Jakarta - Satpam atau Security masih terlihat "gali lubang tutup lubang" atau "tambal sulam" mengikuti perkembangan kasus Covid-19 yang meningkat terutama di Indonesia. Artinya kebutuhan customer terkait pengamanan masih melihat peraturan dan kebijakan dari pemerintah atas kondisi berlangsungnya PPKM (Pembatasan Pemberlakuan Kegiatan Masyarakat). Bahkan banyak juga yang di rumahkan sampai dengan pemecatan terhadap anggota Security yang bertugas, karena frekuensi gedung dalam situasi sepi.

Yang paling berdampak adalah bagian pengamanan sektor mall, retail, office, school, univercity, wisata dan sektor keramaian lainnya. Semenjak Covid-19 melonjak dan diberlakukan PPKM sebagian karyawan bekerja dari rumah WFH (Work From Home) sedangkan pusat keramaian lainnya 100 % ditutup seperti sekolahan baik dari taman kanak-kanak sampai tingkat kampus sedangkan tempat wisata dan mall pengunjung dibatasi juga. Dengan demikian dilihat dari sisi bisnis terjadinya pengurangan personil Security, karena aktivitas pengamanan tidak terlalu siginfikan tinggi.
***
Dari pengurangan personil Security tersebut, menjadi keputusan yang membingungkan oleh pelaku bisnis seperti BUJP (Badan Usaha Jasa Pengamanan) atau sejenisnya yang mengelolah pengamanan, untuk kerja sama dengan customer yang membutuhkannya. Kenapa demikian, setiap Secuirty dikembalikan atas pengurangan karena kondisi "PPKM Covid-19" pilihanya antara diakhiri kontrak kerja, dijadikan personil bantuan atau penebalan pengamanan lokasi lain, dirumahkan menunggu informasi selanjutnya, pengurangan pembayaran gaji dan lain sebagainya.
***
Namun ini menjadi kendala, pihak pengelolah pengamanan yang "mengeluarkan cost atau biaya yang besar" untuk menanggung beban biaya security sebelum ditugaskan ke area kerja atau mendapatkan lokasi kerja yang lain. Di pertahankan membutuhkan biaya, sedangkan bila di rumahkan atau di risegnkan, sulit kembali mencari personil Security yang sesuai dengan kriteria sebelumnya. Terutama permintaan customer biasanya menginginkan Security yang sudah pernah ditempatkan lokasi tersebut, ini dalam kondisi tertentu tergantung komunikasi antara pengelolah Security dengan customer yang menggunakan jasa pengamanan tersebut.

Security masa kini sudah menjadi tempat bisnis dan ajang membaca peluang yang bisa memberikan keuntungan kepada kepada semua pihak terutama kepada pengelolah Security. Tidak hanya bisnis semata, namun dari sisi kualitas pelayanan personil Security menjadi utama. Sebab berjalannya suatu bisnis security, tergantung bagaimana security yang bertugas memberikan keamanan secara professional sehingga tercipta rasa aman dan nyaman, dirasakan oleh customernya customer atau istilah B2B2C. Artinya bisa dinikmati oleh kliennya customer yang selalu hadir ditengah-tengah petugas Security.
***
Permintaan customer tentu menjadi pertimbangan khusus dalam memenuhi pelayanan keamanan, karena biasanya "hampir 75 % pengguna jasa pengamanan menginginkan kualitas bagus harga terjangkau". Maksudnya harga security yang murah dan kinerja pelayanan yang memuaskan, inilah yang menjadi dilema oleh pelaku bisnis security mana ada "harga murah dan kualitas bagus" yang paling hanya janji-janji manis saja. Karena kalau sscurity di bayar murah secara otomatis kinerja pasti tidak memuaskan dan tentunya pelayanan keamanan menjadi kurang baik.
***
Kesadaran pelaku bisnis security dan pengguna jasa security menjadi tolok ukur untuk kinerja dan kualitas pelayanan yang professional. Sebab, ujung-ujungnya pasti lari kepada penghasilan atau gaji yang diterima setiap bulannya, masih banyak security Indonesia di obral murah dengan bayaran dibawah UMP/UMR. Inilah menjadi anggota security tidak fokus menjalankan tugas diarea kerjanya karena penghasilan tidak mencukupi, yang kemungkinan terjadi security mengharapkan imbalan atau uang tips atas jasa pelayanan pengamanan yang diberikan "ya lama-kelamaan tidak ikhlas membantu dan menolong customer karena tidak mendapatkan imbalan atau uang tips dari customer tersebut".  
***
Analisa kedepan bisa saja security menjadi "duri dalam daging" artinya melakukan tindakan dan perbuatan yang tidak menyenangkan bahkan hal terburukpun bisa terjadi seperti contoh bukan mengamankan justru mencuri barang-barang customer dan aset gedung milik kliennya sendiri. Ini hanya ilustrasi menuju security yang mempunyai integritas, bila ada kesamaan dengan cerita ini atau mengalaminya tidak bermaksud menyudutkan seseorang, perusahaan, instansi dan lain sebagainya. Semoga pengguna jasa security lebih melek dan waspada dan tentunya tidak memilih penyedia security yang murah dan kualitas rendah.

Dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini, permintaan kebutuhan Security tidak terlalu tinggi karena arus customer dan aktifitas karyawan tidak begitu ramai dilokasi tertentu, justru security yang bertugas dilakukan pengurangan secara bertahap tergantung tingginya situasi Covid-19. Hal seperti ini menjadi strategi pengguna security yang bekerja sama dengan pengelolah Security untuk menganalisa penempatan personil Security diarea kerja, dengan penilaian resiko dari ancaman dan gangguan tindakan kejahatan baik internal maupun eksternal.

Untuk itu, dari semua pihak yang berkepentingan agar menjadi analisa yang mendalam terkait regulasi yang jelas dalam menentukan situasi pengamanan yang cukup dinamis baik dari situasi ekonomi, politik, bisnis, ketenagakerjaan, dan lain sebagainya. Security selalu dipandang sebelah mata, walaupun saat ini sudah menggantikan seragam baru yang mirip polisi sesuai dengan Perpol Nomor 24 Tahun 2020. Harapannya dengan banyak pengelolah Security Indonesia, menjadi persaingan bisnis yang sehat dan memajukan sistem pengamanan dimasa akan datang.