Sebelum mengulas apa itu post-turth, sebaiknya dibahas sedikit mengenai fenomena media sosial di Indonesia. Untuk menambah wawasan saja karena data yang digunakan dalam tulisan ini pun syarat akan informasi dan merupakan data hasil survey lembaga yang credible.

Dengan mudahnya dalam mengakses media sosial serta berbagai informasi yang berseliweran di dalam media sosial seperti sekarang ini, masyarakat seakan-akan percaya apapun yang terjadi dalam media sosial tersebut. Sebut saja Faceebook yang menurut APJII platform inilah yang paling banyak digunakan dari pada platform lain di Indonesia.

Ya, hal itu bukan anggapan kosong bila kita melihat fenomena medsos sekarang yang penuh dengan ujaran kebencian dan penyebaran informasi palsu (hoax). Padahal informasi yang ada di medsos itu, terkadang bukan mendekatkan kita terhadap suatu fakta, melainkan menjauhkan kita dari fakta yang ada.

Karena, ada yang mendesainnya untuk kepentingan tertentu (bukan rahasia lagi), tetapi kadang diterimanya sebagai suatu informasi yang benar-benar sahih tanpa mempertanyakan benar tidaknya informasi itu.

Sumber :  Asosiai Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia (APJII)

Indonesia juga merupakan salah satu negara terbanyak dalam mengakases media sosial seperti Facebook dan Twitter. Hal itu sebenarnya menjadi suatu indikasi yang baik bila digunakan secara baik akan hasilnya sangat positif. Akan tetapi, kalau penggunaan internet itu tidak didukung dengan literasi yang baik, bisa jadi mendapatkan informasi-informasi ‘menyesatkan’.

Bila kita melihat data literasi menurut penelitian dari Programme for International Student Assessment (PISA) bahwa tingkat literasi di Indonesia sangat rendah yang menempati posisi 64 dari 65 negara yang disurvei pada tahun 2012 (dikoreksi lagi karena menggunakan data lama).

Hal itu juga bila dibuktikan dengan data statistik UNESCO tahun 2012 yang mana menyebutkan bahwa indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 yang berarti bahwa, setiap 1.000 penduduk, hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca.

Poin yang ingin disampaikan berkaitan dengan realitas yang ada tersebut adalah, memang sudah jamannya teknlogi informasi dan derasnya arus informasi. Namun perlu didukung dengan tingkat literasi yang baik untuk terhindar dari ‘kesesatan berpikir’ dan kesalahan dalam menerima informasi. Karena tidak jarang informasi yang tidak benar membuat orang mengambil keputusan yang salah atau salah dalam menyimpulkan suatu masalah.

Jangan biarkan medsos membuat kita merasa nyaman sehingga tidak memberikan tantangan intelektual pada diri sendiri, misalnya skeptis terhadap informasi yang didapatkan. Medsos memang tidak membuat kita menjadi lebih bodoh, tetapi medsos berpotensi mengubah berita menjadi disinformasi.

Disinformasi adalah informasi yang salah tempat (misplaced), tidak relevan, terfragmentasi, dan superfisial. Informasi jenis ini menciptakan ilusi seolah kita mengetahui sesuatu hal, padahal kita justru sedang menjauh dari fakta yang sesungguhnya.

Sedikit memperjelas dengan pertanyaan sederhana kenapa masyarakat Indoenesia terkadang bisa percaya pada berita hoax?

Penjelasannya kurang lebih seperti ini, tahun 2016 total penggunaan internet di Indonesia sebanyak 132,7 juta dan 65% atau 86,3 juta berada di pulau Jawa dan pengguna internet 52,5% adalah laki-laki, sedangkan perempuan 47,5%. Bisa dilihat pada gambar berikut. Tentu saja dengan pengguna (user) sebanyak itu tidak semua pengguna itu tidak bijak dalam menggunakan medsos.

Permasalahannya, di medsos daya viral suatu konten itu sangatlah cepat dan massive. Bisa dibayangkan bila informasi yang dibagikan merupakan berita yang palsu (hoax). Indonesia dengan begini beragam masyarakatnya mempunyai titik yang secara natural itu sangatlah sensitif, sehingga bisa ditebak hasil dari penyabaran berita tersebut oleh oknum-oknum yang kurang informasi dan literasi.

Sumber :  Asosiai Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia (APJII)

Apa Hubungannya dengan Post-Truth?

Istilah itu sebenarnya menjadi ‘word of the year’ tahun 2016 oleh Oxford Dictionary. Menurut Oxford Dictionaries, 'post-truth' diartikan sebagai istilah yang berhubungan dengan atau mewakili situasi-situasi di mana keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibanding fakta-fakta yang obyektif.

Oxford Dictionaries melacak asal muasal istilah 'post-truth' dan menemukan fakta bahwa seorang penulis keturunan Serbia bernama Steve Tesich memakainya pertama kali dalam sebuah esai di tahun 1992 tentang skandal Iran-Contra dan Perang Teluk. Secara sederhana, 'post-truth' digunakan ketika fakta-fakta tidak lagi relevan dalam politik.

Itu artinya bahwa dengan derasnya arus informasi seperti sekarang ini, virus post-trust ini benar adanya masyarakat cenderung tidak mencari kebenaran dari suatu informasi melainkan mencari sesuatu pembenaran sesuai perasaannya bukan logikanya.

Menurut salah satu narasumber Fahmi Ismail dalam acara Mata Najwa mengungkapkan bahwa ‘dengan fenomena post-truth itu orang cenderung tidak mencari kebenaran melainkan sesuatu yang cocok dengan keyakinan dan perasaan meskipun itu salah’.

Kenapa penting mengetahui istilah itu? Selain menambah wawasan kita, lewat istilah tersebut kita juga dapat memahami fenomena medsos di Indonesia bahkan di luar negeri, dan dengan istilah itu juga seharusnya menjadikan kita lebih kritis dan jangan mau terjangkit virus ‘post-truth’ tersebut sehingga mesti kritis terhadap segala informasi yang diterima tidak menelan mentah-mentah semua informasi terutama yang didapat dari media sosial  dan terutama informasi yang dianggap sesuai dengan perasaan dan keyakinan pribadi.

Kebohongan dapat menyusup ke dalam suatu berita yang disampaikan, disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya adalah keberpihakan kepada pendapat dan kelompok tertentu, menyangka sebuah berita itu benar tanpa mengkritisi, tidak menelaah dari siapa berita itu disebar karena setiap kelompok mempunyai kepentingan tertentu dalam menyebarkan berita, poin ini juga termasuk di dalamnya tujuan dalam menyebarkan berita tersebut.

Sebenarnya fenomena ini bukan saja terjadi di Indonesia, melainkan di negara lain bahkan negara-negara maju akan tetapi mereka relatif lebih baik dibanding Indonesia. Karena mereka melek literasi dan tingkat literasi masyarakatnya yang tinggi.

Harapannya dengan tulisan ini, kita bisa kendalikan medsos kita kita ke hal-hal yang lebih baik dan tentunya perbanyak membaca informasi dari media-media yang credible. Selain itu, membaca dari sumber yang ilmiah seperti jurnal, buku-buku dan lainnya, itu jauh lebih  baik walaupun kita dibombardir dengan instannya informasi yang didapat melalui gadget.