Tembakau (Nicotaniana tobacum L.) merupakan salah satu komoditas satu tanaman perkebunan unggulan di Indonesia. Tembakau menjadi salah satu komoditas penyumbang pajak di Indonesia. Komoditas tembakau juga menjadi sumber pendapatan bagi beberapa petani dan juga penyumbang besar dalam menciptakan lapangan pekerjaan di Indonesia.

Berdasarkan data statistik dari Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2015, produksi dan luas lahan tembakau selalu meningkat tiap tahunnya. Produksi tembakau di Indonesia mencapai 164.448 ton pada tahun 2013 dengan luas area perkebunan tembakau diperkirakan sekitar 177.129 Ha. Produksi tersebut mengalami peningkatan sebesar 202.322 ton dengan luas lahan sebesar 218.738 Ha pada tahun 2015.

Hampir semua masyarakat mengetahui bahwa olahan produk dari tembakau adalah rokok. Sementara saat ini rokok dikenal memiliki stigma kurang baik di beberapa kalangan masyarakat. Hal ini dikarenakan dampak negatif dari rokok bagi kesehatan. Padahal tembakau, jika ditinjau dari kandungannya, dapat diolah tidak hanya sekadar sebagai produk rokok.

Bagian tanaman tembakau yang diolah menjadi rokok adalah daun sedangkan batang tembakau tidak diolah dan menjadi limbah. Limbah batang tembakau yang dihasilkan dari kegiatan olahan tembakau di Indonesia cukup tinggi dengan jumlah mencapai 49.966 ton/tahun.

Penanganan limbah batang tembakau saat ini hanya dilakukan dengan proses pembakaran. Pembakaran batang tembakau memiliki dampak buruk terhadap lingkungan karena batang tembakau masih mengandung nikotin. 

Cemaran asap batang tembakau yang mengandung nikotin yang memicu kanker paru-paru yang dapat berakibat fatal apabila terhirup oleh manusia. Sementara pemanfaatan yang lain, yaitu sebagai kompos organik yang juga belum optimal dalam pemanfaatan limbah batang tembakau.

Batang tembakau yang saat ini belum banyak dimanfaatkan ternyata memiliki kandungan selulosa mencapai 35-40%. Selulosa adalah karbohidrat yang disintesis oleh tanaman dan menempati hampir 60% komponen penyusun struktur kayu. 

Kandungan selulosa yang cukup tinggi dari batang tembakau menjadikannya cukup potensial untuk dikembangkan menjadi beberapa produk olahan. Beberapa produk olahan yang dapat dibuat dari batang tembakau, di antarannya:

Kertas

Kertas sudah menjadi kebutuhan yang tidak dapat lepas dari kehidupan kita. Meskipun perkembangan teknologi sudah meningkat dengan dapatnya menulis di gawai. Pemanfaatan teknologi ternyata belum dapat membuat kita lepas sepenuhnya dari penggunaan kertas.

Secara umum, kertas terbuat dari selulosa yang diperoleh dari kayu. Makin banyak kebutuhan kertas, maka makin banyak pula kayu yang dibutuhkan. Mau tidak mau, penggunaan kertas yang berlebihan juga menjadi salah satu faktor banyaknya pohon yang ditebang.

Kertas dapat dibuat dari semua bahan setengah jadi (pulp) yang mengandung selulosa. Tumbuhan yang mengandung selulosa secara umum dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bubur kertas (pulp). Termasuk limbah batang tembakau yang memiliki kandungan selulosa mencapai  35-40%. Proses pembuatan pulp terdiri atas proses mekanis, proses semi kimia, dan proses kimia.

Bioetanol

Bahan bakar terbarukan saat ini sangat dibutuhkan mengingat bahan bakar utama dari fosil yang kian hari jumlahnya semakin berkurang. Cadangan minyak bumi di Indonesia diperkirakan akan habis pada tahun 2050. Oleh karena itu, energi terbarukan yang ramah lingkungan saat ini terus dikembangkan.

Bioetanol adalah etanol yang diproduksi dari bahan baku nabati yang merupakan cairan hasil proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat dengan menggunakan bantuan sumber mikroorganisme Bioetanol menjadi salah bahan bakar terbarukan yang memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan di kemudian hari.

Etanol dapat dibuat dari tanaman-tanaman yang umumnya diproduksi dari berbagai tanaman yang mengandung karbohidrat, salah satunya adalah selulosa. Dengan kandungan selulosa yang cukup tinggi dari tanaman tembakau menjadikannya sangat potensial untuk dikembangkan menjadi bioetanol.

Untuk mengubah struktur selulosa menjadi glukosa dapat ditempuh menggunakan penambahan asam yang dilarutkan pada suhu dan tekanan tinggi. Selanjutnya gula tersebut dilakukan proses fermentasi untuk diperoleh produk akhir berupa etanol.

Bioplastik

Plastik yang saat ini kita kenal pada umumnya terbuat dari phthalate ester, diethylhexyl phthalate (DEHP) yang merupakan produk hasil pengolahan minyak bumi. Plastik konvensional ini sulit untuk diuraikan oleh mikroorganisme. Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat diuraikan secara sempurna oleh mikroorganisme.

Penggunaan plastik konvensional yang berlebihan ini dapat menyebabkan berbagai permasalahan di lingkungan. Sampah-sampah plastik bekas tersebut dapat menyebabkan berbagai pencemaran, baik itu di air, tanah, maupun udara. Selain itu, penanganan plastik berupa pembakaran dapat menyebabkan efek rumah kaca.

Bioplastik menjadi salah satu alternatif plastik ramah lingkungan yang dapat digunakan saat ini. Bioplastik merupakan plastik yang mudah terurai atau tergadradasi oleh mikroorganisme. Plastik ini juga mudah terurai oleh faktor cuaca seperti panas matahari.

Bioplastik dapat dibuat dari bahan alami yang mengandung selulosa. Kandungan selulosa yang tinggi dari batang tembakau dapat dimanfaatkan untuk pembuatan bioplastik. Bioplastik dapat digunakan untuk kemasan sekali pakai baik itu untuk makanan maupun selain makanan. Bioplastik dapat dibuat melalui proses fermentasi selulosa dengan bakteri.