Bagi Anda yang tinggal di Jawa, familiarkah dengan wangi kepulan asap yang dihembuskan knalpot-knalpot kendaraan setiap hari? Untuk Anda yang tinggal di Kalimantan dan Sumatra, familiarkah dengan kabut asap kebakaran hutan yang terus berulang setiap tahunnya?

Makin tua umurnya, dunia makin panas dan bertambah sesak. Mesin-mesin pembangunan terus memompa emisi kotor, separuh dunia tak punya akses bahan bakar dan teknologi bersih. Badan kesehatan dunia WHO menyebut bahwa ada sembilan dari sepuluh orang menghirup udara tercemar. Polusi udara membunuh tujuh juta orang setiap tahun.

"Polutan mikroskopis di udara bisa menyelinap melewati pertahanan tubuh, menembus sistem pernapasan dan peredaran darah. Merusak paru-paru, jantung, dan otak kita," demikian WHO memperingatkan efek polusi udara terhadap kesehatan.

Dari laman resmi WHO, setidaknya kita bisa membedakan jenis polutan udara berdasar lingkup daerah paparan, pencemaran udara terbuka, dan pencemaran udara rumah tangga. Jenis pencemaran terakhir mengacu pada polusi yang dihasilkan dari bahan bakar rumah tangga, misalnya pembakaran batu bara, kayu, dan minyak tanah.

Meski berada pada lingkup terbatas, namun polusi udara rumah tangga dapat membunuh 4 juta orang setiap tahunnya. Mereka yang terpapar polusi jenis ini biasanya adalah perempuan dan anak-anak di Asia dan Afrika yang masih menggunakan bahan bakar konvensional dan cenderung lebih sering berada di dalam ruangan.

Statistik terakhir yang ditunjukkan WHO pada tahun 2018 menggambarkan betapa polusi udara memiliki dampak buruk pada anak-anak. Penyakit asma menghampiri sekitar 14 persen anak usia 5-18 tahun di dunia akibat polusi. Sebanyak 543 ribu anak dengan usia yang lebih muda, yakni di bawah lima tahun harus kehilangan nyawa karena penyakit pernapasan terkait polusi udara.

Polusi juga menurunkan fungsi kognitif pada manusia, baik anak maupun dewasa. Singkatnya, penurunan kecerdasan dan meningkatkan penyakit degeneratif seperti demensia (pikun).

Dalam jangka panjang akan menumpuk dan menimbulkan radikal bebas, hingga akhirnya tak dapat ditangkal antioksidan dalam tubuh. Kondisi ini merangsang perubahan sel dalam saluran pernapasan, polusi diserap ke pembuluh darah, dan menyebar ke berbagai organ tubuh.

Pada akhirnya udara kotor menyumbang risiko kanker paru, peradangan sistemik, penurunan fungsi paru, merangsang terbentuknya risiko penyempitan pembuluh darah, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), stroke, penyakit jantung, serta diabetes. Polusi, baik di udara terbuka atau di tingkat rumah tangga, sama-sama berbahaya. Keduanya saling berkaitan udara bergerak dari dalam ruangan ke luar, dan sebaliknya.

Sebagai organ pernapasan paling akhir, paru-paru jadi sarang partikel kecil berbahaya dalam polusi udara.

Mungkin kita tak bisa dengan mudah memutuskan bermigrasi ke daerah lain begitu tahu kota tempat tinggal kita dipenuhi oleh polutan. Karenanya dapat dianjurkan beberapa cara untuk meminimalkan dampak kesehatan dari polusi udara. Penggunaan masker mutlak dilakukan, apalagi ketika kualitas udara sudah berada di level tidak sehat.

Berdasarkan nilai Air Quality Index, kualitas udara dapat dikategorikan baik bila nilainya berada antara angka <50. Sementara kualitas sedang ada di angka 51-100, kurang sehat angka 101-150, tidak sehat angka 151-200, sangat tidak sehat 201-300, dan berbahaya >300. Angka yang sensitif harus mulai waspada ketika AQI berkisar antara angka 100-150.

Kualitas udara mulai membahayakan seluruh lapisan masyarakat ketika angka AQI melebihi 150. Jika sudah begitu, kurangi aktivitas yang berada di luar ruangan. Unduh aplikasi Air Visual untuk mengontrol kualitas udara. Pastikan pemakaian masker sudah tepat dan tidak bocor agar fungsi perlindungannya optimal.

Gunakan masker ideal tipe N95. Ini efektif partikel 100 kali lebih halus dari satu helai rambut karena ada lapisan penyaring khusus.

Kesehatan paru-paru harus dicek secara berkala, ditambah menghentikan kebiasaan merokok, rajin olahraga, serta menjalani pola hidup sehat. Bisa juga dengan mengonsumsi makanan antioksidan slsmi dari buah, sayur, dan kacang-kacangan. Vitamin C yang ada pada lemon, jeruk, dan kiwi adalah antioksidan paling kuat untuk tubuh yang membantu proses regenerasi sel.

Baca Juga: Polusi Cahaya

Konsumsi secara rutin dapat mengurangi risiko terjadinya gangguan kesehatan pada tubuh akibat polusi udara.

Selain vitamin C, kita juga memerlukan bantuan Vitamin E untuk melawan peradangan pada jaringan tubuh. Vitamin E terkandung dalam minyak bunga matahari, canola, kacang, salmon, telur, dan minyak zaitun. Lalu beta karoten yang terdapat pada selada, wortel, dan bayam merupakan mineral berperan mengendalikan peradangan.

Terakhir, konsumsilah makanan kaya lemak omega-3 guna melindungi kesehatan jantung dan profil lipid dari polutan berbahaya. Sumber lemak omega-3 ini di dapat dari kacang-kacangan, biji-bijian, serta minyak ikan.

Kita tak bisa melawan dunia yang makin tua dan tak ramah bagi penghuninya. Satu-satunya jalan adalah berdamai dengan kondisi yang ada, tentu sambil berusaha mengurangi efek polusi dengan cara hidup yang lebih hijau.