1 bulan lalu · 63 view · 3 menit baca · Ekonomi 44024_97013.jpg
Dok. Pribadi

Potongan yang Terbuang

Bagi sebagian orang, limbah potongan kayu sudah tidak berarti lagi. Namun, di tangan Herman (36 tahun), pemilik rumah produksi CHIP (Cipta Handycraft Innovation Product) di Desa Cipta Yasa, potongan-potongan itu dapat disulap menjadi berbagai handicraft bernilai seni tinggi.

Sekilas tak ada yang menarik saat rombongan “Cerita Kertas” menyambangi CHIP. Namun, saat tiga buah kardus besar dibawa oleh Herman dan rekannya, kata pertama yang terucap oleh saya adalah “unik”.

“Inilah sisa-sisa potongan kayu bekas meubeler itu. Sekarang telah berubah bentuk,” kata Herman sambil mengeluarkan miniatur. 

Ada Menara Banten, rumah lumbung padi khas Baduy, Bendung Pamarayan, senapan laras panjang, kepala gerbong kereta api, forklift, dan masih banyak lagi.

Workshop itu berdiri di atas lahan seluas kira-kira 400 meter persegi, memanfaatkan pekarangan di samping rumah. Rencananya akan ada perpaduan antara gallery, coffee shop, dan rumah burung walet, yang diharapkan menjadi tempat nyaman untuk dikunjungi.

“Konsep seperti ini, biar tidak kumuhlah,” ujar Dani Kusuma, Manager CSR PT Indah Kiat Serang.

Herman mengakui jika usaha yang digelutinya dilakukan secara tidak sengaja. Panglong (pembuatan kusen pintu, jendela, meja, kursi, dll) adalah usaha yang dirintis turun-temurun dari keluarganya. 

Menjadi salah satu mitra kerja pembuatan Meubeler dari CSR PT Indah Kiat Serang adalah awal mula kolaborasi ini terjalin. Perusahaan mengharuskan pengerjaan dilakukan di dalam lokasi pabrik, namun Herman tidak dapat memenuhi persyaratan tersebut, maka batallah jalinan kerja sama tersebut.

Di sekitar PT Indah Kiat Serang, terdapat banyak pengrajin serupa dengan seperti Herman, tapi tidak ditanggapi dengan serius. Material yang diberikan Dani Kusumah dibiarkan begitu saja, sebulan, dua bulan, tiga bulan tidak ada hasilnya. 

Herman dan tim membuktikan keseriusannya dengan membuat sangkar burung dilengkapi hiasan khas Banten. Kreativitasnya muncul saat ditantang membuat sesuatu dari sisa potongan kayu meubeler. 

Tak disangka-sangka, hasil karyanya sangat memukau. Januari 2017 menjadi sejarah baru berdirinya CHIP. Hingga saat ini, CHIP terus berkreasi dengan potongan sisa-sisa kayu yang akan menjadi souvenir bernilai seni tinggi khas Banten.

Tawaran bekerja sama dengan perusahaan lain dalam mengolah limbah industri plastik, kain, kawat, seng, dan lainnya pun bedatangan. Sentuhan tangannya seolah memikat limbah industri yang tak terpakai.

Pelatihan diberikan cuma-cuma di sekolah, BLK Kota Serang, penghuni LAPAS di Tangerang, hingga mahasiswa. Ia menginginkan orang-orang menghasilkan karya yang dapat dinikmati kembali, meskipun dari seonggok sampah.

Setelah 2 tahun menekuni usaha baru tersebut, Herman mengatakan tak perlu menunggu pelanggan datang untuk menerima pesanan kusen lagi. Penghasilan yang diperoleh dalam kurun waktu 1 tahun, kini cukup 1 bulan saja.  

Setiap bulannya Herman kebanjiran orderan handicraft dari PT Indah Kiat Serang & CSR APP Sinarmas. Ia mengatakan kewalahan dalam memenuhi setiap order. Harga yang ditawarkan mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung tingkat kesulitannya.

“Dulu, buat kusen pintu, kan, ukurannya besar. Sekarang, buat souvenir foto di kayu ukuran buku tulis harganya sama,” ujar Herman sambil diiringi gelak tawa.

Masyarakat desa sekitar ikut merasakan manfaat usahanya. Anak-anak putus sekolah hingga orang-orang pengangguran kini dapat menikmati hasil jerih payah pembuatan handicraft.

Pembinaan mitra kerja CSR PT Indah Kiat Serang diberikan secara rutin, mulai dari penyerahan bahan baku material gratis, pelatihan SDM (sumber daya manusia), manajemen pengelolaan UKM (Usaha Kecil Menengah), fasilitas alat produksi, membangun galeri baru, teknik pemasaran melalui media online, dan mengikutsertakan setiap event pameran bergengsi, baik di dalam kota maupun luar kota.

Herman mensyukuri keterlibatan mitra kerja dengan PT Indah Kiat Serang. Masyarakat sekitar rumah terangkat nilai perekonomiannya, meningkatkan wawasan seni daur ulang limbah industri, up to date perkembangan harga pasaran, dan menjadi anak bangsa membanggakan dari Banten.

Kini, ia dan warga sekitar tak perlu lagi khawatir mengenai penghasilan. Mereka tidak “tertipu” lagi oleh pembeli “nakal” yang memainkan harga.

Setiap bulan, pengunjung hilir mudik mengunjungi workshop tersebut. Instansi pemerintah, NGO (Non Government Organization), tamu perusahaan dari luar negeri, sekolah, kampus, hingga perorangan menjadi langganan hasil karyanya. 

Sentuhan kearifan lokal pengrajin dan modernisasi alat menjadi kesatuan istimewa yang bernilai seni tinggi. “Terakhir nih, pak, ada bule Italia dari Sinar Mas yang mampir ke sini,” ujar Herman.

Bentuk miniatur yang unik, detail ornamen, dan serat kayu yang kuat mampu memikat masyarakat saat diadakan pameran. Selain karya seninya yang memukau, jenis sisa potongan kayu tersebut tergolong kayu impor yang sudah di-treatment dengan baik sehingga tak disukai rayap ataupun hama.

Ciri khas souvenir selalu mengedepankan pemanfaatan limbah, tingkat kerumitan, dan sentuhan etnik Banten. Jadi wajar jika setiap tamu yang menerima hasil karyanya akan berdecak kagum.

“Alhamdulillah, kita ada orderan tambahan dari instansi pemerintah, perorangan dan perusahaan lain. Terakhir dapat orderan dari Kementerian Lingkungan Hidup saat pertemuan Konferensi 280 Negara di Bali buat oleh-oleh tamu,” ujar pria yang masih aktif di kegiatan pembinaan handicraft Banten ini.