Penikmat kopi
1 bulan lalu · 136 view · 3 min baca · Media 91886_90204.jpg
Foto: IDN Times

Politisi yang Malas Menulis Pantas Malu

Setiap hari kita baca pernyataan-pernyataan politisi di media nasional maupun lokal. Bahkan sebatas cuitan di akun media sosial pun dikutip dan dijadikan berita. Itu wajar. Namun saya sedikit penasaran mengapa mereka jarang menulis di media, baik berupa esai maupun opini. 

Mereka jarang, bahkan ada yang sama sekali tidak pernah mengunggah ide, gagasan, kritik, apalagi berbagi ilmu melalui tulisan di media online maupun cetak.

Padahal mereka publik figur yang akan ditiru oleh masyarakat. Jika mereka rajin menulis, pastilah orang-orang yang kagum pada mereka akan ikut menulis. Saya kemudian mencari tahu sebabnya.

Ada beberapa jawaban yang saya dapati, namun saya belum puas. Bahkan secara rasional sulit diterima. Misalnya ada yang mengatakan mereka terlalu sibuk; jangankan menulis, istri/suami maupun anak mereka saja jarang mendapat perhatian. Saya tidak terima alasan ini. 

Bagi saya, mereka tokoh publik yang sangat paham dan mampu dalam manajemen waktu. Mereka cukup mumpuni menyiasati waktu sehingga kesibukan bukanlah kendala. Karenanya, alasan ketiadaan waktu bukanlah jawaban rasional. 

Tentu saja alasan itu juga tidak diterima Soekarno, Hatta, Gus Dur, dan sederet tokoh-tokoh yang rajin menulis di masa lalu. Mereka yang gagasan dan pemikirannya menjejali koran dan majalah nasional bahkan luar negeri. Mereka yang rajin mencerdaskan anak bangsa melalui tulisan-tulisan.


Menjadi miris bila politisi hari ini lebih mementingkan elektabilitas instan. Padahal bila mereka benar-benar tulus ingin melakukan perubahan bagi Indonesia, menulis adalah salah satu caranya. Melalui politik melakukan perubahan konkret, sedangkan tulisan mengubah pola pikir masyarakat.

Kedua hal di atas dapat dilakukan politisi secara bersamaan, sebagaimana dicontohkan pendahulu mereka. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Gus Dur hanya butuh waktu 2 jam untuk menyelesaikan sebuah esai dengan mesin tik. Padahal menggunakan mesin tik membutuhkan kehati-hatian tingkat, tinggi tidak sama dengan komputer atau smartphone.

Pertanyaannya, benarkah dalam seminggu atau sebulan tidak tersedia dua jam untuk menuangkan gagasan dan pemikiran dalam bentuk tulisan? Saya kira mustahil tidak tersedia kecuali memang malas. Apalagi saat ini menulis dan mengirimkan artikel dapat menggunakan smartphone; very easy.

Itu artinya para politisi yang dalam sebulan tidak menulis artikel pantas malu. Mereka seolah tidak pernah membaca sejarah para pendiri bangsa. Dengan kesederhanaan alat menulis pada saat itu, namun dapat berkarya. Mereka membagikan pemikiran-pemikiran yang diwariskan kepada kita.

Saya curiga, jangan-jangan bukan persoalan kesibukan yang menyebabkan mereka enggan menulis. Jangan-jangan mereka malas membaca buku sehingga kesulitan menulis. Apabila kecurigaan saya benar, maka negeri ini sedang menuju arah yang salah. Kalaupun arahnya benar, kita akan selalu tertinggal dari negara lain.

Bagaimana mereka bicara perubahan sementara kemampuan mengungkapkan gagasan dan pemikiran melalui tulisan tidak mau; kalaupun mau, tidak mampu? Politisi yang enggan menulis bukanlah politisi sejati, apalagi yang tidak mampu menulis.

Selain kesibukan, saya coba telusuri lagi penyebab politisi jarang menulis di media. Ternyata dugaan saya benar. Ada politisi yang memang tak mau menulis di media online dan cetak. Baginya, menulis bukan hal yang penting. Mengapa demikian?

Saat ini era digital, mengungkapkan gagasan dan pemikiran dapat melalui televisi maupun merekamnya. Begitu salah satu jawaban yang saya dapati. Tentu saja argumen itu logis dan sah-sah saja.

Walaupun bagi saya tulisan yang dibaca dan disebarluaskan dengan sendirinya akan meningkatkan minat baca. Membaca berarti menghimpun segala intelek dalam diri, akan menambah daya pikir manusia. Meski begitu, alasan ini lebih bisa diterima dibandingkan alasan sebelumnya (sibuk).

Sayangnya tidak semua politisi memanfaatkan tekhnologi maupun diundang media elektronik. Karenanya, menulis di media online seperti di Qureta bisa dicoba. Beberapa orang memang lebih bagus menulis ketimbang bahasa lisan, ada pula sebaliknya. Ada pula yang mampu kedua-duanya. 


Harapan saya, meski kemajuan teknologi begitu pesat, tradisi menulis para elite sebaiknya dipertahankan. Saya kira satu minggu satu artikel tidaklah sulit bagi mereka. Apalagi seperti Ketua MPR (Bamsoet) yang mantan wartawan. 

Bagi saya, perang gagasan melalui tulisan di media online maupun cetak lebih terasa intelektualitasnya. Tentu saja ini pendapat pribadi saya. Karena menulis melibatkan segenap daya intelektualitas seseorang.

Alasan terakhir yang saya dapati, memang tidak sedikit politisi yang tidak mampu menulis meski hanya sebuah artikel pendek. Dari alasan sebelumnya, alasan ini yang perlu jadi perhatian para elite di parpol. Problem intelektualitas. 

Tentu saja butuh penelitian mendalam terkait hal ini, mengapa politisi kita enggan menulis di media online dan cetak. Apakah karena kesibukan, karena kemudahan-kemudahan digital, atau karena tidak mampu menulis.

Kalaupun menulis hanya menjelang pilpres dan pileg (tahun politiknya), tulisan yang menggiring pemilih, bahkan ada yang berupa propaganda, selepas pileg dan pilpres mereka kembali malas menulis.

Menulislah, wahai para politisi. Jangan sekadar omdo (omong doang) di televisi maupun radio. Dan politisi yang belum pernah menulis esai di media online saya kira bukan politisi sejati serta tak pantas dipilih.

Artikel Terkait