Kadang hidup itu paradoks sekali. Tepatnya orang melakukan hal-hal paradoks tanpa merasa aneh apalagi malu. Seperti koruptor yang menganiaya penista agama. Konon hingga melumuri tubuh si penista dengan kotoran manusia.

Terasa paradoks karena sebenarnya mereka (mungkin) sama-sama mengingkari agama. Korupsi selalu tak sejalan dengan nilai agama, karena korupsi hanyalah varian dari mencuri. Demikian juga menista. Ini bila kita kembalikan fungsi asal agama sebagai agen moral. Entah apakah kini agama masih sama fungsinya. Yang jelas, sesama penista nilai-nilai agama, kok yang satu merasa pembela agama? Lebih paradoks lagi saat kita sadar ia adalah mantan aparat keamanan. Aparat keamanan main hakim sendiri? Multiple paradox...

Tetapi perbuatan membabi buta menyiksa pelaku penistaan agama yang dilakukan si mantan aparat keamanan sekaligus koruptor itu menjadi dapat dipahami jika kita kaitkan dengan politik populisme yang kini marak. Dalam populisme, pelaku-pelakunya kerap melakukan pendekatan politik ke masyarakat dengan melabeli diri membawa kepentingan ‘rakyat’, untuk kemudian mencap lawan politik sebagai hanya mewakili kepentingan suatu kelompok yang disebut ‘elit’.

Pelaku populisme sadar betul untuk mengakomodir rasa ditinggalkan, termarjinalkan dan ‘terdzolimi’ yang kerap melanda masyarakat umum yang berciri emosional, tidak mampu berpikir rasional. Dalam populisme ini, politisi akan terus menciptakan seseorang atau kelompok untuk dijadikan musuh bersama. Masyarakat emosional biasanya akan mudah termakan propaganda politisi populisme ketika politisi tersebut mengumbar janji untuk menghantam, membunuh, atau menghancurkan musuh bersama itu. Mereka tak peduli pada politisi baik dan rasional yang menawarkan perbaikan sistem kenegaraan, perbaikan ekonomi atau perbaikan lainnya. Mereka hanya ingin memuaskan emosi dan amarah mereka.

Populisme sangat berhasil dilakukan Donald Trump dalam Pilpres Amerika tahun 2016. Kasus Brexit konon juga memanfaatkan populisme. Demikian juga kasus Ahok pada 2016. Pola ini pula yang sedang dimainkan aparat keamanan sekaligus koruptor itu.

Tentang fungsi agama sendiri, saya teringat obrolan antara Dokter Ryu Hasan dan Sudjiwo Tedjo di Youtube. Dr. Ryu mengatakan bila eksis selama ribuan tahun, agama pasti punya manfaat. Hukum alam selalu mencatat, segala yang tak lagi memberikan manfaat akan punah. Meski mungkin ada pergeseran manfaat, tak melulu agen moral. Artinya, dimungkinkan pula ada nilai-nilai dari 'isme' lain yang bisa dijadikan agen moral. Artinya lagi, bila agama kemudian terlalu meleset dari tujuan awalnya yang bermanfaat itu, agama dimungkinkan tergeser hal lain yang lebih bijak bestari.

Kembali ke obrolan dr. Ryu dan Sudjiwo Tedjo, obrolan itu meninggalkan rasa yang pedih karena dr. Ryu mengutip kisah Palgunadi dalam pewayangan. Pemanah tekun dengan kemampuan melebihi Arjuna. Karena saya tidak begitu paham perwayangan, (hanya komik Mahabharata karya RA Kosasih yang pernah saya baca), saya pun membuka Wikipedia. Dijelaskan bila Palgunadi mengagumi Drona, guru para Pandawa dan Kurawa. Ia pun memohon pada Drona agar diperbolehkan menjadi muridnya, sayang Drona menolak karena takut Palgunadi akan menyaingi Arjuna murid kesayangannya.

Selanjutnya adalah kisah tentang kegigihan dan tekad. Palgunadi belajar memanah dengan tekun, sembari membuat patung Drona yang dikaguminya. Memuliakan patung tersebut seakan-akan Drona asli sedang melatihnya. Berkat kegigihannya dalam berlatih, Palgunadi menjadi seorang prajurit dengan kecakapan memanah melebihi Arjuna. Sayang kisah itu berakhir pedih menurut saya. Membuat saya merasa semesta seringkali tak adil. Survival of the fittest itu tak adil. The winner takes it all.

Tetapi teman saya mengingatkan, ia terkesan sekali dengan kata-kata dr. Ryu bahwa ‘yang mencari akan selalu lebih unggul dari yang hanya menerima’. Serupa dengan peribahasa bahwa ‘tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah’. Saya merasa senang diingatkan hal ini. Proaktif memang selalu lebih berharga daripada hanya pasif dan berharap. Palgunadi adalah seorang proaktif, punya kemauan kuat dan disiplin, otodidak. Palgunadi adalah contoh manusia masa lalu untuk Bill Gates, Steve Jobs ataupun mereka-mereka yang berhasil meski tak menyelesaikan pendidikan formalnya.

Dalam kisah Mahabharata versi India, Palgunadi disebut Ekalawya. Kata ekalavya secara harfiah berarti ‘ia yang memusatkan pikirannya kepada suatu ilmu’. Saya teringat, dalam komik Mahabharata RA Kosasih digambarkan, Ekalaya hanya melihat leher burung yang menjadi sasarannya, saat memanah. Murid-murid lain, saat ditanya Drona apa yang mereka lihat sebelum memanah, menceritakan tentang burung yang indah, awan, pohon dan aneka benda lain. Termasuk Arjuna si murid kesayangan.

Palgunadi tidak seperti kebanyakan itu. Ia konsentrasi dan fokus. Saya yakin ia pun abai dengan keributan di sekelilingnya saat berkonsentrasi. Ia mungkin tipe yang tak peduli andai ada musik yang hingar bingar saat belajar memanah. Alih-alih mengecam musik.

Secara kebetulan, beberapa hari lalu, sahabat saya mengirim saya tulisan tentang filsuf puitis Schopenhauer. Schopenhauer seorang peka. Tipe orang yang bisa menyerap begitu banyak informasi tentang apa yang terjadi di sekitarnya. Dalam diam, hanya mengamati, mendengar dan merasa. Ia bahkan bisa bersedih saat mendengar rintih kuda, bisa merasakan kesakitan yang diderita si kuda. Sekarang peka, seorang introvert, sering menghindari tempat yang ramai, karena rasa bising dan mengakibatkan aneka informasi mendadak berputar di benak. Melelahkan.

Bagi Schopenhauer, kebisingan lebih dari sekadar gangguan. Kebisingan merupakan tolok ukur karakter seseorang. Menurutnya, toleransi seseorang akan kebisingan, berbanding terbalik dengan kecerdasannya. “Maka ketika aku mendengar gonggongan anjing yang terus-menerus selama berjam-jam di pekarangan sebuah rumah, aku tahu seperti apa penulisnya..” tulis Schopenhauer.

Studi menemukan bahwa deru pesawat saat lepas landas dan mendarat dapat membuat tekanan darah kita naik, detak jantung berpacu, dan memicu hormon stress. Artinya kebisingan bukanlah sesuatu yang berdampak positif bagi kesehatan. Tetapi ada kebisingan lain yang menurut Schopenhauer lebih berbahaya: kebisingan mental. Kebisingan mental tak sekadar mengganggu. Lingkungan yang bising membuat kita kehilangan konsentrasi dan menjadi tak produktif. Dalam esainya On Authorship, Schopenhauer meramalkan hiruk pikuk pelumpuh pikiran yang bernama media sosial. Ketika suara yang benar tenggelam oleh kegaduhan baru.

Palgunadi telah melatih dirinya berkonsentrasi hingga bisa mengabaikan keriuhan di sekitarnya. Sebaliknya, saya sering jengkel dengan kebisingan di sekitar karena tentu saja kemampuan konsentrasi saya masih sangat payah. Namun demikian, meski kerap merasa bising dan jengkel, kita tidak perlu memprovokasi sekitar agar membenci pembuat bising. Seharusnya kita seperti Palgunadi, melatih diri hingga akhirnya abai dengan kebisingan di sekitar kita. Tetap produktif, ada dan tidak ada kebisingan. Tidak mencari kambing hitam. Tidak membuat kebisingan mental, menenggelamkan kebenaran oleh kegaduhan baru seperti kata Schopenhauer.