Perkuliahan online yang digelar guna menyikapi penyebaran virus corona hingga kini menuai banyak keluhan dari mahasiswa. Mulai dari curhatan mahasiswa UTU Meulaboh bernama Oges yang mengalami tekanan batin. Dia merasa bahwa tugas yang diberikan oleh dosennya terlampau banyak dengan tenggang waktu terbatas.

Tentu saja tidak semua mahasiswa dapat memiliki gawai yang mumpuni atau sinyal internet yang baik untuk menunjang perkuliahan. Sinyal internet ini menjadi sangat vital perannya karena kelancaran penyampaian informasi perkuliahan tergantung dari sini. Namun sayangnya terdapat banyak wilayah di Indonesia yang belum terjangkau akses internet dengan baik.

Terdapat beberapa kreativitas dalam menanggulangi hal ini, namun tidak jarang ada juga yang berakhir nahas. Seperti yang dilakukan oleh Nurwasilah mahasiswi UIN Alauddin dengan membangun rumah pohonagar dapat menjangkau sinyal internet yang stabil.

Mahasiswi yang berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat ini pada mulanya harus menuju desa lain terlebih dahulu jika hendak mengikuti perkuliahan online dengan jaringan yang baik. Namun dengan pertimbangan efisiensi waktu, maka dibangunlah rumah pohon tersebut dengan dibantu ayah dan pamannya. 

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ada juga yang bernasib tragis. Dalam berita yang dilansir oleh news.detik.com, mahasiswa Universitas Hasanuddin bernama Rudi Salam terjatuh dari dari lantai 2 sebuah masjid saat tengah mengerjakan tugas kuliah secara online. Nyawanya tidak dapat tertolong saat akan dirujuk ke rumah sakit.

Jika dicermati lebih dalam lagi, memang dalam praktiknya pendidikan yang diselenggarakan di negeri ini hanya mementingkan penugasan dan nilai di atas kertas. Tentu saja dalam hal ini kita harus kembali membaca pasal 31 ayat 3 UUD 1945.

Pasal tersebut berbunyi: "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang undang."

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dapat terlaksana dengan baik jikalau muridnya sibuk dengan tugas sampai lalai mengkaji realitas?

Sangatlah ironis jika melihat berita persidangan tujuh tahanan politik Papua di Balikpapan, Kalimantan Timur. Persidangan tersebut digelar pada 2 sampai 5 Juni 2020 dengan agenda mendengarkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum. 

Mereka dituntut dengan 106 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang Makar. Poin pentingnya adalah 7 tahanan politik ini mayoritas adalah mahasiswa, di antaranya adalah Mantan Ketua BEM Universitas Cendrawasih Ferry Kombo dan Ketua BEM USTJ Alexander Gobay.

Mereka diancam hukuman penjara 5-10 tahun. Di luar fakta persidangan, hal ini dapat menjadi pukulan telak terhadap upaya pencerdasan kehidupan bangsa. Bagaimana seorang terdidik harus diberatkan langkahnya dengan hukuman seperti itu.

Pada akhirnya pendidikan hanya sarana menelan banyak teori, berjibaku dengan tugas, mendengarkan pengajar yang senang berdiri di atas menara gading dan bersikap apatis atas realitas. Untuk menutup paragraf ini, izinkan penulis mengutip kalimat dari Pramoedya Ananta Toer, ”Kau terpelajar cobalah setia pada kata hati.”

Untuk mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia, kita perlu membaca kembali kajian Paulo Freire mengenai filsafat pendidikan. Dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Kaum Tertindas, Freire mengatakan kebanyakan pola pembelajaran masih berpusat kepada pengajar yang bercerita dan murid patuh mendengarkannya. 

Dalam menjelaskan bahan ajarnya tersebut sering kali terlepas dengan realitas yang ada. Belum lagi bahan ajar yang tidak berubah setiap tahun menjadi fakta yang tak terhindarkan. Padahal realitas sendiri adalah proses yang mengalami perubahan terus-menerus.

Guru seharusnya tidak boleh memaksakan pikirannya pada setiap murid. Ketika murid tersebut pada akhirnya tidak dapat memanfaatkan pelajaran yang mereka terima pada kehidupan seusai lulus, maka di situlah kegagalan pendidikan berada. Hal ini tercermin oleh banyaknya keluhan pelajar mengenai banyaknya tugas yang diberikan oleh pengajar di masa pandemi ini.

Dalam menyikapi berbagai permasalahan terkait pendidikan di negeri ini, pemerintah haruslah mengutamakan dialog. Bagaimana proses pembelajaran di tengah pandemi ini tidak serta-merta menggunakan pertimbangan pemerintah, namun juga berbagai elemen yang terkena langsung dari kebijakan kuliah online ini seperti pengajar dan pelajar.

Walaupun sudah menggunakan teknologi dalam prosesnya, namun metodenya masih konvensional, maka hanya akan membebani psikis dan fisik dari murid tersebut.

Mengenai permasalahan tahanan politik yang merupakan mahasiswa Papua, hal ini sangat mencederai tujuan pendidikan bangsa ini seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. 

Dengan berani menyuarakan apa yang dianggap benar oleh para mahasiswa ini tentu adalah hasil nyata dari pembelajaran yang mereka terima. Freire menjelaskan hal ini dalam konsepnya yang disebut pendidikan hadap masalah

Pendidikan hadap masalah merupakan bentuk praktik dalam kehidupan guna melakukan pembebasan kepada mereka yang tertindas. Pada pendidikan tersebut, manusia mengembangkan kemampuannya untuk memahami realitas yang ada dan dapat mengkritisinya.

Semoga pendidikan di negeri ini dapat berubah menjadi lebih baik lagi ke depannya. Tidak ada lagi ketakutan terhadap nilai yang buruk atau tugas yang terlambat dikumpulkan. Pendidikan haruslah mampu menghidupi realitas dan mencari solusi atas permasalahan yang ada.

Sumber