Kata "mahasiswa" sudah tidak asing lagi di telinga kita. Mahasiswa adalah seorang yang sedang menempuh pendidikan di sebuah perguruan tinggi umum ataupun swasta. 

Ketika berbicara tentang mahasiswa, selalu terbesit pemikiran yang intelektual, orang-orang terpelajar, dan mereka yang sering melakukan demonstrasi dengan turun ke jalan untuk menyuarakan hak dan aspirasi masyarakat kepada para pemimpin negeri supaya sistem berdemokrasi berjalan dengan baik.

Secara historis, mahasiswa Indonesia pada tahun 1998 telah menggoreskan sebuah sejarah dalam perkembangan Indonesia, yaitu mengubah sistem otoriter Orde Baru menjadi sistem reformasi. Dalam sepak terjangnya, pada tahun 1998 mahasiswa mengkritisi pemerintahan Orde Baru yang otoriter dan tidak transparan terhadap publik.

Puncaknya pada bulan Mei 1998, para mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dan mendesak Presiden Soeharto untuk mundur dan turun dari jabatannya sebagai Presiden. Terlepas dari pro dan kontra terhadap sistem Orde Baru, peristiwa demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh mahasiswa pada tahun 1998 itu menjadi sebuah sejarah kelam perpolitikan bangsa ini.

Di era reformasi, mahasiswa mulai dianggap keberadaannya. Para calon Presiden dan Wakil Presiden, ketika berkampanye dalam kontestasi pemilihan Presiden, mereka berlomba-lomba dalam merebut suara dari kalangan mahasiswa milenial terlebih dahulu. Hal tadi dikarenakan ketakutan mereka terhadap sikap kritis dan kekuatan mahasiswa ketika mereka turun ke jalan.

Ada sebuah permisalan yang cukup menarik dalam menggambarkan suatu rantai ketergantungan, yaitu mahasiswa takut dengan dosen, kemudian dosen takut dengan rektor, rektor takut dengan menteri, menteri takut dengan presiden, dan presiden takut dengan mahasiswa. Hal tadi menandakan sebuah rantai ketergantungan satu sama lain.

Ketika memasuki dunia kemahasiswaan, ada beberapa potret unik yang dapat dikaji. Ada beberapa istilah yang mengelompokkan tipe-tipe mahasiswa milenial ini, seperti tipe mahasiswa kupu-kupu, kura-kura, kuda-kuda, dan kunang-kunang

Beberapa tipe mahasiswa tadi adalah berupa singkatan, yaitu tipe kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang), tipe kura-kura (kuliah rapat kuliah rapat), tipe kuda-kuda (kuliah dagang kuliah dagang), dan tipe kunang-kunang (kuliah nangkring kuliah nangkring).

Beberapa singkatan dari tipikal mahasiswa di atas tentulah mempunyai beberapa nilai postif dan negatif yang menggambarkan potret mahasiswa milenial. Beberapa potret tadi tidaklah sebanding dengan potret mahasiswa di masa lalu yang sangat memberikan sumbangsih yang besar terhadap kemerdekaan dan perkembangan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Tipe mahasiswa yang pertama adalah kupu-kupu, yaitu “kuliah pulang kuliah pulang”. Secara harfiah, tipe ini bisa dikelompokkan kepada golongan mahasiswa pembelajar. Kebanyakan mahasiswa tipe ini lebih menyukai kegiatan belajar dan mengurangi atau bahkan menjauhi beberapa kegiatan di luar itu.

Tipe mahasiswa kupu-kupu ini jarang mengikuti organisasi kampus maupun luar kampus. Walaupun ada sebagian mahasiswa tipe kupu-kupu yang mengikuti organisasi, pastilah keaktifan mereka sangat kurang dibandingkan mahasiswa yang memang aktif di organisasi. Umumnya mahasiswa yang bertipe kupu-kupu ini lulus kuliah tepat pada waktunya karena mereka beranggapan bahwa kelulusan adalah tujuan akhir dari perkuliahan.

Mahasiswa bertipe kupu-kupu ini umumnya memiliki nilai IPK di atas rata-rata, bahkan ada yang mendapat predikat cumlaude. Walaupun tipe mahasiswa ini pembelajar yang rajin, mereka masih awam tentang pengalaman dalam bermasyarakat. Di masyarakat, seseorang yang pintar saja tidaklah cukup untuk dipandang dengan kedua belah mata, tetapi seseorang yang mempunyai pengalamanlah yang lebih diutamakan.

Tipe yang kedua adalah kura-kura, yaitu “kuliah rapat kuliah rapat”. Tipikal mahasiswa ini sangatlah aktif dalam berorganisasi dan sering terjun langsung ke masyarakat. Mayoritas mahasiswa yang bertipe kura-kura sangat kaya dengan pengalaman. Dari pengalaman yang banyak inilah tipikal mahasiswa ini banyak diminati di masyarakat. 

Selain diminati masyarakat, mahasiswa bertipikal kura-kura ini juga mempunyai kekurangan, yaitu dari sisi akademik yang kurang terfokus.

Kebanyakan mahasiswa yang bertipkal kura kura, menurut saya, lebih mengedepankan persoalan organisasi ketimbang kuliah. Mereka lebih sering mengkaji isu-isu keorganisasian atau isu-isu di luar perkuliahan. Hal tadi menjadikan adanya porsi yang tidak sesuai antara kuliah dengan berorganisasi yang dapat mengakibatkan lambatnya dalam menuntaskan kegiatan kuliah atau bahkan dapat menyebabkan ketidaklulusan.

Sebenarnya persoalannya di sini bukan karena organisasi, tetapi pelaku organisasi yang tidak dapat mengatur waktu dengan baik. Itu dapat mengakibatkan keterlambatan lulus. 

Namun, ada pula sebagian mahasiswa yang bertipikal kura-kura yang sukses di dua bidang, yaitu bidang akademik dan bidang organisasi. Hal tadi dikarenakan rata-rata dari mereka cerdas dalam membagi waktu antara organisasi dengan kegiatan perkuliahan.

Tipikal mahasiswa yang ketiga adalah kuda-kuda, yaitu “kuliah dagang kuliah dagang”. Mahasiswa bertipikal kuda-kuda ini adalah mereka yang kuliah sambil berbisnis. Ada pula yang bekerja sampingan di waktu malam, ada pula yang berjualan di kampus. Jualan mahasiswa tipikal kuda-kuda ini lumayan beragam, seperti gorengan, kerupuk, roti, dan alat tulis.

Pada umumnya, mahasiswa ini terlihat bagus dari segi akademik. Tetapi terkadang, karena kesibukan mereka terhadap dagangan, mereka melupakan esensi seorang mahasiswa yang seharusnya lebih mementingkan kependidikan daripada perdagangan. Berpenghasilan ketika kuliah itu baik jika tidak mengganggu aktivitas akademik dan nilai IPK.

Tipe mahasiswa yang terakhir adalah kunang-kunang, yaitu “kuliah nangkring kuliah nangkring”. Tipikal kunang-kunang ini sejatinya tidak terlepas dari kegiatan sharing organisasi. Sharing organisasi tidak hanya melulu bersifat indoor, tetapi juga terkadang bersifat outdoor. Mayoritas mahasiswa yang bertipe kunang-kunang ini mengikuti sebuah organisasi kemahasiswaan, tetapi tidak seaktif mereka yang bertipe kura-kura.

Tidak semua mahasiswa yang bertipe kunang-kunang ini mengikuti organisasi, adapula mereka yang tidak berorganisasi. Mahasiswa kunang-kunang yang tidak berorganisasi ini cenderung lebih banyak menghabiskan waktu mereka di kafe atau tempat nongkrong lainnya guna menghilangkan rasa jenuh selepas kuliah. Fenomena mahasiswa yang suka nangkring ini tidaklah bersifat negatif, tetapi akan berakibat negatif jika mahasiswa ini tidak pandai dalam mengelola waktu.

Dari beberapa tipe mahasiswa di atas tadi, ternyata permasalahan internal mahasiswa itu kebanyakan adalah dalam mengatur waktu kuliah dengan kegiatan di luar kelas. Permasalahan juga akan terlihat manakala mahasiswa lupa akan esensi atau hakikat mereka dalam berkuliah, yaitu sebagai seorang pelajar yang rajin. Ketika sesorang tahu jati diri, maka ia akan mudah memosisikan sesuatu sesuai pada tempatnya.