Sudah bukan hal yang mengejutkan lagi bila saat ini banyak bermunculan dai-dai baru. Sebab untuk terkenal saat ini seseorang hanya perlu memiliki gaya berdakwah yang unik dan menarik, kemudian membuat video dan mengunggahnya di media sosial, baik FB, IG, ataupun YouTube. 

Jika videonya disenangi dan dibagikan sehingga ditonton banyak orang, tentu ia akan terkenal. Salah satunya adalah Hawariyyun. Ia terkenal melalui konten-konten dakwahnya dengan IG sebagai wasilahnya.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa dai adalah mereka yang mengemban amanah untuk menyiarkan dan menyerukan ajaran Islam bagi masyarakat. Selain itu, mereka dalam masyarakat juga merangkap sebagai tempat bertanya terkait perkara agama yang mereka tidak ketahui dan membingungkan. Singkatnya, para pendakwah memiliki kedudukan yang vital di tengah masyarakat.

Persoalan agama yang mereka tanyakan pun beragam. Ada yang berkaitan dengan masalah agama sehari-hari, mulai dari akidah, ibadah, muamalah, dan permasalahan yang mereka hadapi sebagai individu maupun anggota keluarga rumah tanggga. 

Bahkan lebih jauh, pertanyaan yang diajukan telah menjurus pada masalah-masalah besar, seperti pandangan Islam terhadap nasionalisme, hubungan antara agama dan negara, terorisme-radikalisme, dan isu toleransi beragama yang sedang marak saat ini. 

Nah, karena yang dimintai pendapat adalah orang Islam, maka di dalam menjawab seorang pendakwah haruslah merujuk pada sumber-sumber ajaran Islam yang oleh ulama telah disepakati, antara lain Alquran, hadis, ijmak, dan qiyas. Tetapi, di antara keempat sumber tersebut, kebanyakan yang dijadikan rujukan ialah ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis nabi.  

Tetapi perlu diketahui bahwa tidak semua mereka yang dipandang sebagai pendakwah memiliki spesialisasi dan keahlian pada disiplin ilmu tertentu seperti tafsir, hadis, fiqh, ushul fiqh, dan tasawuf. Sehingga mereka tidak bisa serta-merta menjawab seluruh persoalan, kecuali pada hal-hal yang mereka mengetahuinya.

Namun anehnya, di media sosial tidak jarang sebagian dari pendakwah memaksakan diri untuk menjawab hal-hal yang sesungguhnya di luar kapasitasnya hanya karena ingin terlihat mengetahui segala sesuatu. Inilah yang terkadang membuat gerah. Sebab banyak dari jawaban yang mereka lemparkan justru menimbulkan kesan seakan-akan bahwa Islam adalah agama yang kaku dan radikal (keras). 

Parahnya lagi, kehadiran para pendakwah ini justru menggeser keberadaan para pakar yang kredibel, dalam hal ini adalah bidang tafsir dan yang tentunya kita ketahui bersama memiliki otoritas untuk menafsirkan ayat-ayat Alquran.

Kemudian sungguh disayangkan pendapat para pendakwah tersebut malah lebih didengar oleh masyarakat dibanding pendapat pakar yang berkompeten untuk penafsiran sebuah ayat Alquran hanya karena mereka terkenal dan memiliki jutaan penonton (viewers) dan pengikut (followers) di media sosial. 

Padahal, bila dilihat dari segi ilmu, bisa jadi mereka ini justru biasa-biasa saja. Inilah yang saya sebut sebagai fenomena tafsir di Indonesia. Di mana penafsiran sebuah ayat secara tidak langsung sudah tidak lagi diserahkan pada ahlinya yang pasti sudah bersusah payah dalam menggeluti dan mendalaminya selama bertahun-tahun.

Contoh kasus yang sangat mencolok dari mereka adalah pernyataan-pernyataannya tentang saudara kita yang berbeda iman. Mereka tidak jarang menghina dan bahkan sampai menjelek-jelekkan agama mereka. Padahal hal ini justru sangat bertentangan dengan Alquran.

Ayat yang sering digunakan demi melegitimasi sikap intoleran tersebut adalah ayat yang mengatakan bahwa agama terbaik di sisi Allah adalah Islam. Hal ini benar. 

Akan tetapi, mengingat realitas masyarakat kita belum seluruh dan sepenuhnya cerdas dalam mencerna materi yang disampaikan oleh para pendakwah, maka harus diketahui bahwa dalam aplikasinya ayat itu lebih kepada sikap kita ke dalam, di internal umat Islam. Adapun sikap eksternal, dalam kaitannya bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, Alquran mengajarkan sebagaimana firman Allah berikut ini:

Katakanlah (wahai Muhammad): “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi?” Katakanlah: Allah, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau kesesatan yang nyata. 

Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat, dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu perbuat.” Katakanlah: “Tuhan akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.”

Tentu penafsiran ini akan lebih baik dianut dan dijadikan pedoman oleh umat Islam dalam menciptakan hubungan yang harmoni khususnya untuk masyarakat plural seperti kita di Indonesia. Apalagi dengan penafsiran ini, kita umat Islam sangat diuntungkan karena justru menggambarkan Islam yang ramah bukan marah.

Dengan apa penafsiran seperti ini bisa didapatkan? Hal itu tergantung pada keluasan dan kedalaman ilmu sang penafsir beserta lingkungan sosial yang mengitarinya. Jika seorang mufassir berwawasan luas, maka penafsiran yang dihasilkannya moderat dan fleksibel. Namun jika berwawasan sempit lagi dangkal, maka hasilnya cenderung digit dan ekslusif.

Untuk kesimpulan akhirnya ialah bahwa penafsiran ayat Alquran tidak diserahkan kepada ustaz-ustaz terkenal di media sosial, terlebih lagi apabila mereka sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang kaidah-kaidah tafsir, tetapi harus diserahkan kepada ahli tafsir yang pastinya tidak hanya belajar satu perspektif, melainkan banyak. 

Dengan demikian, ia bisa menentukan sikap dan memilih pendapat yang lebih baik di antara pendapat-pendapat yang ada. Jika tidak, maka hal itu nantinya bisa berakibat fatal seperti orang-orang yang melakukan teror bom bunuh diri akibat penafsirannya yang keliru terhadap Alquran karena menganggap tindakannya tersebut adalah jihad yang direstui oleh agama.