Dalam kehidupan ini, manusia selalu dihadapkan dengan suatu nilai yang bermakna. Nilai yang bermakna ini mengarahkan manusia kepada suatu tujuan tertinggi, yaitu kebahagiaan. Nilai kebahagiaan itu sudah biasa kita dengarkan di kehidupan ini. Namun, apabila kita mendengar kata “pengampunan”, apa yang kita bayangkan? Apa makna dari pengampunan itu? Seperti peristiwa yang disajikan penulis di bawah ini.

Elisabeth Diana dan Suroto tidak kuasa menahan kesedihan atas kejadian yang menimpa putrinya, Ade Sara Angelina Suroto. Ade Sara meninggal dunia karena dibunuh oleh Assyifa dan Ahmad Imam al Hafitd, yang merupakan teman-teman SMA dari putrinya itu.

Ayah Ade Sara tidak bisa menyembunyikan rasa duka yang mendalam atas kepergian anak semata wayangnya. Secara manusiawi, orang tua Ade Sara sangat marah terhadap pelaku pembunuhan anaknya. Namun, dia memaafkan kedua pelaku karena sebagai bentuk perintah Tuhan.

Dari fenomena tersebut, penulis melihat adanya suatu nilai yang terkandung di dalamnya. Penulis melihat ada nilai pengampunan dalam fenomena tersebut. Pertanyaanya, dimana letak nilai pengampunan dalam 4 gugusan nilai menurut Max Scheler?

Siapa itu Max Scheler? Max Scheler dilahirkan,di Munchen Jerman Selatan pada tahun1814, suatu daerah yang rnasyarakatnya, mayoritas Katolik. Ibunya seorang wanita Yahudi, sedang ayahnya beragama Protestan. Pada waktu ia berumur 15 tahun (1889) ia belajar di Gymnasium (sekolah menengah) di Munchen.

Fenomenologi

Sebelum merujuk pada 4 gugusan nilai Max Scheler, penulis ingin terlebih dahulu melihat fenomena tersebut dengan sudut pandang fenomenologi Max Scheler. Metode fenomenologi suatu cara yang digunakan filsafat untuk melihat realitas.

Menurut Scheler, fenomenologi merupakan suatu sikap bukan suatu metode (prosedur) khusus yang diikuti dalam pemikiran. Dalam sikap kita langsung berhubungan dengan realitas melalui intuisi. Hubungan tersebut oleh Max Scheler disebut dengan pengalaman fenomenologi.

Sehubungan dengan itu, pengalaman fenomenologi memiliki jenis-jenis fakta yang digunakan, yakni fakta natural, fakta ilmiah, dan fakta fenomenologi. Fakta natural berkaitan dengan pengalaman inderawi dan berhubungan dengan benda-benda konkrit. Fakta ilmiah mulai terlepas dari pengalaman inderawi dan benda konkrit dan mulai semakin abstrak. Fakta ilmiah ini bisa jadi sebagai formula simbol yang bisa dimanupulasi dan diperhitungkan.

Sedangkan fakta fenomenologi sebagai ‘isi intuitif’ atau hakikat yang diberikan dalam pengalaman secara langsung, tidak bergantung dari berada tidaknya dalam realitas di luar. Bagi Max Scheler, fakta-fakta lain berhubungan dengan fakta fenomenologi.

Empat Gugusan Nilai

  • Nilai Kesenangan dan Ketidaksenangan

Nilai-nilai yang berkaitan dengan kesenangan dan ketidaksenangan. Nilai ini terdapat dalam objek-objek yang memiliki indra. Karena indera-indera ini berbeda-beda, maka bagi setiap individu akan memandang berbeda-beda kepada objek yang dilihat. Akan tetapi bagi nilai-nilai yang dikandung dalam objek tetap sama.

Tahapan awal ini, orang tua Ade Sara mengalami nilai ketidaksenangan. Mereka mengalami nilai kesedihan, nilai kecewa, dan nilai marah terhadap pelaku pembunuhan anaknya. Seperti yang dipaparkan oleh penulis di atas, secara manusiawi orang tua Ade Sara ingin melakukan balas dendam terhadap pelaku pembunuhan anaknya.

  • Nilai Vitalitas

Nilai-nilai yang berkaitan dengan vitalitas. Nilai ini tidak tergantung pada dan tidak dapat direduksi dengan kenikmatan dan ketidaknikmatan. Contoh dari nilai vital misal kesehatan, kelelahan, kesakitan, usia tua, dan kematian.

Nilai vitalitas ini, penulis lihat dari segi perasaan emosi subjek terhadap objek tesangka pembunuhan. Perasaan sakit hati subjek terhadap tersangka menunjukan bahwa nilai vital juga hadir dalam pengalaman ketika subjek menghadapi suatu permasalahan. Nilai kesakitan ini hadir di dalam diri subjek ketika melihat anaknya mati dibunuh.

  • Nilai Spiritual

Nilai-nilai rohani atau spiritual. Nilai-nilai ini tidak tergantung pada nilai kesenangan dan ketidaksenangan maupun nilai vital. Nilai rohani atau spritual dapat dibedakan dalam: 1) nilai keindahan dan kejelekan, dan berbagai nilai estetis lainnya; 2) nilai keadilan dan ketidakadilan; 3) nilai “pengetahuan murni tentang kebenaran.”

Apa yang dialami oleh ibu Sara merupakan situasi dimana ia mengalami ketidakadilan. Ia mengatakan tidak adil ketika Bapa lebih mengasihi tersangka daripada ibu Elisabeth dan Sara. Dengan demikian, penulis melihat bahwa dalam pengalaman tersebut ibu Elisabeth juga mengalami tahap nilai rohani atau spritual.

  • Nilai Kekudusan

Nilai-nilai kekudusan dan nilai profan. Nilai yang keempat ini berkaitan dengan keberadaan khas yang menyatakan diri kepada kita dalam berbagai objek yang hadir untuk kita sebagai yang mutlak. Nilai ini bagi Scheler bersifat independen karena berkaitan dengan segala sesuatu yang sejak semula dipandang suci dalam perjalanan sejarah.

  • Nilai pengampunan termasuk dalam nilai kekudusan karena keadaan perasaan yang berkaitan dengan rasa terberkati dan putus harapan. Rasa terberkati dan putus harapan mengukur pengalaman manusia akan kedekatannya kepada yang suci. Tindakan yang terjadi dalam mencapai nilai kekudusan adalah suatu jenis cinta yang terarah kepada pribadi.

Kondisi yang sesuai dengan nilai yang kekudusan dan profan adalah kegembiraan yang luar biasa dan kehilangan harapan, yang diukur dari yang kudus. Reaksi khusus yang sesuai adalah keyakinan, pemujaan dan penyembahan. Cinta merupakan aksi yang dengan itu kita menangkap nilai kekudusan.

Sumber Pustaka

  • Bertens, K., Filsafat Barat Abad XX, Jakarta: PT Gramedia, 1983.
  • Frondizi, Risieri, Pengantar Filsafat Nilai, (judul asli: What is Value?), diterjemahkan oleh Cuk Ananta Wijaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
  • Wahana, Paulus, Nilai Etika Aksiologi Max Scheler, Yogyakarta: Kanisius, 2004.

Sumber Internet