Menjadi bagian dalam grup percakapan dunia maya bukan lagi hal yang dianggap istimewa di era teknologi. Sebagaimana kita tahu, ponsel pintar kini kian mudah dimiliki oleh siapa saja. Keberadaan group chat yang kebanyakan menggunakan aplikasi WhatsApp dipandang mampu menjadi sarana silaturahmi lintas usia, termasuk dalam lingkup keluarga.

Meski bernama “Grup WhatsApp Keluarga”, informasi-informasi yang beredar di dalamnya tak melulu perihal kabar dari anggota-anggota keluarga. Pesan-pesan berantai yang berpotensi hoax maupun SARA bisa jadi dapat turut beredar tanpa kendali. Termasuk informasi-informasi yang mengarah pada potensi agresi.

Kata agresi bisa jadi tidak sepopular fanatisme maupun ekstremisme. Agresi dipahami sebagai perasaan marah maupun tindakan kasar yang diarahkan pada orang atau benda. Dalam istilah psikologi, tindakan tersebut berakar dari kekecewaan maupun kegagalan seseorang dalam upaya mencapai sebuah tujuan.

Terdapat beberapa teori psikologi yang menjelaskan lebih jauh mengenai cikal-bakal agresi. Teori insting Sigmund Freud menyatakan bahwa agresi berakar dari keinginan manusia untuk mati (thanatos). Keinginan semacam ini berupa upaya destruksi diri yang lantas diarahkan pada orang lain.

Sementara itu, seorang ilmuan peraih nobel bernama Kornard Lorenz berpendapat bahwa agresi bermula dari insting berkelahi yang dimiliki oleh manusia dan spesies makhluk hidup lainnya. Lorenz menduga bahwa insting berkelahi sejalan dengan evolusi lantaran insting ini membuat spesies-spesies tertentu mampu mempertahankan populasi. Hanya individu-individu kuatlah yang mampu bertahan.

Pada hakikatnya, manusia merupakan makhluk sosial yang butuh orang lain untuk hidup. Maka tidak heran apabila manusia cenderung berupaya untuk diterima di masyarakat. Untuk itu, diperlukan atribut-atribut tertentu yang menjadi bagian dari identitas sosial seseorang sebagaimana tertera di kartu identitas. Di Indonesia, salah satu atribut tersebut berupa agama atau kepercayaan.

Konsep agama atau kepercayaan sebagai identitas salah satunya tampak pada kecenderungan pemberian nama pada anak. Bukan hal yang aneh apabila para orangtua dari keluarga mayoritas muslim memilih untuk menyematkan nama-nama dengan unsur islami pada buah hati mereka. Demikian halnya dengan penyisipan nama-nama orang kudus pada anak-anak yang rahim dari keluarga kristiani. 

Asumsi umum bahwa semua agama mengajarkan kebaikan tak serta-merta membuat masyarakat Indonesia dapat beribadah secara aman dan nyaman. Meski konon Tuhan Maha Esa, isu-isu SARA yang merujuk pada tindakan agresi rupanya tetap terjadi di Indonesia.

Sebut saja larangan kebaktian Nasrani di Yogyakarta pada Oktober 2017 lalu. Larangan ini muncul lantaran kebaktian tersebut dituding murtad oleh sejumlah oknum. Ada pula kejadian pembakaran gereja di kawasan Aceh pada  2015 silam yang diwarnai bentrokan lantaran gereja-gereja tersebut dipandang tidak berizin.

Terlepas dari kemungkinan politisasi, informasi-informasi perihal tindak agresi berbasis agama kerap bergulir dalam ruang-ruang percakapan virtual alias group chat. Grup WhatsApp Keluarga dianggap sebagai tempat "aman" untuk menyebarluaskan informasi-informasi yang berat sebelah, lebih-lebih apabila menyangkut isu-isu sara yang berseberangan dengan liyan.

Khairul Ghazali (salah seorang mantan teroris yang kini mendirikan pesantren dengan program deradikalisasi terorisme), bahkan mengungkapkan bahwa anak-anak dari keluarga teroris cenderung berpotensi direkrut dalam gerakan radikal

Sebetulnya, informasi apa pun yang beredar melalui grup WhatsApp merupakan realitas yang telah diseleksi dan berpotensi sebagai bahan diskusi. Sialnya, generasi tua cenderung enggan mengonfirmasi, sementara mereka yang lebih muda lebih sering berdiam diri atau bahkan memadamkan notifikasi.

Dalam grup WhatsApp keluarga, ada asumsi bahwa mayoritas anggotanya memiliki kesamaan, salah satunya berupa agama atau kepercayaan. Dengan demikian, besar kemungkinan beredarnya informasi terkait agresi yang menimpa agama atau kepercayaan yang beredar di grup WhatsApp keluarga.

Celakanya, informasi tesebut kerap dibagikan oleh orang-orang yang dianggap lebih paham agama, atau bahkan pemuka agama itu sendiri. Apabila informasi dituturkan oleh orang-orang yang dianggap lebih paham mengenai isu tertentu, ada kecenderungan bahwa penerima pesan akan percaya begitu saja.  

Di satu sisi, informasi yang menempatkan orang-orang satu golongan (dalam hal ini agama atau kepercayaan) sebagai korban cenderung menimbulkan rasa senasib-sepenanggungan dan mempererat solidaritas. Namun demikian, apabila tidak ditanggapi secara bijaksana, informasi tersebut justru mampu memicu fanatisme maupun aksi-aksi balasan yang kian memperkeruh kerukunan dalam beragama.

Sebagai generasi muda, semestinya kita turut andil dalam mencegah penyebaran informasi yang berpotensi memicu agresi, apa pun bentuknya. Jika memang kita merasa enggan atau rikuh untuk menegur, bisa saja kita berupaya untuk mengalihkan topik obrolan, meski kita harus siap dengan apabpun tanggapannya. 

Referensi 

Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. (2008). Hand-Out Psikologi Sosial #11. Agresi, 1-50.