“Bagi link-nya dong, mas,” begitu isi pesan WhatsApp yang saya terima pagi itu. Tanpa basa-basi, pesan dari rekan di kantor itu cukup untuk membuat saya mengernyitkan dahi. Maklum saja, selain isi pesannya yang aneh, kami juga bekerja di departemen yang berbeda. Bahkan, ia juga sangat jarang bertemu dengan saya.

Seketika itu juga, saya menanyakan maksud pesan tersebut. Ternyata yang dimaksud adalah link download video porno mirip artis ternama. Akhir-akhir ini, video itu telah menjadi trending topic di setiap media sosial. Bahkan, ternyata telah menjadi bahan perbincangan hangat diantara rekan di kantor kami.

Pertama-tama tentu saja saya mengabaikan pesan itu. Tapi di pagi itu saja, telah masuk lebih dari 10 pesan yang bernada sama. Beberapa diantaranya, datang dari orang-orang yang tadinya saya pikir akan cukup segan untuk menanyakan hal-hal seperti itu kepada saya.

Dan yang lebih menarik lagi, yang tertarik dengan video tersebut bukan hanya kaum pria, tetapi tetapi juga para wanita. Biasanya mereka selalu merasa jengah dengan hal-hal yang berbau porno. Karena biasanya mereka selalu menafsirkan porno tersebut dengan mesum, atau sesuatu yang kotor dan tidak pantas.

Begitu juga dengan beberapa teman pria saya yang lain. Mungkin 10-15 tahun yang lalu, hanya dengan teman terdekatlah kita bisa dengan bebas meminta hal di atas. Tapi sekarang, tanpa merasa ragu dan malu, mereka secara langsung tanpa basa-basi meminta video mesum tersebut. Apakah ini berarti telah terjadi pergeseran norma atau etika yang berlaku di masyarakat kita?

Jika kita melihat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata Mesum mempunyai arti kotor, tidak senonoh atau tidak patut. Semuanya ini tentu merujuk pada suatu kondisi yang harus dihindari.

Seiring dengan berjalannya waktu, kita bisa melihat bahwa sesuatu yang mesum ini tidak lagi menjadi suatu hal yang dihindari oleh sebagian masyarakat kita. Indikasinya bisa kita lihat dari beberapa hal.

Pertama, kebebasan berekspresi yang berlebihan di sosial media. Bisa dibilang jaman ini adalah zamannya sosial media. Rasanya hampir tidak ada waktu yang kita lewati tanpa kehadiran media yang satu ini. Sayangnya, media yang satu ini juga menawarkan kontrol yang minim terhadap konten-konten asusila.  

Salah satu media sosial yang sering disebut sebagai surga-nya penikmat hiburan dewasa adalah Twitter. Pada media yang terkenal sebagai pioneer pemakaian hashtag ini, kita dapat dengan mudah menemukan konten-konten pornografi. Cukup dengan mengetikkan tanda hashtag, kemudian disusul dengan istilah-istilah yang porno, maka akan muncul banyak sekali tautan menuju konten asusila.

Selain Twitter, terdapat sosial media lain yang juga menjadi tempat berkumpulnya konten-konten pornografi ini, yaitu Telegram. Sosial media yang satu ini terkenal dengan fasilitas untuk membuat private group dan private channel. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mengakses group dan channel tersebut. Tentu saja dengan seijin dari adminnya.

Banyak admin yang kemudian menggabungkan kedua media tersebut. Yang dimaksud menggabungkan adalah jika pemilik akun Twitter, mengumpulkan follower untuk kemudian dipakai sebagai pemasok traffic untuk group atau channel Telegram yang juga ia miliki.

Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya hasil dari perpaduan ini. Kekuatan Twitter dengan hashtagnya dipadukan dengan fasilitas group dan channel yang disediakan oleh Telegram, akan membuat penyebaran konten-konten ini menjadi sangat masif. Dan sekaligus, relatif aman dari penciuman aparat penegak hukum.

Kedua, channel-channel berisi konten dewasa di Youtube. Menurut situs dreamgrow dot com, pada tahun 2020 ini terdapat sekitar 2 miliar orang per bulan yang aktif mengakses Youtube. Suatu jumlah yang sangat fantastis untuk perusahaan yang baru berdiri sejak tahun 2005 ini.

Jumlah pengunjung yang luar biasa banyaknya ini, tentu memancing banyak orang untuk membuat berbagai macam konten di youtube dengan bebas. Ditambah lagi, Youtube juga mempermudah penggunanya untuk meng-upload video yang dibuat sendiri oleh mereka.

Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh banyak orang untuk membuat video-video yang bermuatan konten dewasa. Dari yang mulai hanya secara tersamar, sampai dengan video-video yang bahkan secara verbal maupun visual, akan membuat penonton dewasapun merasa jengah.

Penggemar Youtube tentu belum lupa dengan channel Pras & Erika. Channel yang dibuat oleh pasangan suami istri ini sempat membuat heboh netizen dengan konten-konten dewasanya.

Walaupun kerap mendapatkan bully-an dari para netizen, ternyata channel ini memiliki subscriber yang mencapai hampir 200 ribu orang. Cukup untuk membuktikan bahwa channel dengan genre seperti ini memiliki peminat yang cukup banyak.

Ketiga, kehadiran majalah-majalah dengan konten dewasa, atau bisa dibilang soft porn di Playstore. Sebetulnya kehadiran majalah-majalah ini sudah ada sejak lama. Tetapi dulu kehadiran mereka yang dalam bentuk fisik majalah, membuat sebagian orang masih risih untuk membelinya.

Saat ini dengan kehadiran majalah-majalah tersebut di playstore, maka mereka bisa diakses oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun. Dan yang tambah menarik lagi ialah, salah satu aplikasi tersebut sudah diunduh lebih dari 50 ribu kali. Suatu jumlah yang cukup mencengangkan.

Melihat hal-hal tersebut, pemerintah dalam hal ini Kemkominfo tentu tidak tinggal diam. Kemkominfo telah banyak bekerja sama dengan media-media sosial seperti Twitter, Telegram, Facebook dan Youtube, untuk melakukan sensor terhadap konten-konten asusila.

Dari sisi sosial media, selain melakukan filterisasi terhadap konten-konten asusila, mereka juga menyediakan fasilitas pelaporan bagi orang yang merasa dirugikan karena konten-konten tertentu. Hanya saja, filterisasi sangatlah sulit untuk dilakukan karena pertumbuhan yang sangat masif dari konten-konten dengan genre seperti ini. Prinsip there will be supply if there is demand, sangat berlaku disini. 

Seiring dengan berjalannya waktu, makin marak konten-konten pornografi yang beredar di masyarakat, baik itu soft porn atau hard porn di berbagai media. Hal ini akan membuat banyak orang menjadi semakin terbiasa dengan konten-konten semacam ini. Dan pada akhirnya akan membuat masyarakat mempunyai sikap permisif terhadap hal ini.

Dengan sikap permisif ini, maka orang tidak lagi merasa segan, malu atau risih ketika berhadapan dengan hal-hal yang sebelumnya dianggap kotor dan hina tersebut.

Bayangkan saja, jika dulu untuk mengakses konten porno dibutuhkan usaha dengan membeli majalah, tabloid atau DVD film. Namun saat ini semua itu tidak lagi diperlukan. Cukup dengan smartphone dan sambungan internet yang memadai, maka semua orang bisa mengkonsumsi hal di atas, di mana pun dan kapan pun juga. 

Dan tanpa perlu merasa malu terhadap siapapun. Budaya rikuh dan pakewuh ketika mengkonsumsi hal-hal yang dulu dianggap mesum, menjadi hilang di tengah derasnya kemajuan teknologi informasi.

Janganlah heran jika suatu saat nanti, kata-kata seperti “Bagi link-nya dong, mas” menjadi suatu kata-kata yang tidak lagi hanya dikirimkan melalui pesan singkat di WhatsApp, atau dibisikkan ke telinga kita oleh seorang teman, tetapi menjadi kata-kata yang diteriakkan dengan keras dan lugas, di tengah keramaian banyak orang.