Indonesia merupakan salah satu negara yang telah memberikan wewenang kepada pemerintah daerah, provinsi, maupun kota (sub-state government) agar dapat menjadi aktor internasional. 

Hal tersebut berarti, pemerintah daerah, provinsi, maupun kota di Indonesia dapat menjalin hubungan kerja sama dengan negara lain. 

Beberapa di antaranya, ialah Provinsi Jawa Timur (salah satunya, kota Surabaya), Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Provinsi Jawa Barat (salah satunya, Bandung), Provinsi DKI Jakarta, dan lain-lain.

Konsep tersebut dikenal sebagai konsep paradiplomasi. Secara umum, konsep paradiplomasi ini hadir untuk menggambarkan bagaimana respon pemerintah sub-state itu dalam menghadapi dunia yang telah terglobalisasi, dan ketidakmampuan secara penuh dari para pemerintah negara untuk melindungi dan memenuhi kebutuhan kota-kota di bawahnya. 

Hal itulah yang menjadikan para pemerintah sub-state ini diperbolehkan melakukan diplomasi dengan negara lain.

Urgensi dari adanya praktik kerja sama antarkota, atau antar provinsi, bahkan kerja sama antara kota-negara lain, tidak terlepas dari konsekuensi ketergantungan (interdependency) yang terbentuk di antara kedua entitas tersebut. Pemerintah Indonesia, khususnya, mengimbau para pemerintah sub-nasional yang akan dan sedang dalam kerja sama sister city tersebut agar dapat mengutamakan kepentingan nasional dan daerah masing-masing.

Konsep kerja sama Sister City atau Kota Kembar ini diketahui muncul dan berkembang di Amerika Serikat pada tahun 1960-an. Tujuan yang ingin diraih saat itu ialah meningkatkan peran masyarakat dalam berdiplomasi (people to people diplomacy), terutama antara masyarakat kota di satu negara dengan masyarakat kota di negara lain. 

Sedangkan, secara spesifik dalam studi kasus penelitian ini, yaitu kerja sama sister city Surabaya-Kochi. Awal mula kerja sama sister city Surabaya-Kochi karena kesamaan letak geografis kedua kota, yaitu terletak di pinggir (kota pelabuhan) sehingga dimanfaatkan untuk perdagangan. 

Lalu, adanya kesamaan julukan, yaitu kota Industri, Perdagangan, Pendidikan, Maritim, dan Pariwisata. Kerja sama sister city Surabaya-Kochi ini bertujuan mewujudkan Spirit International Relationship, khususnya dalam bidang budaya, sosial, investasi, pariwisata, dan pendidikan. 

Selama dalam rangka kerja sama paradiplomasi ini memang jauh lebih mengedepankan pendekatan diplomasi, yaitu soft diplomacy. 

Selain itu, tujuan khusus dari tiap kota, misal Surabaya agar dapat meningkatkan perekonomian Surabaya dengan berbagai program kerja sama mereka di bidang pariwisata, ekonomi, dan budaya. Sedangkan, bagi Kochi, kerja sama ini sebagai kepentingan dari adanya interdependensi dengan Surabaya.

Banyak sekali alasan yang mendorong untuk menjalin hubungan kerja sama dalam bentuk sister city, dalam kasus ini yaitu antara pemerintah kota Surabaya dengan pemerintah kota Kochi, Jepang. Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa Surabaya telah menjalin ikatan kerja sama dengan Kochi mulai tahun 1997. 

Motif awal diadakannya hubungan kerja sama yaitu dalam bidang budaya dengan menyelenggarakan Festival Lintas Budaya. Festival tersebut kemudian menjadi kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan di Surabaya dan diisi dengan performa Tarian Yosakoi (Kochi) dan Remo (Surabaya). 

Kedua motif itu dimaksudkan sebagai pertukaran informasi dan agar para pelajar dari Surabaya mampu mengenal program dan budaya kota Kochi.

Namun dalam teori kerja sama yang sering dikatakan oleh para ahli misalnya pada teori fungsionalisme yang mengatakan adanya spillover effect dalam setiap hubungan kerja sama. Dimana spillover effect sendiri itu ketika suatu hubungan kerja sama yang fokusnya hanya ke satu bidang saja tetapi lama-kelamaan efek kerja sama tersebut membawa kerja sama baru di bidang-bidang yang lainnya. 

Hal itu terbukti dari kerja sama antara Surabaya dengan Kochi yang awalnya hanya sebatas Staff Training Program dan budaya lalu menyebar ke bidang pembelajaran, pelabuhan , pendidikan, dan pariwisata.

  1. Bidang Pelabuhan
    Kerjasama di bidang ini direalisasikan pada tahun 2012 yang dimulai ketika dilakukannya kunjungan delegasi Kochi Port ke Surabaya dalam rangka persiapan kongres INAP di mana pada saat itu Surabaya menjadi tuan rumah kongres INAP.


Lalu setahun berikutnya, kerja sama yang dilakukan semakin meningkat yang ditandai dengan penggunaan pelabuhan sebagai sarana untuk melangsungkan kegiatan ekonomi ekspor dan impor yang memudahkan akses perdagangan bagi kedua kota.


  1. Bidang Pendidikan
    Kerjasama di bidang ini juga dimulai pada 2 Oktober 2012 bersamaan dengan dikirimnya delegasi pendidikan Kota Surabaya ke Kochi. Tujuan dari dikirimnya delegasi tersebut adalah agar para pelajar di Surabaya bisa mendapatkan pengetahuan baru mengenai program dan kegiatan sekolah di Kochi.

Delegasi tersebut juga mengusulkan dibentuknya program sister school di mana dalam program itu diharapkan antar pelajar untuk saling mengenal sekolah dan mengadakan bermain bersama. Permainan tersebut bertujuan agar para pelajar dapat lebih mengenal permainan dan kebudayaan Jepang lebih dalam di mana ada 6 kegiatan di dalamnya yang sudah mereka siapkan. 

Kegiatan yang dimaksud tersebut antara lain bermain layang layang, menari yosakoi, membuat teh tradisional jepang, ikebana, bermain permainan tradisional Jepang seperti gasing dan yoyo, dan menulis kaligrafi.

Dampak
Praktik paradiplomasi yang dilakukan oleh pemerintahan kota Surabaya dengan pemerintahan kota Kochi tentu memiliki dampak bagi kedua kota, negara, dan bahkan penduduknya. Kerjasama Sister City ini, menjadi stimulan bagi roda perekonomian kota Surabaya yang bahkan kerja sama ini dapat menguntungkan perekonomian Negara. 

Dampak dari kerja sama ini ikut menembus ke dalam kebudayaan penduduk Surabaya, terutama bagi mereka yang mencintai budaya-budaya Jepang. 

Namun, tidak dapat dipungkiri, dampak yang muncul tidak selalu positif. Dalam jangka panjang, kerja sama ini rentan mempengaruhi penduduk Surabaya. Berikut adalah penjabaran tiap dampak yang disajikan: 

  1. Stimulan Roda Perekonomian

Kerjasama Sister City Surabaya dan Kochi seperti yang dipaparkan memiliki motif untuk melangsungkan kegiatan ekonomi ekspor dan impor yang memudahkan akses perdagangan bagi kedua kota. Hal ini diharapkan akan berimbas kepada peningkatan transaksi impor barang dari Indonesia menuju Kochi.

Peningkatan akibat kemudahan kegiatan ekspor dan impor yang mudah juga akan berimbas baik kepada hubungan kedua belah pihak termasuk negara yang menaunginya. 

Relasi yang baik akan membuat Kochi atau Jepang lebih tertarik terhadap barang-barang yang berasal dari Indonesia yang berujung dalam peningkatan ekonomi kota dan peningkatan penghasilan ekspor negara.

  1. Akulturasi Budaya Kedua Negara

Pertukaran budaya dan ilmu pengetahuan merupakan hal yang baik bagi kedua belah pihak. Hal ini dikarenakan, dengan adanya pertukaran ilmu dan budaya, kedua belah pihak dapat saling bertukar informasi yang mungkin belum diketahui oleh salah satu pihak lainya. 

Dalam kerja sama Sister City ini, kota Surabaya dan kota Kochi saling mengenalkan dan bertukar budaya satu sama lain, di mana kota Kochi mempersembahkan budaya Jepang khas Kochi yang dikenal sebagai Tari Yosakoi. 

Dalam responnya, kota Surabaya juga memperkenalkan tarian khas Indonesia, yaitu Tari Remo. Pertukaran budaya ini menciptakan suatu pentas seni berupa lomba dan pertunjukan Tari Remo dan Yosakoi yang kerap dilaksanakan di tiap tahunnya. 

  1. Efek Negatif dari Kemudahan Dagang

Meskipun kemudahan dagang antara kota Surabaya dengan kota Kochi dapat mempermudah negara Indonesia untuk mengekspor barang melalui kota Kochi sebagai pintu belakang. Namun, hal ini juga berlaku bagi negara Jepang yang ingin mengekspor barangnya menuju Indonesia dapat menggunakan Tanjung Perak sebagai pintu belakang. 

Terlebih lagi, kemudahan dagang dapat berimbas pada menurunnya pemasukan negara yang berupa pajak bea cukai atau biaya masuknya barang. Hal ini nantinya dapat berimbas pada ketergantungan masyarakat kepada komoditas Jepang.

  1. Hilangnya Budaya atau Identitas Penduduk Surabaya
    Pertukaran budaya dan ilmu pengetahuan merupakan suatu inisiatif yang baik. Mengetahui hal ini dapat menciptakan suatu kebudayaan yang lebih bercorak, atau sebagai suatu media untuk mempromosikan budaya kita sebagai bangsa Indonesia. 

Namun, pertukaran budaya tidak menutup kemungkinan akan terjadinya asimilasi suatu daerah atau kelompok tertentu. Hal ini berfokus kepada individu dan kelompok yang fanatik dan merupakan penggemar budaya Jepang. 

Individu atau kelompok yang mungkin tidak dapat mengendalikan fanatismenya atau memiliki keraguan terhadap identitas ibu pertiwi dapat mudah sekali untuk diasimilasikan menjadi budaya Jepang. a

Tujuan kerja sama sister city Surabaya-Kochi ini adalah untuk mewujudkan Spirit International Relationship, terlebih pada bidang sosial, budaya, investasi, pendidikan, dan pariwisata. Sedangkan bagi Surabaya sendiri agar dapat meningkatkan perekonomian Surabaya dengan berbagai program kerja sama mereka di bidang pariwisata, ekonomi, dan budaya. 

Berbeda dengan Kochi, kerja sama ini sebagai kepentingan dari adanya interdependensi dengan Surabaya.

Pada kerja sama ini, tentunya ada dampak bagi kedua kota, negara, atau bahkan penduduknya. Dampak dari kerja sama ini tidak hanya mempengaruhi sektor ekonomi, tetapi juga ke dalam kebudayaan penduduk Surabaya.

Dampak yang ditimbulkan tersebut seperti stimulan roda perekonomian, akulturasi budaya kedua negara, efek negatif dari kemudahan dagang, serta hilangnya budaya atau identitas penduduk Surabaya. 

Dampak yang didapatkan tidak selalu positif, tetapi ada pula dampak negatif yang ditimbulkan dari kerja sama sister city Surabaya-Kochi. Dalam kerja sama paradiplomasi ini lebih mengedepankan pendekatan diplomasi, yaitu soft diplomacy.