Toleransi dapat menjadikan perdamaian bagi masyarakat, khususnya di Indonesia. Toleransi itu sendiri secara etimologi berasal dari Bahasa Latin, yakni “tolerare” yang bermakna sabar terhadap sesuatu (Abu Bakar, Vol. 7, hlm. 1, 2015 ).

Sedangkan secara terminologi, toleransi adalah suatu sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu masyarakat. Dalam perspektif agama, toleransi berperan penting, karena setiap agama sangat menjunjung tinggi perdamaian. Agama tidak diperbolehkan menjadi alasan perang, kebencian, permusuhan, dan ekstremisme (Otto Gusti).

Indonesia adalah Negara yang heterogen. Di dalamnya terdapat berbagai macam agama, suku, dan kaya akan budaya. Saat ini, tercatat Enam Agama yang diakui di Indonesia. Agama tersebut yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghuchu. Agama Islam, menjadi mayoritas dengan jumlah pemeluknya sebesar 87%, Protestan sebesar 7%, Katolik sebesar 3%, Hindu sebesar 1,7%, Buddha sebesar  0,7%, dan Konghuchu sebesar 0,5%.

Selain Agamanya yang beragam, terdapat 10 suku, yaitu suku Jawa, Sunda, Batak, Minang, Betawi, Bali, Dayak, Bugis, Ambon, dan Asmat. Dari 10 suku tersebut, terdapat Tiga suku yang memiliki populasi terbanyak. Ketiga suku itu yakni: Suku Jawa; dengan jumlah penduduknya sebesar 40,2%, suku Sunda; dengan jumlah penduduknya sebesar 15, 5%, dan suku Batak; dengan jumlah penduduknya sebesar 3,6%.

Dengan disajikannya berbagai macam agama dan suku, tentunya mengakibatkan pandangan keberagamaan yang berbeda serta karakter kesukuan yang berbeda. Artinya, pertikaian atas nama agama akan sering terjadi. Gesekan antar agama ini mengakibatkan tidak harmonisnya hubungan antar manusia (hablu minan nas).

Seperti yang terjadi di Kabupaten Tolikara, Papua. Insiden pembakaran Masjid pada tanggal 17 Juli 2015 mengakibatkan konflik antar umat beragama. Insiden tersebut terjadi pada saat umat Islam sedang melaksanakan shalat Idul Fitri. Terjadinya insiden itu dikarenakan perayaan Dua acara besar umat Islam dan Kristen pada satu waktu dan tempatnya berdekatan. Akibatnya, satu orang tewas dan 153 lainnya terluka (di lansir dari Wikipedia).

Kemudian di Tanjung Balai, Sumatera Utara, terjadi insiden pembakaran Vihara pada tanggal 20 Juli 2016. Insiden tersebut terjadi dikarenakan seorang yang beragama Buddha meminta umat Muslim untuk mengecilkan volume suara Masjid. Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut (di lansir dari 99.co).

Belum lagi Konflik antara suku Dayak asli dan warga migran dari Madura, yang terjadi di Sampit, Kalimantan Tengah, 18 Februari tahun 2001 memakan banyak korban. Tercatat bahwa 500 korban jiwa telah gugur dan 100.000 warga Madura kehilangan tempat tinggal. Selain itu, banyak  juga warga Madura yang ditemukan di penggal kepalanya oleh suku  Dayak. Insiden tersebut dilandasi oleh meningkatnya populasi warga Madura di Kalimantan Tengah pada tahun 2001 sebesar 21% , kemudian timbul ketidakpuasan suku Dayak atas persaingan yang agresif (di lansir dari Wikipedia).           

Baru baru ini, seorang tokoh Islam, Miftah Maulana Habiburrahman yang kita kenal dengan Gus Miftah, di hujat Netizen Kafir dan Sesat setelah memberikan ceramah di Gereja beberapa waktu lalu. Padahal, menurut pengakuannya, ia hanya di undang untuk memberikan ceramah tentang kebangsaan dan tidak ada relevansinya dengan peribadatan (di lansir dari Suarasumsel.id).

Beberapa kasus di atas adalah Tiga dari sekian banyaknya konflik Agama dan Suku yang terjadi di Indonesia. Kita tahu bahwa adanya konflik karena adanya perbedaan, tetapi tidak semua perbedaan mengakibatkan adanya konflik. Disitulah pentingnya toleransi.

Selain itu, dalam nash dijelaskan bahwa, “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku (Al-Kafirun: 6)”. Dalam konteks agama, kita diajarkan untuk saling menghargai, saling menghargai adalah salah satu entitas dari hubungan Horizontal antara manusia dengan manusia (Hablu min an-Nas).

Hubungan antara Manusia dengan manusia (Hablu min an-Nas) jika bisa berjalan dengan harmonis, maka dapat mengurangi konflik. Penulis meyakini bahwa setiap agama mempunyai konsep kasih sayang dan menolak perpecahan. 

Konflik bisa terjadi ketika pembela dengan pembela dihadapkan. Ketika para pembela tersebut menuangkan pemikirannya melalui buku-buku, debat-debat terbuka, ataupun doktrin-doktrin melalui khutbah oleh pemuka agama, maka masyarakat akan mewariskan pemikiran-pemikirannya.  

Contoh, jika seorang murid belajar kepada guru yang tekstual, keras, pemikirannya kerdil, maka ia akan melahirkan murid yang sifat dan tingkah lakunya tidak jauh berbeda dengannya. Akhirnya, akan muncul manusia yang ingin menang sendiri, tidak menerima pemikiran orang lain, dan intoleran. 

Sebaliknya, jika seorang murid belajar kepada guru yang tidak tekstual, menerima pendapat orang lain, mempunyai pemikiran Tawasuth (Moderat), Tawazun (Berimbang), Ta'adul (Netral dan Adil), dan Tasamuh (Toleran), maka akan menghasilkan murid yang toleran.       

Di tengah konflik agama yang berkepanjangan, rasanya kita perlu belajar kepada tokoh Nahdlotul Ulama (NU), salah satunya seperti Abdurrahman Wahid, atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Gus Dur. Gus Dur pernah berkata, “Tidak penting apapun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakuakan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan Tanya apa agamamu.”