Penghinaan berkerlanjutan terhadap kaum perempuan tampaknya kian meraja lela. Keberadaan Undang-undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual pun masih belum bekerja sebagaimana mestinya. 

Kasus yang sudah dilaporkan sejak tahun 2019, baru hendak di proses kembali di tahun 2022? Kemana saja aparat kepolisian Jombang Jawa Timur selama hampir 3 tahun lamanya?

Meminta keadilan di Negara sendiri sama halnya mempercayai kisah Fantasi. Dua tahun lebih kasus pencabulan Santri dihilangkan lantaran pelakunya adalah spek lelaki putra Kiyai. 

Lalu kasus serupa akan mengorbankan para Santri berapa banyak lagi?

***

Meski terlambat setidaknya kasus pencabulan Santri di Jombang-Jawa Timur telah terkuak kepada khalayak ramai. Pelaku dengan nama lengkap Muhammad Subchi Azal Tsani (Dibaca : Bechi) yang merupakan putra dari Pimpinan Pondok Pesantren Shiddiqiyyah Desa Losari, Kecamatan Ploso, Jombang akhirnya menyerahkan diri ke Polda Jawa Timur pada Kamis malam, 7 Juli 2022 kemarin.

Nyaris 3 tahun menyandang label DPO ( Dibaca : Daftar Pencarian Orang) pasca ditolak melakukan banding di tahun 2019 silam, menjadikan sejumlah tokoh publik geram terhadap sikap pandang bulu yang dilakukan oleh aparat kepolisian Jombang tersebut.

Bahkan disebut-sebut penjemputan paksa Bechi pada tanggal 7 Juli itu sudah melibatkan Polda Jawa Timur. Dilaporkan bahwa pada tanggal 3 Julinya, Polres Jombang telah melakukan penyergapan terhadap 3 unit mobil yang dicurigai bahwa salah satunya membawa sosok Bechi.

1 dari mobil tersebut menabrakkan dirinya kepada satuan kepolisian dan berhasil tertangkap, namun di dalamnya tidak ditemukan pelaku lantaran 2 unit mobil yang lain berhasil kabur dan melarikan diri.

Kendati melibatkan Polda Jawa Timur, nyatanya penjemputan paksa ke Pondok Pesantren pun tidak berjalan mulus. Massa Pondok Pesantren tampak menghalang-halangi aksi pihak kepolisian seolah mengulur waktu.

Sayangnya, pihak kepolisian hanya mendapati Pimpinan Pondok Pesantren yang merupakan Ayah dari Bechi bernama Mukhtar Mukthi.

Dirinya juga sempat berkelit bahwa tuduhan tersebut adalah fitnah meski Komisioner Kompolnas, Benny Mamoto langsung menyanggah ucapan tersebut dengan mengatakan bahwa ; 

Penyelidikan telah dilakukan dan sudah terdapat beberapa bukti yang cukup untuk melanjutkan kasus tersebut di pengadilan.

Alhasil, sang Ayah pun menjanjikan bahwa dirinya langsung yang akan mengantarkan Bechi ke Polda Jawa Timur, dan meminta agar jangan membawa paksa putranya seperti yang dilakukan oleh aparat kepolisian pada hari itu.

Telah viral baru-baru ini unggahan berisi pengakuan santri bahwa pada tahun 2019 telah terjadi kasus pencabulan terhadap 5 orang santriwati yang merupakan korban dari Bechi. 

Sedang salah satu di antaranya sudah angkat bicara dan memberikan pemaparan melalui sebuah video serta melaporkan kasus tersebut ke Polres Jombang.

Saya mendapati sesuatu yang "Meleset/sesat" di sini lantaran dalam unggahan tersebut, korban menjelaskan "Modus/alibi" yang digunakan oleh Bechi dalam menjalankan misinya. 

Dimana semula Bechi membahas dulu seputar "Metafakta" (Dibaca : sebuah situasi yang diyakini olehnya bahwa ada hal yang tidak bisa dijelaskan menggunakan akal).

Berlanjut, Bechi pun meminta santri perempuan itu untuk melepaskan bajunya, dan ketika perempuan itu menolak, Bechi mengatakan bahwa ; 

Perempuan itu masih menggunakan akal dan belum menjiwai Metafakta. Untuk menetralkan sang perempuan, maka terlebih dahulu perempuan itu harus melepaskan pakaiannya.

Tolong Kementrian Agama! Tolong cari tau, ini aliran apa ini?! Tolong, saya sebagai umat Muslim mewakili seluruh umat Muslim di luar sana yang menyadari "Penyimpangan" ini, meminta tolong agar Kementrian Agama ikut mencari tau lebih lanjut tentang apa yang diajarkan oleh pihak Pondok Pesantren Shiddiqiyyah Jombang, kepada santri-santrinya?!

Dan terima kasih atas putusan Kementrian Agama yang telah membekukan sistem operasional Pondok Pesantren Shiddiqiyyah serta dikeluarkannya pembekuan nomor statistik dan tanda daftar pesantren oleh Direktur pendidikan diniyah dan Pondok  Pesantren bersama Kementrian Agama.

"Sebagai regulator, Kementrian Agama memiliki kuasa administratif untuk membatasi ruang gerak lembaga yang di dalamnya diduga melakukan pelanggaran hukum berat," Papar mereka. 

Tidak hanya itu, Wali murid pun diminta untuk menjemput putra dan putri mereka, dan akan dibantu proses pemindahan para santri ke Pondok Pesantren yang lain.

Seperti yang dipaparkan oleh Kepala Kantor Kemenag Jombang berikut,

"Telah diadakan pendekatan kepada Wali murid untuk menjemput peserta didik dan memindahkannya ke Pondok Pesantren yang lebih aman,

Pembekuan yang dilakukan membuat segala aktivitas pelayanan di Pondok Pesantren tidak lagi diakui oleh Pemerintah, termasuk pelayanan penyetaraan paket B dan C."

Begitu juga dengan saya yang menyetujui keputusan ini, ingin mengingatkan kepada Bapak/ Ibu wali murid Pondok Pesantren Shiddiqiyyah Jombang. Silakan menjemput putra dan putri Bapak/Ibu sekalian untuk pulang. Dan pindahkan saja ke Pondok Pesantren yang lain.

Ingat, Instansi dengan mekanisme yang tidak berprikemanusiaan, tidak layak untuk dijadikan altar pendidikan.