“ Nanti dulu Pak, Tugasnya belum selesai. Sebentar”. Entah sudah beberapa kata itu diucapkan anaku yang kelas 3 SMP itu. Sehingga saya, ayahnya, harus ke kamarnya di lantai dua rumah kami untuk menengoknya. Sekedar untuk mengingatkan untuk membantu ibunya atau makan dulu.

Ternyata handphone androidnya yang menjadi penyebabnya. Keasyikan dengan gawainya untuk mencari sumber jawaban tugas menjadikanya lupa waktu. Saya sendiri tidak bisa berbuat banyak karena tidak bisa membantunya untuk cepat menjawab semua tugas pelajaran.

Lama lama saya jadi kuatir juga. Tidak cuma jawabanya yang bisa juga berbohong, tetapi juga disertai dengan perubahan sikap secara spontan ketika dipanggil. Reaksi untuk langsung menolak ketika diperintah disertai jawaban yang ketus. Sementara itu saya tidak selalu bisa mengecek apa yang dilihat anak saya.

Anak zaman sekarang sangat lihai bermain gawai. Dibandingkan dengan saya yang menggunakan aplikasi media sosial karena “kepepet” tuntutan pekerjaan. Bagaimana tidak, semua informasi kantor di kirim lewat group media sosial. Belum lagi jika harus video rapat secara Daring.

Padahal jika dibiarkan tanpa perhatian, gawai sangat berbahaya bagi perkembangan anak. Ada kasus dimana anak harus mendapatkan rehabilitasi karena kecanduan gawai yang merusak kesehatanya. Sikap anak yang menjadi mudah marah dan gelisah jika telepon androidnya diminta, merupakan dampak lain dari pemakaian gawai yang berlebihan tersebut.

Pengaruh yang menurut saya masih pada tataran awal adalah sikap tidak sopan anak. Ternyata perilaku yang kurang sopan akibat gawai tersebut tidak hanya terjadi pada anak saya. Sebagai pendidik, saya berinteraksi dengan banyak siswa. Sikap sikap tidak sopan sering muncul dalam berinteraksi melalui media social misalnya Whatsapp.

“ Buat apa sih pak” sekali waktu ada murid saya yang menjawab perintah saya dengan ketus. Harapan saya untuk mendapat jawaban “ ya pak” menjadi buyar. Tapi saya berusaha bepikir positif. Mungkin karena yang dilihat anak itu adalah gawainya. Coba kalau berhadapan dengan saya, pasti akan saya tegur dengan jurus jurus pembinaan siswa.

Contoh tersebut merupakan bagian dari dampak negatif gawai dalam pembelajaran dalam jaringan. Selain itu, menonaktifkan gawai begitu ditegur gurunya, tidak segera menjawab pertanyaan guru walau sudah terbaca pesanya adalah beberapa contoh dari sikap ketidaksopanan siswa terhadap guru.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) membuat siswa tidak terawasi dengan maksimal. Selain degradasi etika, juga mengalami degradasi penampilan. Ketika masih pembelajaran tatap muka, penampilan siswa diatur dari rambut sampai kaki. Tetapi ketika dirumah, mereka menjadi bebas. Rambut menjadi gondrong, dipotong mode punk dan lainya.

Padahal, saat ini hampir semua siswa di republik ini melaksanakan pembelajaran dalam jaringan. Saya yakin masalah masalah menurunya budi pekerti dikalangan siswa juga terjadi di seluruh republik ini. Tentu saya tidak menyamakan semua siswa karena masih banyak siswa yang tidak terpegaruh karakternya karena gawai.

Saya membayangkan jika Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini terjadi bertahun tahun bagaimana karakter anak anak muda kita. Padahal di pundak mereka nasib bangsa ini ke depan. Mereka akan menjadi pemimpin pemimpin Republik ini. Jika PJJ tetap berjalan bertahun tahun, bagaimana dengan mental, pengetahuan dan ketrampilan mereka?

Walaupun tidak menjadi pemimpin bangsa, mental yang terbentuk ketika PJJ akan terbawa ketika mereka bekerja. Padahal dunia kerja membutuhkan sumber daya yang disiplin, tertib, berbudi pekerti luhur dan memiliki ketrampilan yang dapat diandalkan. Begitu juga di dunia wirausaha, membutuhkan mental yang sama.

Tidak semua orang tua dapat secara penuh memperhatikan putra putrinya dalam bergawai. Penyebabnya dapat karena sibuk dengan pekerjaan atau memang tidak perhatian dengan anaknya. Sementara institusi formal seperti sekolah belum bisa diharapkan membantu karena siswa harus dirumah.

Biasanya di sekolah, siswa diharuskan mentaati peraturan sekolah. Jika melanggar, akan diadakan pembinaan. Guru dapat langsung menegur siswa. Siswa mendapatkan pembelajaran sikap yang beberapa diantaranya tidak didapatkan di rumah. Ini yang membedakan dengan pembelajaran dalam jaringan. Secara tatap muka, siswa akan lebih menghargai orang yang lebih tua.

Lalu solusinya bagaimana? Saya sih bisanya menjawab secara normatif; galakan kerjasama antara sekolah dan orang tua. Tetapi salah bentuk kerjasama tersebut dalam bentuk kunjungan atau home visit belum cukup ampuh. Karena setelah itu siswa akan tetap belajar Daring dan hanya bisa dihubungi via media sosial.  

Pernah saya bertanya pada orang yang saya anggap kompeten tentang pendidikan. Kenapa pendidikan di republik ini sampai dibuat seperti ini? Apakah negara ini tidak takut terhadap degradasi akademik dan moral generasi muda? Jawabanya adalah karena nyawa itu, kesehatan itu lebih penting.

Ketertinggalan pendidikan bisa dikejar, tetapi kalau nyawa yang hilang, mau dicari dimana gantinya. Mendapat jawaban tersebut, saya seperti terkena skak mat dalam permainan catur. Bagaimana membantahnya coba. Lalu bagaimana? Ya berdoa saja supaya si korona cepat habis dari republik ini dan pendidikan bisa kembali seperti sebelumnya.