Masa-masa sekarang ini, banyak sekolah yang mencari duit dengan menjual bangku kosong. Kawan saya, seorang penyair dan petani tambak, mas Teha Edy Djohar, pernah bercerita, harga sebuah bangku di SMA favorit di Semarang bisa sampai 20 juta. Angka itu bisa naik terus, tergantung situasi dan posisi tawar mereka.

Begitulah repotnya orang tua. Zaman saya dulu, ndaftar SMP dan SMA bisa saya lakukan sendiri. Sekarang orang tua harus terlibat. Meski dilakukan online dan generasi anak lebih melek teknologi, tak pelak orang tua tetap harus terlibat.

Bolehkah memperdagangkan pendidikan? Kriminalkah mereka?

Perilaku kriminal oleh sekolah biasanya diawali penyakit sosial masyarakat. Ingin sekolah yang  bergengsi tapi tak cukup prestasi. Ingin sekolah terkenal tapi tak cukup modal. Jumlah yang banyak akhirnya berteriak mengatasnamakan keadilan, maka dibuatlah sebuah sistem yang seolah-olah mampu mengakomodasi dan meminimalisasi perdagangan bangku sekolah itu.

Bodoh itu ongkosnya mahal. Bagaimana dengan kolaborasi bodoh dan nekat dan diakomodasi sebuah sistem agar seolah-olah cerdas dan adil? Tentu jauh lebih mahal lagi.

Setiap kita yang bodoh tentu tetap menginginkan kenyamanan. Penyakit tak tahu diri bisa bermuara pada kenekatan. Nekat dan merasa yakin bahwa kita layak menempati sebuah tempat yang sebenarnya tak cocok untuk kita.

Sejak kecil anak saya Ratu Srengenge sudah saya ajak untuk menyikapi segala kelemahan diri bukan sebagai sesuatu yang hina. Apa yang salah dari sebuah kelemahan?

Ketika anak berprestasi, awalnya bangga. Merasa optimis bisa masuk sekolah yang dikehendaki. Apalagi sesuai zona. Tapi benarkah optimisme itu? Kadang manusia lupa pada sebuah sistem yang diciptakan manusia lainnya dan memaksanya untuk mengikuti.

Maka, ketika anak saya perlahan tergusur oleh sistem yang menempatkan banyaknya usia sebagai prioritas itu menjadi sebuah kekagetan. Bayangkan saja, di sekolah ranking satu sejak SD. Secara zonasi juga sangat dekat dengan sekolah, tapi usianya masih di bawah usia pendaftar lain.

Inilah saatnya orang-orang yang merasa dirinya pintar mengalah dan berbagi tempat kepada mereka yang menginginkan. Ini adalah sebuah sistem yang sangat satire, dan orang-orang tak menyadari kalau ia tengah jadi bahan ledekan.

Dalam tradisi Jawa dikenal istilah "nglulu". Yakni melarang sesuatu namun dengan cara memberikan lebih dari yang diminta.

“Pengin beli es. Satu gelas kecil aja!” teriak seorang anak sambil menangis meraung-raung. Si anak itu tengah pilek dan diyakini es akan memperburuk kesehatannya.

Si ibu yang memang penyabar tentu marah. Namun dalam marahnya ia justru akan memberikan es yang jauh lebih banyak. Jika si anak minta segelas, si ibu akan memberikan sampai 50 gelas dan meminta untuk dihabiskan.

“Tuh esnya dihabiskan,” kata si ibu.

Si anak otomatis akan berpikir dan meneliti diri adakah yang salah? Ini latihan sadar diri tingkat dasar ala orang Jawa. Ini adalah nglulu.

Saya juga berusaha menghargai kekurangan dan menempatkan di tempat sewajarnya. Kekurangan itu bukan aib yang harus segera disembunyikan.

Mereka yang menganggap kekurangan sebagai aib biasanya akan menyembunyikannya dengan cara apa pun. Menghalalkan segala cara agar kelemahan tak terlihat. Jika menyadari upaya menutup kekurangan dengan tak wajar dan segala cara itulah aib yang sesungguhnya.

Menempati bangku sekolah yang sebenarnya tak layak baginya itulah aib. Sedangkan mereka yang tergusur karena sistem yang “nglulu” tadi justru akan lebih cepat menemui kegembiraan.

Pejabat yang menitipkan anaknya agar diterima di sekolah favorit, orang kaya yang memaksa panitia menerima hadiah dengan imbalan kursi kosong di sekolah itulah aib yang sebenar-benarnya aib. Aib yang sejati.

Mencitrakan anak bodoh menjadi seakan pintar dengan cara memasukkan ke sekolah impian seperti aib yang menemukan kesejatian dirinya. Celakanya, sistem itu memang dirancang untuk mengakomodasi agar aib bisa dikonversi menjadi uang.

Awalnya saya beranggapan bahwa memilih anak karena faktor usia adalah sebuah tindakan nglulu. Tindakan satire. Tapi ternyata hal ini memancing tindakan lain dan menjadi hal lumrah. Tak ada rasa sungkan atau meneliti diri sebagaimana filosofi tradisi “nglulu”. Akhirnya membuat sistem itu makin tak karuan.

Saat-saat seperti ini, nasib sekolah anak-anak pintar berada dalam permainan tangan-tangan kekuasaan. Kuasa membuat sistem, kuasa membuat aturan, dan juga kuasa memaksa orang lain mengikutinya.

Penerimaan anak didik baru menjelma menjadi makhluk yang sangat pintar mencari-cari kelemahan dan kekurangan untuk bisa menolak. Mereka kemudian melupakan kelebihan-kelebihan yang ada.

Lalu bagaimana dengan anak saya?

Biarlah mengalir saja. Saya dan anak saya sudah sepakat mengembangkan keyakinan bahwa kelebihan-kelebihan yang ada pasti akan berkembang secara alami. Ia akan menentukan langkah sendiri. Dan pada saatnya nanti akan menunjukkan dirinya dan mempermalukan sistem yang dibuat seolah-olah adil itu.

Banyak contoh sekolah-sekolah formal favorit sekalipun hanya melahirkan generasi gagu menghadapi kenyataan. Generasi gagap berhadapan dengan kehidupan.

Maka, nasihat paling mungkin untuk saya dan anak saya adalah, jika seseorang itu bodoh karena kemalasan, biarlah ia belajar menerima hukuman. Kalau bodoh karena keterbatasan, hanya perlu belajar menerima diri. Jika ia “bodoh” karena sistem tak mengakomodasinya, biarkan saja sebentar menikmati kesedihannya untuk kemudian menertawakan sistem yang amburadul itu.

Kami sepakat tak memilih sikap hidup palsu, sikap hidup seolah-olah.