Masih ingatkah film khas lebaran zaman dulu berjudul Children of Heaven. Berkisah tentang perjuangan Ali untuk memiliki sepatu baru. Sebab Ali dari keluarga tidak mampu, Ali mengikut sertakan dirinya di lomba lari. Berharap mendapat juara dua dan mendapat hadiah sepatu baru, maka ia pun malah bersedih menjadi juara wahid di lomba tersebut.

Film yang dirilis tahun 1997 itu, bagi beberapa orang yang lahir di era 90-an sudah jadi bagian romantika masa kanak-kanak.

Kini melalui Wadjda, sang sutradara wanita pertama Arab Saudi, Haifaa al-Mansour seolah berusaha menampilkan Children of Heaven-nya Arab Saudi. Film ini bercerita tentang anak perempuan bernama Wadjda yang ingin memiliki sepeda nya sendiri. Ia kemudian mengikuti lomba tilawah al-Quran, untuk memenangi sejumlah uang.

Akan tetapi, beda Ali, beda Wadjda. Bukan karena ketidakmampuan ekonomi keluarga Wadjda untuk membelikannya sepeda, tapi untuk keluarga religius pamali bagi anak gadis bersepeda.

Ya, Wadjda ingin memberikan kepingan potret kehidupan perempuan Arab Saudi, yang selama ini cukup tertutup. Kita cukup dibuat terbelalak dan berkata "Kok begitu ya." Wanita Saudi terbelenggu tradisi yang dilegetimasi oleh ajaran-ajaran Islam. Tentu, banyak hal yang jauhb dari tradisi wanita Indonesia yang sampai saat masih berjibaku dalam wacana gender.

Seperti apa yang dialami Wadjda, perempuan sangat tidak elok untuk bersepeda atau mengendarai mobil. Terlebih bagi mereka yang sudah menikah. Ketika berergian mereka harus diantar sopir.

Dalam urusan politik pun demikian. Suatu ketika pamannya Abdullah, sahabat pria Wadjda mencalonkan diri di jabatan publik, Wadjda dan Ibunya hanya melihat pesta kemenangan dari atas loteng rumahnya. Ibunya berandai jika ia memiliki hak pilih, ia pun tidak akan memilih pamannya Abdullah tersebut. Memang, mayoritas wanita Saudi tidak memiliki hak pilih di electoral vote.

Yang paling mencengangkan adalah ketika Ibunya Wadjda tahu bahwa dia dimadu. Ia tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan menangis pun tak mampu. Padahal bersama Wadjda ia membeli gaun anggun nan cantik yang akan ditunjukkan kepada keluarga suaminya, sebab setahu dia keluarga suaminya mau menikahkan salah satu anggota keluarganya. Ia tak memiliki hak 'demokratis' dalam rumah tangga. Apapun yang dilakukan suaminya pantang dikritisi apa lagi ditentang.

Selain itu, ada hal-hal di luar ekspektasi kita sebagai muslim tentang dunia pendidikan Islam, seperti bebas buka hijab saat baca Al-Quran, suatu hal yang amoral bagi kita, muslim di Indonesa. Ada juga siswi yang masih bau kencur, tapi sudah dinikahkan oleh keluarganya.

Sayang, film yang ditayangkan tahun 2012 di festival film venesia ini tidak menampilkan bangunan konflik yang menyentuh. Baik konflik emosional cerita ataupun konflik kultural yang ingin ditonjolkan. Alur cerita maju begitu sangat datar.

Semisal, saat Wadjda memenangi lomba, tapi saat kepala sekolahnya tahu uang hadiah itu untuk membeli sepeda, hadiah iti tak jadi diberikan. Backsound yang disuguhkan sungguh membuat penonton anti-klimaks. Seolah emosi penonton ingin meledak, tapi tidak kesampaian.

Meski begitu film ini cukup mendapat apresiasi Internasional. Film yang diproduseri Gerhard Meixner dan Roman Paul ini terpilih sebagai entri Arab Saudi untuk film berbahasa Asing terbaik di Academy Award ke-86, sekaligus satu-satunya dan pertama kalinya perwakilan Arab Saudi di ajang piala Oscar, meski tidak masuk nominasi.

Tingakatan Asia film ini diganjar sebagai film terbaik Asia nominasi di BAFTA (British Academy of Film and Television Arts) tahun 2014. Film ini dirilis oleh Koch Media, Jerma tahun 2013, serta didistribusikan oleh rumah produksi kenamaan, seperti Sony Pictures Classics, AS.

Namun sayang film ini tidak mendapatkan tempat di negeri asalnya, Arab Saudi. Berdasarkan cacatan Wikipedia sampai tahun 2013 haya negara-negara Eropa barat yang merilis secara penuh film ini. Di Indonesia, kalian bisa akses di situs-situs film streaming.

Selamat menonton budaya kaum onta yang banyak diadopsi kaum muslimin Indonesia.

Kediri, 12 Februari 2017