Hoax adalah anak kandung era Post-Truth. Demikian paparan makalah DR. J. Haryatmoko S.J yang berjudul, Era Post-Truth: Mengintensifkan Prasangka Negatif, Emosi Sosial dan Populisme Agama dalam Extension Course, Filsafat, Pemikiran Kritis dan Kehidupan Berbangsa di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, 4 Maret 2019.

Dua kata mengemuka, yaitu Hoax dan Post-Truth. Post-Truth adalah sebuah istilah yang menjadi pembahasan publik semenjak The Oxford Dictionary memasukannya dalam daftar kata pada tahun 2016. Apa itu Post-Truth?

Post-Truth bukan bermakna hilangnya fakta sebagai bagian dari kebenaran atau ketidakpedulian terhadap kebenaran, melainkan to the blurring of distinction betwen the two (mengaburkan perbedaan di antara keduanya, yaitu kebenaran dan kebohongan). Demikian tulis Ignas Kalpokas dalam A Political Theory of Post Truth (2019:2).

Post-Truth bukan sekadar kebohongan, melainkan to a form of ideological supremacy, whereby its practitioners are trying to compel someone to believe in something whether there is good evidence for it or not (bentuk supremasi ideologi, melalui mana si pelaku mencoba memaksakan seseorang untuk percaya pada sesuatu, entahkah ada buktinya atau tidak ada). Demikian tulis Lee Mcintyre, Post-Truth (2018:13).

Perspektif di atas menolong kita melakukan anatomi asal usul dan bagaimana melawan fenomena Post-Truth yang sebagiannya mengejawantah dalam rupa hoax maupun fake news. 

Hoax alias berita bohong sebenarnya setua peradaban manusia. Namun di era Post-Truth, hoax dijadikan komoditas alias bernilai jual yang salah satunya bertujuan politis. Era digital menjadi saluran memviralisasi hoax secara masif dalam hitungan detik dan menit.

Omong-omong soal hoax, bagi mereka penggemar kisah pewayangan tentu pernah mendengar kekalahan Resi Dorna oleh penyebarluasan berita hoax.

Saat Perang Baratayudha tidak terhindarkan lagi, bertemulah keluarga Pandawa dan Kurawa di padang peperangan bernama Kursetra. Keduanya sama-sama keturunan Barata yang dikarenakan intrik dan konflik berkepanjangan berakhir di medan peperangan. Di saat peperangan terjadi, kekuatan Kurawa begitu digdaya.

Bukan semata-mata saudara-saudara Kurawa yang berjumlah seratus sementara Pandawa hanya lima, namun tokoh-tokoh penting, termasuk Bisma (kakek Pandawa dan Kurawa), berpihak pada Kurawa namun juga Dorna Sang Guru Pandawa dan Kurawa berpihak pada Kurawa.

Ketika Bisma gugur di medan laga oleh panah Srikandi, kekuatan Kurawa masih tangguh dengan menyisakan Dorna sebagai lawan kuat Pandawa. Sungguh sebuah peperangan yang penuh dilema karena Dorna adalah guru Pandawa, sekalipun kerap pilih kasih membela Kurawa.

Pandawa akhirnya harus mengatur siasat untuk mengalahkan Dorna dan mengurangi kekuatan Kurawa. Kresna pendamping Pandawa mengatur siasat dan meminta Bima salah satu keluarga Pandawa membunuh Gajah bernama Estitama yang kemudian dipukul pecah kepalanya kemudian diumumkan di medan laga hingga terdengar oleh Dorna bahwa Aswatama gugur.

Dorna memiliki putra terkasih bernama Aswatama. Demi didengar berita yang sampai ke telinganya bahwa Aswatama gugur (padahal gajah Estitama yang tewas, bukan Aswatama putranya), Dorna kehilangan kendali dan semangat. Dorna ingin mengklarifikasi berita tersebut kepada Yudistira (Puntadewa) sebagai kakak sulung Pandawa yang dikenal jujur dan tidak pernah dusta.

Saat Yudistira diminta memberikan pengakuan jujur, dengan berat hati dan mengecilkan volume suaranya, Yudistira membenarkan berita yang didengar Dorna. 

Menurut kisah, kereta kuda Yudistira tidak pernah menepak tanah. Namun saat dirinya berdusta pada Dorna, roda kereta tersebut menyentuh tanah. Dalam versi lain, dikisahkan roda kayu kereta Yudistira pecah dan menyentuh tanah. Habislah sudah harapan Dorna terhadap putra yang dikasihinya.

Mantra Bramastha yang hendak diucapkannya untuk memusnahkan Pandawa ditarik kembali. Dia lebih memilih mati dan menyerahkan dirinya dihujani senjata Pandawa. Dari sekian panah yang ditujukan padanya, semua dapat ditepisnya kecuali satu yang akhirnya mengenai dada Dorna. 

Akhirnya, pedang Drestayumna mengakhiri nyawa Dorna yang mengikhlaskan nyawanya pada dewata. Kepala Sang Resi terputus seketika oeh tajamnya pedang Drestayumna.

Kisah di atas memperlihatkan bahwa hoax (berita bohong) yang saat ini telah menjadi fenomena sosial dan budaya yang menggelisahkan bahkan telah menjadi komoditas politik, ternyata telah berusia setua peradaban dan manusia. 

Sekalipun dianggap mitologi India, namun sejumlah ahli berupaya mengetahui tahun peristiwanya. Ada yang menuliskan tarikh 2559 sM (DR. S. Balakrishna), ada yang mengusulkan tarikh 1478 sM (Prof . I.N. Iyengar).

Apakah hoax akan berakhir atau justru menjadi-menjadi dan berubah wujud bagai mutant yang bakal menghancurkan sistem sosial dan menghegemoni ruang publik? Apakah era Post Truth bakal berakhir? 

Entahlah. Yang jelas, bersikap skeptik alias meragukan segala sesuatu yang kita dengar dan baca, bisa menjadi salah satu metode menyikapi hidup di era Post-Truth. Senada dengan yang dikatakan Lee Mcintyre:

In era of post-truth, we must challenge each and every attempt to obfuscate a factual matter and challenge falsehoods before they are allowed to foster (Di era pasca-kebenaran, kita harus menantang setiap upaya untuk mengaburkan masalah faktual dan menantang kepalsuan sebelum diizinkan untuk berkembang, 2018157).