Ada banyak kabar yang  berseliweran dan di tengah percakapan politik yang masih hangat: kapal Tiongkok yang ugal-ugalan masuk ke perairan Indonesia, terbunuhnya orang penting Iran, Mayor Jendral Qasem Soleimani. 

Tetapi kasus Reynhard Sinaga menyelip dan seketika mendapat perhatian lebih warganet. Banyak orang mungkin sudah mengikuti kasus ini. Saya memilih menahan diri untuk tidak berkomentar dulu, meskipun pada akhirnya pertahanan itu runtuh.

Dari kasus Reynhard Sinaga, paling tidak ada dua hal yang saya tangkap sebagai gejala atau mungkin sudah menjadi fenomena lazim pada ruang maya di Indonesia. Pertama, mengenai potret media, bagaimana mereka mengangkat isu ini, membingkai kemudian menyajikannya pada kita sebagai pembaca.

Kedua, ada semacam panggilan naluriah yang mendorong jemari kita untuk memberi komentar, yang sebetulnya tidak perlu. Saya katakan demikian, karena komentar kita cenderung tak sehat, alias tanpa berusaha mencari tahu duduk persoalan atau Asbabun Nuzul-nya.

Baiklah. Tanpa basabasi lagi, mari kita urai berurutan. Dimulai dari yang pertama.

Potret Media Online Kita: Berita Clickbait dan Jurnalisme Remeh- temeh

Berita mengenai kasus Reynhard Sinaga menuai heboh. Media terutama yang online seperti berebut perhatian pembaca. Selain karena kasusnya dalam skala besar, beritanya akan sangat mudah laku jika yang diangkat adalah sisi primordial Reynhard. Dan cara-cara seperti itulah yang kemudian ditempuh oleh kebanyakan media.

Oleh seorang pengkaji media, Ankesh Anand asal Indian Institute of Technology, clickbait adalah sebuah istilah untuk menunjukkan judul berita yang sengaja dibuat dengan maksud menggoda pembaca. Biasanya menggunakan bahasa yang berlebihan dan agak provokatif, guna untuk menarik perhatian pembaca. 

Model pemberitaan yang clickbait itulah, sekali lagi, kerap kali dijadikan bahan dagangan oleh media arus utama di Indonesa. Hemat saya, ini merupakan ulah industrialisasi media. Walhasil, corak dan isi konten media pada akhirnya berubah seperrti komidifikasi. Hasilnya tentu mudah ditebak, produk jurnalisme yang dihasilkan buruk.

Logika industri meletakkan patok keberhasilan media sering kali hanya sebatas jumlah pengunjung laman atau klik. Klik itulah yang menuntut pekerja media untuk memproduksi berita dengan judul bombastis dan cenderung sensasional. Sehingga berita tidak lagi mengandung nilai penting, justru terkesannya mempertebal sisi menarik.

Dalam konteks Reynhard, mana yang lebih menarik. Kumparan.com, misalnya, setidaknya memuat 2 berita, mulai dari profil Reynhard dan kaitannya terhadap orientasi seksual, sampai dengan memberitakan Ayah Reynhard yang diduga terjerat kasus hukum.

Yang jauh lebih parah, dan membuat saya geleng-geleng kepala, media mana lagi kalau bukan Tribunnews.com. Semua hal yang tidak kita butuhkan sebagai sebuah berita justru digali habis-habisan. Driver Ojek Online yang sekilas wajahnya mirip Reynhard pun dimuat. Astaga.

Itu baru dua, belum lagi media online abal-abal lainnya, yang bunyi beritanya luar biasa sembrono., cenderung tidak substantiif.

Harusnya kita sedang tak butuh hiburan. Peduli setan darimana asal Reynhard, kehidupan keluarganya, kenapa ia bisa sekolah di luar negeri, apa judul tesisnya, orientasi seksual ya, apakah ia religius atau tidak.

Tunggu dulu, media melupakan satu hal, apakah itu penting?

Anda cukup bijak untuk menilainya sendiri. Bagi saya, pemberitaan model Kumparan dan Tribunnews sama sekali tidak penting. Sangat disayangkan. Hanya karena tak mau ketinggalan dengan pesaing, mestinya media yang saya sebut di atas tidak mengorbankan kejernihan berita.

Untungnya beberapa media tidak ikut-ikutan. Tirto.id, menurut, saya jadi portal berita yang konsisten untuk tidak ceroboh dalam membingkai kasus Reynhard. Sebagaimana awal kemunculan berita ini, yang bermula dari BBC London dan The Guardian. 

Tirto.id memilih untuk mem-framing kasus ini dengan bijak, memberitakan sisi positif, seperti pendampingan hukum yang dilakukan KBRI selama proses persidangan dan menyediakan kolom untuk akademisi, dan ahli berpendapat soal Reynhard dalam cakupan kajian yang alamiah.

Hal serupa juga ditempuh Asumsi.co. Alih-alih menguliti personal Reynhard, justru media yang berisikan anak-anak muda ini melakukan pencerdasan lewat Current Affairs-nya yang khas.

Dari kasus Reynhard, kita dapat bercermin, semoga makin bertambah banyak , media-media yang mengupayakan jurnalisme berkualitas. Tentu itu pekerjaan rumah yang berat, dan harusnya kita mengambil peran untuk bantu meringankan.

Bisa dengan mengkritik media yang isi beritanya remeh-temeh, atau dengan lebih hati-hati mengklik link agar supaya tidak termakan oleh judul berita yang menjebak.

Warganet dan Kegemaran Menjadi Hakim

Karakteristik pengguna internet di Indonesia, jika ada sesuatu yang berbau kontroversial adalah seperti anak kecil yang selalu diberi hadiah cuma-cuma: senang tetapi makin lama kian melonjak. Dan hal tersebut terlihat jelas pada kasus Reynhard Sinaga.

Yang perlu untuk terus kita ingat, media online bukan hanya satu kali ini saja melakukan praktik sensasionalistik dalam bingkai pemberitaan. Dan karena itu, makin hari makin banyak dari kita yang menjadi hakim?

Seiring ramainya pemberitaan, tak surut dan padam tingkah laku warganet di kolom komentar. Beragam respons diberikan, tetapi nasib mujur tidak berpihak pada Reynhard. Sudah divonis bersalah, dihujani makian pula.

Banyak kata-kata kasar bernada penuh kebenciaan, dan segala jenis umpatan yang tak layak saya tulis di sini, mengalir lancar lewat ketuk lentik jemari para warganet. Tanpa beban.

Yang satu berkomentar buruk, yang lain tak mau kalah. Saya yang mengamati satu demi satu komentar itu berhasil gelang-geleng kepala untuk kedua kalinya. Saya jadi berpikir, tidak bisakah kita menahan diri untuk sedikit lebih santai, dan tidak kelewat ekspresif?

Para warganet seakan bertindak ganda, menjadi preman sekaligus hakim di media sosial, lewat kolom komentar, lewat pesan ancaman yang ditujukan langsung lewat Direct Message, dan ragam cara ajaib yang bahkan tak terpikirkan. 

Asal ada bentuk pelampiasan, seolah yang bersalah dan pelaku amoral macam Reynhard berhak mendapat sanksi lebih, tak cukup palu pengadilan yang memutus, orang-orang kini menggunakan gawainya untuk menjadi hakim gadungan.

Sungguh potret media yang paradoks. Selain membuat orang jauh lebih tahu, ternyata kehadiran media online berhasil membuat emosi sebagian orang tidak seimbang. Mereka mungkin dapat membela diri dengan mengatakan itu sebagai hak.

Hak dalam menyalurkan pendapat, tetapi tidakkah lebih bijak jika mereka membangun kesadaran diri dengan mengingat, bahwa sebaliknya orang yang menjadi sasaran amuk juga punya hak untuk dilindungi harkat dan martabatnya sebagai manusia, sekalipun di ruang maya. D media online.

Terlepas dari segala yang buruk pada diri Reynhard. Saya berharap, semoga Reynhard baik-baik saja, saat menggunakan akun media sosialnya.