Kehadiran Islam (Arab: الإسلام) sebagai satu set ajaran (Arab: الدين) yang menyebarkan kasih tanpa pilih kasih kepada seluruh komponen alam raya (Arab: رحمة للعالمين) hanya bisa bermakna secara utuh kalau turut menyertakan aspek kesadaran terhadap lingkungan (Inggris: environmental awareness). 

Fakta bahwa manusia merupakan bagian dari siklus energi dan rantai materi alam raya yang saling menopang harus menjadi bagian dari kesadaran beragama. Dengan demikian, perlu dikembangkan nilai persaudaraan lain yang tidak hanya ditujukan kepada sesama manusia saja, melainkan kepada sesama makhluk Allōh. 

Persaudaraan antar sesama manusia (Arab: أُخُوَّة بَشَرِيَّة; ukhuwwah basyariyyah) sangat baik dalam menghadapi interaksi sosial yang majemuk. Namun, persaudaraan antar sesama komponen alam raya (Arab أُخُوّة عَالَمِيّة; ukhuwwah ‘alamiyyah) seperti dengan kucing dan udara juga perlu dipupuk.

Lingkungan menyediakan sumber daya alam yang dapat digunakan oleh manusia untuk memenuhi maupun menunjang kebutuhan. Namun, ragam kegiatan manusia secara sadar atau tidak, memicu penurunan kualitas lingkungan. Akibatnya, lingkungan tidak dapat berguna secara semestinya. Penurunan kualitas lingkungan tersebut secara umum disebabkan oleh pencemaran atau polusi.

Salah satu bentuk pencemaran ialah polusi cahaya, yang dapat dimaknai sebagai keadaan cahaya berlebih, baik dari sumber alami maupun buatan. Seperti lazimnya bentuk pencemaran lain (air, tanah, udara, dan suara), polusi cahaya memberikan dampak buruk terhadap lingkungan.

Sayangnya, masyarakat tampak cuek terhadap bentuk polusi ini. Tandanya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) maupun Kementerian Agama (Kemenang) selaku institusi yang menangani pendidikan formal, belum serius memasukkan topik polusi cahaya ke dalam pembelajaran. 

Sementara Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) belum menyajikan naskah perundang-undangan yang memfasilitasi laporan atas polusi cahaya sebagai delik aduan, baik secara perdata maupun pidana. Masyarakat umum pun tampak belum mengerti dampak buruk polusi cahaya, sehingga justru merasa gembira ketika suasana lingkungan malam dibuat gemerlap.

Artikel ini menyajikan beberapa dampak buruk polusi cahaya. Melalui uraian seadanya ini, diharapkan masyarakat lebih mengerti bahwa polusi cahaya bukanlah persoalan asal-asalan. Dengan mengerti dampak buruk yang ditimbulkan, diharapkan semua pihak dapat bersatu untuk mencegah dan/atau mengatasi.

Dampak Buruk Polusi Cahaya terhadap Aktivitas Astronomi

Astronom menjadikan alam semesta sebagai laboratoriumnya. Tidak seperti kebanyakan aktivitas di dalam laboratorium lainnya, astronom nyaris tidak dapat bereksperimen secara langsung dengan objek kajiannya. Alih-alih melakukan “eksperimen – teori”, astronom justru menerapkan “observasi – simulasi – teori” untuk melengkapi metode ilmiah yang telah dikenal.

Salah satu pembawa informasi yang diperoleh astronom melalui kegiatan observasi benda-benda langit adalah cahaya tampak; gelombang elektromagnetik dengan rentang frekuensi 7,5x1014 hertz hingga 4,3x1014 hertz. 

Melalui teknik-teknik yang dikenal dalam ranah astronomi, astronom dapat menghasilkan informasi fisis tentang objek langit yang sedang ditelitinya tersebut, seperti kecerlangan, besar energi yang dipancarkannya, temperatur, kelimpahan komposisi kimiawi, kecepatan, bahkan dengan dukungan kajian teoritik dapat diperoleh informasi massa sebagai besaran fundamental yang menentukan riwayat akhir suatu bintang.

Lazimnya, sebuah tempat peneropongan objek langit terletak menyepi. Pemilihan lokasi observatorium dilakukan sedemikian rupa sehingga memenuhi sejumlah kriteria, seperti wilayah dengan kepadatan penduduk yang rendah, tempat yang tinggi agar jumlah aerosol di atmosfer lapisan atas yang dapat menyebarkan balik cahaya buatan berada dalam jumlah minimum, banyaknya hari kering dalam satu tahun, rendahnya kelembaban udara, dan tentu saja kondisi langit malam yang gelap. 

Namun, perkembangan dewasa ini menunjukkan bahwa lokasi yang menyepi tersebut justru menarik minat sejumlah pihak untuk memanfaatkan dan mengembangkannya sebagai tempat permukiman dan pariwisata terkait dengan kenyamanan lingkungan serta pertumbuhan populasi manusia yang tidak dapat dihindari. Bila sudah demikian kondisinya, kualitas langit malam di kawasan sekitar observatorium dapat terancam.

Sumber-sumber cahaya alami (seperti cahaya Bulan, terlebih lagi pada saat fase purnama) maupun buatan (penerangan untuk berbagai keperluan manusia) dapat menghilangkan kontras langit malam sehingga akan ”menenggelamkan” kecerlangan objek-objek astronomi, terutama yang berada dalam jangkauan pengamatan mata bugil manusia dari permukaan Bumi. 

Selain itu, berlimpahnya cahaya-cahaya yang tidak diharapkan tersebut juga dapat ”mengotori” cahaya objek langit, seperti yang terlihat dalam kajian spektroskopi melalui kehadiran garis-garis atom raksa (Hg; Hidrargirum) yang berasal dari sumber cahaya buatan pada distribusi energi objek langit yang diteliti. 

Dua jenis lampu yang banyak digunakan untuk keperluan penerangan luar ruangan, yaitu high pressure sodium (HPS) dan metal halide (MH), menunjukkan spektrum kompleks dengan komponen garis emisi dan kontinumnya tersebar di seluruh spektrum cahaya tampak. Dalam pengamatan spektroskopi, pekerjaan pengkalibrasian fluks dengan akurat menjadi sulit dilakukan dan kesalahan yang timbul dapat menghadirkan fitur-fitur spektrum palsu dari objek langitnya.

Selain menyerap radiasi yang tiba padanya, permukaan benda-benda termasuk permukaan Bumi dapat memantulkan kembali sebagian radiasi tersebut ke angkasa sebagai pendaran cahaya yang kita sebut sky glow. Efek sky glow ini sangat terasa di angkasa sebuah kota besar. 

Berlimpahnya cahaya di angkasa kota membuat kita kehilangan kekontrasan langit, sehingga menimbulkan kesulitan untuk menemukan objek-objek langit yang relatif redup kecerlangannya. Efek ini jugalah yang membuat sebuah kota besar dapat diamati dari jarak yang sangat jauh melalui pendaran cahaya hasil pantulan dan hamburan di angkasanya.

Timbulnya sky glow yang menyumbang pada kecerlangan langit malam ini dapat timbul sebagai akibat dari desain tudung atau penutup lampu yang buruk, sumber-sumber penerangan tanpa tudung, proses instalasi yang buruk, penggunaan cahaya yang melebihi kebutuhan, dan motif ekonomi seperti yang ditunjukkan oleh penggunaan billboard-billboard dengan penerangan yang mengarah ke atas (up-lighted).

Menarik untuk membuka lembaran sejarah masa silam bagaimana manusia di Bumi memiliki keterikatan dengan langit. Contoh nyata dan terdekat adalah yang dipraktikkan oleh para petani di tanah Jawa hingga beberapa dekade yang lalu. 

Dulu, pada senja hari di bulan Februari, untuk menentukan waktu tabur benih seorang petani akan berdiri menghadap sawah ke arah timur dengan genggaman tangan yang penuh butiran gabah. 

Segera setelah langit mulai gelap untuk dapat mengesani bintang-bintang yang muncul di awal malam, ia akan mengarahkan lengannya ke arah tiga bintang terang di rasi Waluku (rasi Orion, Sang Pemburu). Kemudian ia akan membuka genggaman tangannya; bila saat itu butiran-butiran gabah jatuh ke Bumi, hal tersebut menjadi pertanda dimulainya waktu menebar benih. 

Contoh di atas menjadi bukti tentang eksistensi hubungan primordial antara manusia dengan kosmos yang terus diwariskan, sehingga manusia masa sekarang pun masih berkepentingan untuk tetap dapat menikmati indahnya langit malam.

Dampak Buruk Polusi Cahaya terhadap Kehidupan Liar (Wildfire)

Polusi cahaya tidak saja berkenaan dengan penurunan kualitas langit malam, yang membuat terhalangnya pandangan manusia Bumi ke arah langit. Persoalan polusi cahaya juga menyentuh bidang ekologi, yang diterjemahkan oleh sejumlah pakar sebagai cahaya buatan yang mengubah pola terang-gelap alami di suatu ekosistem. 

Karena polusi cahaya yang dikenal dalam astronomi dapat menjadi berbeda menurut tinjauan lingkungan (sebagai contoh, meski dalam pengertian astronomi lampu penerangan yang diarahkan ke bawah dapat mengurangi polusi cahaya, penerangan yang dihasilkan tersebut tetap dapat menjadi agen bagi polusi cahaya terhadap ekosistem sekitar), selanjutnya akan digunakan istilah polusi cahaya ekologis untuk menegaskan istilah yang digunakan.

Sumber polusi cahaya ekologis dapat berupa sky glow, bangunan dan menara yang dicahayai, penerangan jalanan, perahu nelayan, penerangan untuk keamanan, nyala api di lokasi pengeboran lepas pantai, cahaya yang bersumber dari tabung-tabung untuk keperluan riset bawah laut, dan semua cahaya yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.

Penggunaan penerangan yang berlebihan di luar kebutuhan memberi dampak langsung pada peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Untuk setiap 1 kiloWatt jam (kWh – kiloWatt hour) listrik yang berhasil dibangkitkan, diperlukan sekitar 0,5 kilogram batu bara dan dihasilkan lebih-kurang 1 kilogram gas asam arang (CO2) sebagai emisi buangan. 

Artinya, makin konsumtif dalam penggunaan energi listrik yang pembangkitannya masih menggunakan bahan bakar fosil, makin banyak pula timbunan CO2 di atmosfer yang dihasilkan. Dengan kemampuan gas-gas rumah kaca dalam memerangkap emisi inframerah yang dipantulkan permukaan Bumi, pada gilirannya hal ini akan berdampak pada peningkatan rata-rata suhu permukaan yang disebut sebagai efek rumah kaca (greenhouse effect).

Dampak polusi cahaya bagi kehidupan liar pun tidak kalah dahsyatnya. Para pakar mendapati efek polusi cahaya ekologis terhadap tingkah laku dan populasi organisme di habitat alaminya, seperti pengaruhnya terhadap pola pencarian makan, reproduksi, migrasi, dan komunikasi. Bahkan produksi susu hewan-hewan ternak seperti sapi pun diketahui dipengaruhi pula oleh cahaya. 

Secara umum, efek tersebut berawal dari perubahan orientasi dan ketertarikan atau penolakan organisme terhadap pencahayaan lingkungan yang berubah. Sejumlah kajian yang telah dilakukan mengenai pengaruh polusi cahaya ekologis terhadap lingkungan dan kehidupan liar disajikan berikut ini.

Orientasi/Disorientasi & Ketertarikan/Penolakan

Orientasi dan disorientasi merupakan respons terhadap jumlah cahaya yang datang yang menyinari suatu tempat (illumination), sedangkan ketertarikan dan penolakan sebagai respons langsung organisme terhadap kecerlangan (brightness) sumber cahayanya. 

Peningkatan iluminasi diketahui memperpanjang aktivitas binatang siang (diurnal) hingga waktu di mana mereka seharusnya sudah beristirahat kembali ke sarang. Sejumlah burung dan reptil didapati telah dapat mengorientasi ulang diri mereka sendiri dalam pencarian makan di bawah pencahayaan buatan.

Penggunaan cahaya buatan pada malam hari secara terus-menerus juga menimbulkan disorientasi pada organisme berkenaan dengan kemampuan navigasi mereka di lingkungan gelap. Contoh untuk hal ini adalah penyu yang keluar dari sarang pada malam hari. 

Dalam kondisi normal, penyu menuju laut dengan menggunakan siluet yang dihasilkan vegetasi pantai sebagai panduan. Namun, semakin terangnya lingkungan pantai oleh cahaya buatan telah membuat penyu-penyu tersebut menjadi sukar mengesani siluet yang menjadi panduan gerak mereka. 

Lebih jauh, penelitian juga menunjukkan bahwa perubahan kadar cahaya dapat mengganggu orientasi binatang malam (nocturnal). Meskipun adaptasi penglihatan dalam gelap memiliki rentang yang lebar, peningkatan kadar cahaya secara tiba-tiba dapat membutakan binatangbinatang tersebut. 

Pada katak, peningkatan iluminasi secara mendadak membuat kemampuan visual mereka berkurang dan memerlukan waktu mulai dari beberapa menit hingga beberapa jam untuk memulihkannya kembali. Begitu indera penglihatan katak-katak tersebut dapat beradaptasi terhadap perubahan pencahayaan di lingkungan mereka, katak-katak pun tertarik untuk menuju sumber cahaya.

Contoh lain adalah penataan cahaya di Lincoln Memorial, Washington DC, diketahui telah menarik kehadiran dua spesies lalat (Chironomus plumosus dan Chironomus attenuatus) dalam jumlah yang besar. Betina yang hendak bertelur banyak ditemukan mati di dinding pualam monumen. 

Laba-laba kemudian memakan sisa-sisa lalat tersebut dan menghasilkan kotoran yang sangat mengotori dinding dan lantai pualam monumen. Dengan penataan ulang pencahayaan monumen, ternyata kehadiran lalat-lalat tersebut dapat dicegah.

Sementara itu, arthropoda (filum terbesar hewan tanpa tulang belakang; invertebrata atau avertebrata) memberikan reaksi yang beragam terhadap cahaya. Sejumlah laba-laba malam berkelakuan menolak cahaya, sedangkan yang lain (seperti sebagian serangga) justru memanfaatkannya bila tersedia.

Burung-burung juga dapat mengalami disorientasi dan terjebak dalam kungkungan cahaya buatan yang marak di malam hari. Sekali burung-burung tersebut memasuki wilayah bercahaya buatan pada malam hari, bangsa unggas ini akan terjebak dan tidak akan meninggalkan wilayah tersebut. 

Padahal, ada banyak burung migran yang menggunakan cahaya Bulan purnama dan bintang-bintang sebagai pemandu perjalanan panjang mereka. Banyak ditemukan kasus kematian burung-burung yang bermigrasi pada malam hari untuk menghindari para pemangsa akibat bertumbukan dengan gedung-gedung tinggi yang bermandikan cahaya. 

Terlebih lagi ketika kondisi cuaca yang buruk atau pada akhir malam yang membuat burung-burung tersebut terbang rendah. Hadirnya struktur-struktur menjulang tinggi yang berlimpah cahaya dalam rute yang mereka lalui dapat disalahkesani oleh burung-burung migran sebagai cahaya Bulan atau bintang-bintang.

Reproduksi

Cahaya buatan malam hari juga berpengaruh terhadap aktivitas reproduksi hewan-hewan. Katak-katak betina Physalaemus pustulosus diketahui menjadi kurang selektif dalam memilih pasangan kawin ketika kadar cahaya ditingkatkan. 

Diduga selama peningkatan kadar cahaya timbul keinginan kawin dengan cepat sekaligus untuk menghindari bertambahnya risiko bahaya oleh predator selama berlangsungnya aktivitas kawin tersebut. 

Melalui pengamatan, ditemukan bahwa katak-katak percobaan menghentikan aktivitas kawinnya ketika berlangsung pertandingan sepak bola di malam hari, yaitu ketika penerangan dari stadion di sekitar habitat mereka meningkatkan sky glow. Pada burung-burung pun terdapat sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa cahaya buatan malam hari mempengaruhi pemilihan lokasi sarang.

Komunikasi

Komunikasi di dalam dan antarspesies dapat dipengaruhi oleh cahaya malam buatan, karena sejumlah spesies menggunakan cahaya alamiah yang mereka hasilkan sebagai sarana untuk berkomunikasi. Cacing kelap-kelip (glowworm) betina memikat pejantan dengan bioluminescent (cahaya yang terbentuk dari reaksi kimia yang dihasilkan oleh organisme) hingga jarak 45 meter jauhnya. 

Kehadiran cahaya buatan akan mengurangi visibilitas terhadap komunikasi cahaya ini. Demikian pula yang terjadi pada kunang-kunang, yang semakin sulit mencari dan menemukan pasangan kawin dengan bioluminescent yang lebih redup dibandingkan cahaya malam buatan.

Kompetisi 

Dalam komunitas alamiah, waktu untuk aktivitas pencarian makan antarspesies dapat berbeda-beda menurut kebutuhan kadar pencahayaan, yang lazim dinyatakan dalam lux. Lux merupakan satuan iluminasi dalam sistem baku yang menyatakan terang cahaya yang dikesani oleh mata manusia. 

Katak pohon (Hyla squirrela) dapat menjaga orientasinya dan mencari makan pada kadar cahaya hingga serendah 10-5 lux dan akan menghentikan aktivitasnya tersebut manakala kadar cahaya lingkungan mencapai 10-3 lux. Katak western (Bufo boreas) mencari makan hanya pada iluminasi 10-1 – 10-5 lux, sementara katak berekor (Aschapus truei) hanya selama saat tergelap di malam hari dengan kadar cahaya kurang dari 10-5 lux.

Sejumlah spesies kelelawar diketahui tertarik pada serangga yang berkerumun di sekitar sumber cahaya. Bagi spesies yang dapat memanfaatkan keberadaan sumber cahaya tentu diuntungkan dengan kondisi ini. Namun bila kondisi seperti ini berlangsung terus-menerus, pada saatnya nanti akan dapat mengubah struktur komunitas. 

Untungnya tidak semua spesies kelelawar tertarik pada sumber cahaya, seperti kelelawar dari jenis yang terbang lambat. Kompetisi akan terjadi ketika binatang siang memperpanjang aktivitasnya hingga malam hari karena terbantu keberadaan cahaya malam buatan. Hal ini dijumpai pada reptil, laba-laba, dan burung.

Rantai Makanan 

Sepintas lalu terlihat bahwa binatang siang lebih diuntungkan dengan hadirnya cahaya malam buatan. Faktanya tidaklah seremeh itu. Di daerah yang mengalami polusi cahaya parah, burung-burung akan terus berkicau sepanjang malam mengantisipasi fajar yang justru belum akan tiba hingga beberapa jam ke depan. Hal ini tentunya berpengaruh pada pola istirahat mereka. 

Bila cahaya fajar terkalahkan oleh cahaya malam buatan, burung-burung itu belum akan sepenuhnya terjaga sampai sinar Matahari benarbenar mengalahkan cahaya polutif yang ada. Bila demikian halnya, burung-burung tersebut akan “gagal” menjadi burung awal yang keluar sarang dalam perburuan mencari makan.

Selain itu, bertambahnya waktu untuk melakukan aktivitas hingga malam hari juga diimbangi dengan bertambahnya risiko dimangsa oleh hewan-hewan predator. Keseimbangan antara bertambahnya waktu mencari makan dan risiko dari para pemangsa telah menjadi topik utama riset atas hewan-hewan mamalia kecil, reptil, dan burung.

Pemangsaan zooplankton oleh ikan-ikan selama awal malam ketika Bulan mencapai fase purnama ditemukan meningkat. Zooplankton mencari makan dengan bermigrasi ke permukaan perairan dalam lindungan kegelapan dan hanya berbantuan cahaya Bulan. Secara alamiah, “jebakan cahaya Bulan” ini menguntungkan bagi ikan-ikan pemangsa. 

Sisi buruknya timbul manakala iluminasi yang tak diharapkan justru muncul yang berasal dari pencahayaan buatan manusia. Cahaya polutif yang bekerja dengan mekanisme yang persis sama namun menipu ini dapat mengganggu interaksi antara pemangsa–buruan sebab seringkali hanya menguntungkan para predator.

Cahaya yang berasal dari uap raksa telah mempengaruhi interaksi antara kelelawar sebagai pemangsa dan ngengat sebagai buruan, sebab terbukti mengganggu gelombang ultrasonik yang digunakan kelelawar dalam penentuan posisi mangsanya (echolocation). Demikian pula yang terjadi pada burung hantu. 

Di Inggris, populasi burung hantu menurun tajam. Polusi cahaya ekologis telah membuat berkurangnya wilayah buruan burung hantu dan burung-burung pemburu malam lainnya. 

Dalam kondisi yang terang-benderang, tikus-tikus yang menjadi sasaran buruan akan lebih senang bersembunyi di dalam sarang. Bila hal ini berlangsung secara berkepanjangan, keseimbangan ekosistem akan terganggu karena ketimpangan yang terjadi dalam rantai makanan.

Dampak Buruk Polusi Cahaya terhadap Kesehatan Organisme

Polusi cahaya dan kesehatan cahaya sangat memengaruhi kehidupan makhluk hidup (organisme). Kajian tentang topik ini dikenal sebagai fotobiologi. 

Spektrum cahaya dan durasi penyinaran telah diketahui mempengaruhi pertumbuhan tanaman, meski masih sedikit penelitian yang dilakukan untuk mengkaji masalah ini. Telah diketahui pula bahwa frekuensi dan intensitas cahaya mengatur pertumbuhan, kembang, dan berbuahnya tanaman. 

Pada kasus di mana lampu-lampu penerangan jalan berada dekat dengan cabang pohon, dilaporkan munculnya kuncup-kuncup daun lebih awal dari yang seharusnya pada pohon-pohon tersebut. Demikian pula dengan penggunaan pola terang-gelap untuk mengontrol pertumbuhan dan pematangan seksual kawanan unggas telah menjadi topik riset secara ekstensif dan diketahui dengan baik. 

Selama dekade terakhir telah dilakukan usaha untuk memahami efek biologis cahaya terhadap manusia. Kajian mendalam tentang topik ini meliputi regulasi hormon, respons kekebalan tubuh, respons psikologi, serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia.

Mandi cahaya terang-benderang di malam hari juga berdampak pada kesehatan mata anak-anak. Dalam suatu eksperimen yang dilakukan di Amerika Serikat, anak-anak dengan usia di bawah dua tahun yang tidur dengan paparan cahaya, memiliki kemungkinan lima kali lebih besar untuk mengalami cacat mata miopi dibandingkan dengan kelompok anak-anak yang tidur dalam suasana gelap. 

Para pakar percaya, cahaya buatan di malam hari merangsang bola mata untuk tumbuh lebih cepat pada anak-anak berusia kurang dari dua tahun.

Riset medis yang dilakukan untuk melihat pengaruh cahaya berlebih pada tubuh manusia, mendapati bahwa berbagai gangguan kesehatan boleh jadi ditimbulkan oleh polusi cahaya. Berangkat dari hal ini, beberapa buku pegangan desain pencahayaan telah menggunakan kesehatan manusia sebagai kriteria di dalam mendesain pencahayaan ruangan dengan tepat. Efek paparan cahaya berlebih terhadap kesehatan tubuh sangat beragam, mulai dari sakit kepala, kelelahan fisik, stres, perasaan gelisah, hingga penurunan fungsi seksual.

Cahaya lampu fluoresens dalam kadar normal di kantor-kantor sudah cukup untuk dapat menaikkan tekanan darah sekitar delapan poin. Terdapat pula sejumlah bukti bahwa paparan cahaya berkepanjangan memicu hilangnya kemampuan seksual. Bukti yang diperoleh di Amerika Serikat menunjukkan bahwa cahaya dalam kadar tertentu di lingkungan perkantoran memicu stres dan kesalahan dalam bekerja.

Studi di bidang medis berhasilkan menunjukkan pula bahwa paparan cahaya buatan pada malam hari, terutama dalam rentang tengah malam hingga pukul 4 pagi, dapat mempengaruhi kesehatan sistem endokrin manusia. 

Normalnya, dalam tubuh manusia terjadi peningkatan kadar melatonin antara pukul 2 hingga 4 pagi. Meskipun demikian, prosesnya sendiri sudah dimulai sejak awal malam di mana gelap datang dan cahaya buatan banyak dinyalakan. Bahkan cahaya dalam kadar yang kecil sekalipun dapat menekan produksi hormon melatonin yang akan mempengaruhi pola tidur dan perbaikan sistem kekebalan tubuh kita. 

Sebagai contoh, paparan cahaya sebesar 500 – 1000 lux selama 1 hingga 2 jam sebelum tidur dapat menekan produksi melatonin sebesar 40 sampai 60%. Orang-orang yang tetap bekerja dalam rentang waktu di atas memiliki peluang yang lebih besar untuk terserang kanker payudara. Telah terbukti bahwa melatonin dapat menghentikan pertumbuhan sel kanker payudara dalam laboratorium hewan. 

Kelompok riset di Amerika Serikat telah memiliki banyak bukti untuk menunjukkan bagaimana aktivitas malam hari di bawah paparan cahaya dapat mempertinggi kemungkinan kanker payudara. Hal ini sangat potensial terjadi di negaranegara maju yang sektor industrinya menerapkan jam kerja siang dan malam hari kepada para pekerjanya.

Penutup

Menyadari runyamnya cakupan persoalan dan dampak global polusi cahaya, menjadi cukup beralasan untuk menjadikan topik ini sebagai fokus kajian internasional yang harus dicarikan solusinya bersama-sama. 

Untuk menuju ke arah win-win solution bagi semua pihak diperlukan kesamaan persepsi dan pendidikan publik adalah langkah strategis jangka panjang untuk mewujudkan hal tersebut yang mendesak untuk ditempuh. Kepada government (pengeloloa negara):

1. Tolong bergiat dalam melakukan kampanye tentang pelestarian langit gelap melalui beragam kegiatan pendidikan bagi publik di samping secara aktif melakukan berbagai studi tentang dampak ekspos cahaya berlebih ini bagi makhluk hidup.

2. Persoalan hukum dan kebijakan menyangkut polusi cahaya merupakan hal baru di Indonesia. Berbeda dengan gangguan kebisingan dan udara kotor yang dapat dijadikan delik aduan, laporan atas gangguan cahaya sepertinya belum pernah terdengar dan belum dapat dijadikan sebagai suatu tindak pidana. 

Padahal boleh jadi kita pernah mengalami gangguan cahaya tersebut dari tetangga sebelah rumah, yang karena pertimbangan keamanan menggunakan penerangan yang kuat sehingga turut menerangi rumah kita tidak seperti yang diinginkan. Jadi, tolong masukkan polusi cahaya ke dalam delik aduan seperti halnya polusi suara.