Keluarga merupakan tempat kembalinya bagi setiap individu di dunia ini.

 Keluarga yang utuh dan harmonis adalah cita-cita yang didambakan untuk dimiliki setiap manusia. Umumnya keluarga yang utuh terdiri dari ayah, ibu, dan anak.

Apa yang akan terjadi bila tiba-tiba keluarga yang utuh dan harmonis kemudian menjadi keluarga broken home?

 Tentunya, tak akan pernah terbayang bagaimana cara kalian akan menjalani hidup di tengah keluarga broken home.

Semua itu dapat kalian lalui ketika sosok ibu berada di samping kalian untuk mendampingi dan mendukung. 

Tak perlu diragukan lagi, sosok ibu akan selalu berada di samping anaknya entah dalam kondisi apapun itu.

Ibu merupakan sosok jelmaan malaikat yang hadir untuk menjaga dan membesarkan anaknya dengan baik. 

Sosoknya yang penuh dengan kehangatan dan kelembutan menjadikan anaknya selalu nyaman berada di dekatnya.

Coba kalian bayangkan bagaimana hidup di dunia ini tanpa adanya sosok ibu? 

Tentunya tak akan mudah, hidup tanpa adanya sosok ibu yang mendampingi. Bahkan sosok pahlawan superhero juga membutuhkan sosok ibu untuk melewati masa sulitnya.

Stigma negatif mengenai anak keluarga broken home

Kerap kali terdengar julukan “anak pembuat onar” dari masyarakat yang ditujukan  untuk anak dari keluarga broken home

Adanya anggapan tersebut dilandasi karena adanya perilaku dari anak keluarga broken home yang kerap kali dapat mengganggu orang lain.

Sebenarnya, hal itu dilakukannya lantaran agar ia mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. 

Akan tetapi, masyarakat tak menyadarinya dan langsung mengecapnya sebagai “anak pembuat onar”. 

Oleh karena itulah, stigma negatif mengenai anak dari keluarga broken home masih melekat dengan kuat di kalangan masyarakat.

Adanya stigma negatif dari masyarakat bisa jadi disebabkan karena masyarakat hanya melihat dari satu sudut pandang saja. 

Mereka tak melihat dari kacamata perasaan yang dirasakan oleh anak broken home.

8 tahun lalu, tepat di hari kelahiranku yang ke sepuluh, orang tuaku memutuskan untuk bercerai. Berat rasanya untuk anak  kelas 4 SD menerima keputusan tersebut. 

Tiba-tiba saja semuanya berubah 180 derajat, entah dari tempat tinggal, suasana, dll.  Semuanya seolah terasa  berjalan dengan cepat, tetapi hanya diriku yang berjalan di tempat.

Hari-hari yang kulewati dengan ceria, kemudian menjadi suram seketika. Aku pun menjadi anak yang pendiam bak landak yang tak punya teman.

Saat itu, yang kurasakan seperti  adanya jiwa yang sepi di dalam diriku. Saat itu, semuanya harus ku pendam sendiri dan seolah aku merasa baik-baik saja. 

Hal itu kulakukan karena aku adalah anak sulung dari 3 bersaudara. Saat itu, aku tak ingin bercerita mengenai perasaanku karena dapat menambah beban pikiran ibuku.

 Saat itu, aku memutuskan harus dapat bersikap lebih dewasa dan membantu ibuku. 

Selain itu, sosok putri sulung ini harus dapat menjadi panutan bagi adik-adiknya. Tak mudah memang, tetapi tuntutan itu haruslah terpenuhi.

Aku harus menjadi contoh baik bagi adik-adikku. Selain itu, putri ulung ini juga harus tetap berprestasi dan berkelakuan baik meskipun berasal dari keluarga broken home.

 Bagi teman-temanku, diriku ini seperti mereka yang memiliki keluarga harmonis, tetapi itu hanyalah anggapan mereka yang tak mengenal lebih dalam mengenai kehidupanku. 

Bahkan hanya sedikit temanku yang mengetahui bahwa aku berasal dari keluarga broken home.

Bagiku, meskipun aku berasal dari keluarga broken home, aku harus tetap berprestasi dan menjalankan kehidupan ini seperti normalnya. Awalnya semua terasa berat. 

Akan tetapi, semua itu berhasil kulalui karena adanya sosok ibu yang selalu berada disampingku untuk mendampingi dan menyemangatiku.

Dengan adanya sosok ibu, aku dapat hidup meski berasal dari keluarga broken home.

 Adanya stigma negatif mengenai anak dari keluarga broken home berhasil kupatahkan berkat adanya dampingan sosok ibu di sampingku. Bagiku, sosok ibu sangatlah penting di hidupku. 

Meskipun ibuku merupakan single parent yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan anaknya, tetapi ia tak lupa akan perannya untuk selalu mendampingi dan mendukung anaknya.

Potret ibu di keluarga broken home

Potret ibu sangatlah penting. Perannya untuk mengajarkan banyak hal, mendampingi anaknya, dan memberinya dorongan tak dapat digantikan oleh siapapun.

 Sosoknya yang tampak lemah lembut, tetapi sebenarnya sangatlah kuat jiwanya. 

Terlebih lagi peran ibu di keluarga broken home tentulah semakin banyak. Di keluarga broken home, ibu memiliki peran ganda, yaitu peran sebagai ayah dan sebagai ibu.

Sosok ibu akan menggantikan peran ayah untuk mencari nafkah agar dapat bertahan hidup.

 Tak hanya itu saja, ketika di rumah ia akan berperan sebagai ibu untuk mengajari anaknya, mendampinginya, dan memberinya dorongan.

Untuk itu, tak dapat sembarangan dikatakan bahwa anak keluarga broken home merupakan “anak pembuat onar”.

 Hal tersebut dapat dibuktikan dari adanya dampingan ibu yang selalu berada di samping anaknya dan prestasi yang berhasil diukir oleh anaknya.

Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa potret ibu di keluarga broken home sangatlah diperlukan guna untuk mendampingi dan memberi dukungan kepada anaknya.