaran atas hidup bersama di mana kita semua sama-sama hidup dalam dunia yang kelam. Maka, kita tidak boleh melukai satu sama lain. 

Ketika kita melukai orang lain, sebenarnya kita melukai diri sendiri karena kita adalah satu dengan orang lain, dalam satu kekuatan energi yaitu “kehendak”. Welas asih menjadi pesan moral tersendiri dalam menghadapi dunia kehendak. 

Sikap semacam ini juga terinspirasi dari cara hidup asketis, dengan menerima dan mengakui hidup yang penuh kesengsaraan dan penderitaan, mengatakan “Ya!” pada hidup.

PPKM ini menuntut kebersamaan, juga karena kita semua ada pada posisi yang sama berhadapan dengan Covid 19, hidup atau mati. Maka, memang sikap welas asih sangat diperlukan supaya kita bersama dapat menjalani hidup yang sudah sengsara dan sedemikian menderita ini secara bersama-sama. 

Cara hidup asketis juga dapat diterapkan secara individual supaya kita dapat meraih ketenangan di masa PPKM dan pandemi ini. Kita sama-sama tahu situasi pandemi ini begitu menggelisahkan dan kita perlulah tenang agar kita setidaknya dapat merasakan kedamaian dan dapat menjalani hidup.