Pariwisata merupakan kegiatan yang digemari oleh semua kalangan. Orang-orang melakukan kegiatan wisata untuk mendapat kesenangan tersendiri.

Menurut UNWTO, pariwisata adalah kegiatan mengunjungi suatu tempat di luar lingkungan sehari-harinya dan tinggal di sana selama kurang dari satu tahun dengan tujuan leisure, bisnis, dan kepentingan lainnya. Pariwisata sendiri memiliki berbagai macam jenis, mulai dari wisata alam, budaya, hingga dark tourism. Salah satunya adalah Pop-culture Tourism.

Pop-culture merupakan kependekkan dari kata “popular culture” atau budaya populer yang berarti fenomena yang mengacu pada kepercayaan, praktik-praktik, dan objek yang menyatu dalam satuan kesatuan hidup masyarakat. Dalam hal ini, kepercayaan, praktek-praktek, dan objek yang dimaksud adalah yang sedang terjadi saat ini dan dikenali juga disukai oleh banyak orang. 

Budaya ini berkembang mengikuti seiringnya perkembangan zaman melalui industri media komunikasi, seperti film, komik, buku, lagu, televisi, iklan, dan selebritis. Budaya ini memberi pengaruh yang besar bagi masyarakat. Melalui berbagai macam media komersial, seperti televisi, berita, radio, dan internet, masyarakat dapat melihat hal-hal yang sedang populer saat ini dan mencoba untuk mengikutinya. Istilah “popular culture” pertama kali muncul pada abad ke-19.

Pop-culture tourism merupakan jenis wisata yang tergolong dalam jenis wisata minat khusus. Menurut WTO, wisata minat khusus atau special interest tourism adalah wisata khusus yang diikuti sekelompok orang atau individu dengan minat tertentu untuk mengunjungi objek wisata yang berhubungan dengan suatu subjek spesifik. 

Pop-culture tourism merupakan kegiatan wisata mengunjungi objek-objek wisata yang dianggap sedang populer atau berhubungan dengan hal-hal yang populer saat ini. Wisatawan-wisatawan yang melakukan pop-culture tourism umumnya ingin merasakan atau menjadi bagian dalam budaya populer itu sendiri.

Saat ini, salah satu tujuan pop-culture tourism yang paling diminati adalah di Korea Selatan. Budaya populer di Korea Selatan terkenal melalui media hiburannya, seperti drama, film, dan lagu-lagunya. Banyak masyarakat, terutama penggemar budaya populer Korea Selatan ingin berada di dalam scene drama yang telah ditontonnya, bertemu aktor, aktris, dan idola favoritnya, bahkan ingin mencoba makanan yang terdapat di film dan drama yang ditayangkan.

Oleh karena itu, jumlah wisatawan yang datang ke Korea Selatan meningkat dengan pesat. Tren ini disebut juga dengan “Hallyu” atau “Korean Wave”. Banyak biro perjalanan yang membuka paket wisata dengan tema hallyu yang menawarkan destinasi-destinasi menarik seperti menonton acara televisi tempat boygroup atau girlgroup populer di Korea Selatan tampil, setting-setting scene drama yang terkenal seperti N Seoul Tower dan Sungai Han, berkunjung ke agensi-agensi k-pop terkenal dan wisata belanja merchandise dari artis-artis populer di sana. 

Terdapat juga sekelompok orang yang menawarkan paket wisata dengan konsep idol pilgrimage yang merupakan wisata ke destinasi-destinasi yang pernah dikunjungi atau dimiliki oleh idol-idol Korea Selatan, seperti kafe-kafe yang pernah dikunjungi, membeli barang-barang persis seperti yang dimiliki idol tersebut, mendatangi restoran yang dimiliki oleh idol tersebut dan keluarganya, hingga menginap di hotel yang pernah diinapi oleh idol tersebut. Kementrian 

Budaya dan pariwisata Korea Selatan juga telah menjadikan artis-artis populernya, seperti EXO dan BTS menjadi brand ambassador dalam mempromosikan sektor pariwisata Korea Selatan.

Selain Korea Selatan yang terkenal karena hallyu-nya, orang-orang juga melakukan pop-culture tourism dengan pergi ke berbagai destinasi yang populer karena digunakan sebagai setting film, seperti mengunjungi New Zealand untuk melihat rumah Hobbit, Alnwick Castle di Inggris yang merupakan Hogwarts dalam seri Harry Potter, mengunjungi tempat-tempat ikonik di Kota New York, seperti Empire State Building, Central Park, Patung Liberty, dan Times Square yang pernah menjadi setting film-film terkenal seperti Joker, Avenger, Fantastic Beasts and Where to Find Them, dan banyak destinasi lainnya.

Selain berkunjung ke lokasi syuting film-film terkenal, orang-orang juga mengunjungi studio film, seperti Paramount Studio, Sony Pictures Studio, Pixar Animated Studios, dan lainnya.

Los Angeles, California merupakan salah satu destinasi pop-culture tourism yang populer. Los Angeles merupakan tempat dimana diproduksinya film-film yang menarik dan juga merupakan tempat tinggal artis-artis ternama, seperti keluarga Kardashian, Johnny Depp, Reese Witherspoon, Halle Berry, dan Angelina Jolie.

Tidak hanya itu, di Los Angeles juga terdapat Hollywood Boulevard yang merupakan ikon dari Los Angeles dimana terdapat museum, bangunan bersejarah, dan objek wisata lainnya yang berhubungan dengan film dan hiburan. Di Hollywood Boulevard, terdapat berbagai macam objek wisata, seperti Walk of Fame dimana terdapat plakat-plakat artis-artis Hollywood di sepanjang Hollywood Boulevard, Mann’s Chinese Theater, Hollywood Galaxy Houses yang merupakan museum film, Dolby Theatre, El Capitan Theatre, dan The Hollywood Wax Museums dan Madame Tussauds Hollywood yang memiliki koleksi patung artis-artis Hollywood.

Lagu dan literatur juga dijadikan inspirasi dalam melakukan pop-culture tourism. Abbey Road di London mulai terkenal dan ramai didatangi wisatawan setelah dijadikan latar album “Abbey Road” milik The Beatles. Rumah milik Elvis Presley di Tennessee juga dijadikan sebagai destinasi para penggemar yang ingin mengenangnya setelah pemusik tersebut meninggal. Latar tempat dalam buku-buku bestseller seperti Twilight dan Hunger Games yang berada di Amerika Serikat juga ramai didatangi wisatawan sejak bukunya terjual laris dan terkenal di kalangan masyarakat.

Jepang juga merupakan destinasi pop-culture tourism yang selalu ramai didatangi wisatawan. Jepang terkenal dengan komik dan animasinya yang populer di seluruh dunia. Para penggemar biasanya mengunjungi Jepang untuk mengunjungi destinasi wisata yang memiliki tema berkaitan dengan komik dan animasi, seperti kafe komik, maid café, Tezuka Osamu Manga Museum, Ghibli Museum, Akihabara, dan masih banyak lagi.

Di Indonesia sendiri juga terdapat berbagai macam destinasi pop-culture tourism yang dapat dikunjungi, seperti Observatorium Boscha di Lembang yang merupakan latar tempat film “Petualangan Sherina”, Kota Bandung yang merupakan latar tempat film “Dilan”, Kota Yogyakarta dan sekitarnya merupakan lokasi syuting “Ada Apa dengan Cinta 2” dengan berbagai macam destinasi wisata seperti Gereja Ayam, Punthuk Setumbu, Kotagede, dan lainnya, juga Belitung sebagai latar tempat syutingnya film “Laskar Pelangi”.

Menurut Iwashita (2008), objek wisata yang berhubungan dengan budaya populer seperti ketika orang-orang mengunjungi objek wisata yang berhubungan dengan televisi dan film, telah menarik perhatian banyak wisatawan dan meningkatkan sektor pariwisata selama waktu ke waktu. Pop-culture tourism juga telah memberi dampak yang baik bagi wisatawannya dan sektor pariwisata itu sendiri.

Pop-culture tourism memberi kesempatan pada wisatawan untuk bisa merasakan, menyentuh, melihat, dan membayangkan apa yang terjadi di film, lagu, atau buku yang mereka lihat ketika berada di destinasi wisata. Di sisi lain, pop-culture tourism membantu sektor pariwisata dalam meningkatkan jumlah wisatawan yang datang dan secara tidak langsung menambah pendapatan negara. Oleh karena itu, wisata berbasis pop-culture sangatlah menarik untuk dicoba.