…masyarakat harus dipimpin oleh elite intelektual, yaitu kaum positivistik. Sebab, hanya merekalah yang memiliki pengetahuan sejati. Merekalah yang akan mengorganisasi masyarakat. Dengan hadirnya mereka, ilmu pengetahuan dan masyarakat akan mengalami kemajuan.

Auguste Comte terkenal sebagai pendiri aliran positivisme dan Bapak Sosiologi. Positivisme ia jadikan sebagai basis filsafatnya, yang kemudian ia terapkan dalam penelitian sosialnya. Ia memperkenalkan sendiri istilah “positivisme” itu. Istilah tersebut berasal dari kata “positif”.

Dalam bukunya, cours de philosophie positive, ia memakai istilah “filsafat positif” di sepanjang bukunya itu. Ia mengartikan “filsafat” sebagai “sistem umum tentang konsep-konsep manusia”. 

Sedangkan, istilah “positif” diartikan sebagai “teori yang bertujuan menyusun fakta-fakta yang teramati”. Dengan demikian, istilah “positif” dapat dimaknai sebagai “kenyataan-kenyataan faktual” atau berdasarkan fakta-fakta yang ada.

Sehubungan dengan hal itu, positivisme menegaskan diri bahwa pengetahuan yang benar hanyalah pengetahuan yang berdasarkan pada fakta-fakta. Di luar fakta-fakta bukanlah pengetahuan, misalnya metafisika. Rumusan-rumusan metafisika, seperti das Ding an sich milik Kant serta causa prima milik Aristoteles dan Aquinas, ditolak.

Dengan demikian, positivisme hanya mencukupkan diri pada hal-hal yang bisa diamati atau diobservasi secara indrawi. 

Lebih jauh, dalam pandangan positivisme, benar-tidaknya sebuah pengetahuan tergantung pada objeknya, apakah objek itu bisa diamati atau tidak, dan bisa diobservasi secara indrawi atau tidak. Kalau tidak bisa diamati, maka itu bukanlah pengetahuan. Sedangkan yang bisa diamati dianggap benar.

Karena pengetahuannya didasarkan pada fakta-fakta yang bisa diindra, maka positivisme merupakan penerus empirisme. Barangkali dapat dikatakan, positivisme lebih radikal daripada empirisme. 

Empirisme sebelumnya diketahui masih menerima pengalaman-pengalaman yang bersifat rohani. Namun, pada positivisme, semua yang bersifat rohani ditolak dan seluruh pengetahuan harus bisa diuji secara indrawi.

Menurut Comte, positivisme tidak akan pernah terwujud dan terpahami jika dilepaskan dari sejarah perkembangan pengetahuan manusia. Karena itu, positivisme diyakini sebagai puncak dari sejarah pengetahuan manusia. Dalam hal ini, Comte membagi sejarah pengetahuan manusia dalam tiga tahap, yaitu tahap teologi, tahap metafisis, dan tahap positif.

Tahap Teologis; Pada tahap ini, manusia mempercayai adanya kekuatan-kekuatan di luar alam yang menjadi sebab adanya peristiwa, seperti kematian, bencana alam, peperangan, dan lain sebagainya. Kekuatan-kekuatan itu disebut dewa-dewa atau Allah, yang mempunyai kehendak atau rasio yang melampaui manusia. Pada tahap ini, terjadi perkembangan pemahaman terhadap kekuatan-kekuatan di luar alam tersebut. 

Menurut Comte, perkembangan itu terjadi dalam tiga tahap. Pertama, pemahaman animisme, yaitu kehendak menganggap benda-benda fisik memiliki jiwa, kekuatan, kehendak, dan hasrat. Pemahaman seperti ini disebutnya sebagai pemahaman yang paling primitif, kekanak-kanakan. 

Kedua, pemahaman politeisme. Pada tahap ini, kekuatan-kekuatan di luar alam diproyeksikan dalam rupa dewa-dewa. Jadi, para dewalah yang dianggap memiliki jiwa, kekuatan, kehendak, dan hasrat.

Ketiga, pemahaman monoteisme. Pemahaman terhadap kekuatan di luar alam mengalami puncaknya pada tahap ini, dimana para dewa dipadukan menjadi satu kekuatan adimanusiawi yang kemudian disebut Allah atau Tuhan. Maka, kini hanya ada satu kekuatan, yaitu Allah, yang dianggap memiliki jiwa, kehendak, dan hasrat.

Tahap Metafisis; Pada tahap metafisis, pengetahuan manusia mengalami perkembangan sebagaimana anak-anak memasuki masa remaja. Kekuatan di luar alam itu kini diubah menjadi abstraksi-abstraksi metafisis. Misalnya, alam secara keseluruhan dianggap memiliki kekuatan, atau kekuatan berada pada alam itu sendiri. Di sini tidak ada lagi dewa-dewa atau Allah, yang ada hanyalah alam sebagai keseluruhan, konsepsi-konsepsi metafisis lainnya.

Tahap Positif; Pada tahap ini, pengetahuan manusia sampai pada puncaknya. Diibaratkan pertumbuhan manusia, maka pada tahap ini manusia mencapai kedewasaan. 

Manusia tidak lagi mencari sebab-sebab peristiwa di luar yang bisa diamati. Semuanya mengacu pada fakta-fakta. Dari sini, ilmu pengetahuan berkembang pesat dan mencapai kepastian kebenarannya. Lebih jauh, pencapaian yang cemerlang ini bermanfaat bagi manusia.

Mengenai pandangannya tentang sosiologi, August Comte menganggap sosiologi sebagai puncak dari perkembangan pengetahuan manusia. Menurutnya, hal ini terjadi karena sosiologi lahir pada masa positif yang bersih dari pemahaman teologis dan metafisis. Istilah sosiologi ini berasal dari Comte sendiri, yaitu ilmu yang mengkaji perilaku dan hubungan masyarakat demi kemajuan umat manusia.

Comte membagi sosiologi menjadi dua jenis, yaitu statika sosial dan dinamika sosial. Statika sosial mempelajari tatanan sosial dan hukum-hukum yang mengaturnya. Sedangkan, dinamika sosial mempelajari perubahan dan kemajuan sosial. Antara statika sosial dan dinamika sosial tidak bisa dipisahkan. Sebab, perubahan sosial tampa tatanan akan melahirkan anarki, dan tatanan tampa perubahan akan menjadi stagnasi.

Dalam hal ini, ilmu sosiologi, menurut Comte, memiliki peranan praktis. Dengan mempelajari tatanan sosial, ilmu sosiologi dapat mengarahkan perubahan masyarakat ke dalam tatanan yang lebih baik. Jadi, sosiologi Comte tidak hanya mengamati perilaku masyarakat dalam sebuah tatanan sosial, melainkan juga ikut membentuk tatanan masyarakat menjadi lebih baik.