Iklan kecap nomor satu paling sering didengar. Meskipun berbeda merek, tetap menyebut nomor satu.

BPN dan TKN harusnya sudah mengakhiri tugasnya setelah resmi terpilihnya Presiden dan Wakil Presiden RI. Sudah tak ada yang diklarifikasi lagi atau adu argumen untuk memenangkan paslonnya. 

Dua institusi independen tersebut, selama masa kampanye, paling masif melontarkan isu, tanggapan, dan klaim tentang paslon yang diusungnya. Terkesan ngecap alias banyak bicara.

Tugas mereka penting pada saat derasnya saling memojokkan satu dengan lainnya, bahkan terkesan mengotak-ngotakkan rakyat Indonesia lewat pilihannya. Terlebih di era media sosial saat ini, penetrasi keduanya langsung tepat menyentuh ke personal pemilihnya.

Selain mengungguli dan rebutan klaim, mereka adalah representasi suara paslon untuk membentuk opini publik di masyarakat. 

***

Kuliner Indonesia banyak ragamnya. Ada yang original Indonesia dan ada juga saduran dari kuliner asing. Meskipun demikian, kreativitas masyarakat Indonesia dalam mengolah kuliner sudah tak diragukan. Banyak cita-rasa baru justru tumbuh, dan bahkan meninggalkan bentuk dan rasa aslinya. Contoh yang paling kreatif adalah kecap. 

Banyak menu tradisional yang menggunakan peran kecap sebagai bahan utamanya. Dan kecap di Indonesia punya penggemar yang cukup fanatik. Tanpa kecap, makan serasa tak lengkap. Industri kecap di Indonesia pun marak menawarkan cita rasanya masing-masing.

Namun persaingan dagang memunculkan perang dagang. Untuk mendapatkan atensi dari penggemar kecap, produsennya selalu melabeli keunggulan produk kecapnya. Bisa lewat jargon, bisa lewat tagline. Akibat persaingan tersebut, ada merek kecap ternama di masa lalu, kini hanya tinggal kenangan. 

Selain persaingan dagang, industri kecap di Indonesia dulunya dikelola perseorangan dengan manajemen rumah tangga yang buruk. Ketika dihadapi dengan fluktuasi pasar, daya tahannya lemah. 

Industri kecap yang mampu bertahan lama adalah perusahaan yang memiliki manajemen yang baik dan rapi. Meski rasanya biasa saja, dengan manajemen yang baik akan mampu bertahan.

Kini kecap bukan masalah warisan keluarga, tetapi sudah menjadi warisan nasional. Kok bisa? Begini ceritanya:

Dari buku berjudul History of Soy Sauce karya Willian Shurtleff dan Akiko Aoyogi, sejatinya sejarah kecap di seluruh dunia dimulai sejak abad ke-3 di Tiongkok. Sebagai negara berkebudayaan tinggi, Tiongkok andal melahirkan inovasi kebudayaan dan tradisi yang tak dimiliki negara lain.

Penyebaran kecap meluas kemudian hingga dataran Asia. Jepang pun dikenal menjadi salah-satunya penghasil kecap terbesar. Berdasarkan buku tersebut, kecap ditemukan catatannya mulai 1633 dengan bahasa Belanda. Tahun tersebut terjadi kerja sama Jepang dengan Belanda dalam perdagangan.

Di Nusantara, kecap tercatat masuk tahun 1737, dibawa oleh Belanda, dan kemudian diproduksi di Hindia Belanda dan dikirim ke Amsterdam. 

Tapi ada beberapa catatan menjelaskan pula kecap telah lebih dulu dikenal di Nusantara oleh kedatangan imigran asal Tiongkok. Catatan ini dibuat oleh Willliam Petyt, seorang pengacara yang menyebutkan kecap Nusantara sudah diekspor oleh Belanda sejak tahun 1680. 

Tidak seperti yang kita kenal saat ini dengan kecap bercita-rasa manis. Awalnya kecap diproduksi dengan rasa asin. Kemudian berdasarkan selera, kecap juga dibuat manis. Kecap asal Hindia Belanda yang terkenal dulunya adalah kecap manis.     

Istilah kecap sendiri merupakan serapan dari bahasa Hokkian, dari chiap, kicap, kitjap, hingga ke catch up, ketjap, dan kemudian kecap. Rasa manis memang disukai orang Indonesia dan lantas mengubah rasa kecap asin yang diperkenalkan Tiongkok dan Belanda. 

Bahkan Shurtleff dan Aoyogi menyebutkan kecap manis asal Hindia Belanda atau Indonesia unik, memiliki tiga unsur yang tak ditemui di kecap mana pun bahkan di kecap aslinya sendiri. 

Yang pertama, kecap manis punya kandungan gula merah atau gula aren. Kedua, kecap manis diproses dengan pendidihan yang lama hingga mencapai 4 - 5 jam dan dicampur lagi dengan gula agar kental. 

Ketiga, aneka bumbu dan rempah yang dikenal kaya di Nusantara, dimasukkan ke dalam proses pembuatan kecap. Beberapanya bahkan mencampurkan kaldu ikan atau ayam.        

Popularitas kecap manis di Nusantara merangsang tiap daerahnya menciptakan rasa sesuai selera masing-masing. Dari mulai home industri hingga perusahaan skala daerah.   

Kecap nomor satu menjadi politik ampuh menggaet konsumen mencoba rasanya. Utamanya didasari atas sifat coba-coba konsumen lokal terhadap produk kecap baru. Oleh pihak produsen, mencap kecapnya nomor satu sah-sah saja dilakukan, sebab secara historis kecap manis memang ada satu-satunya di Indonesia.

Kecap manis nomor satu bukan janji bohong. Sama-sama menawarkan rasa asli kecap manis Indonesia. 

Contoh mengunggulkan kecap manis buatannya dilakukan oleh produsen Kecap Benteng SH yang sudah berdiri sejak 1920. Di stiker yang ditempel di botolnya, tertulis kalimat ejaan lama Bahasa Indonesia: 

"Kota Tangerang jang doeloenja benama Benteng, meroepakan goedangnja ketjap jang begitoe kesohor ke seantero djagat. Makanja, Toean atawa Njonja tidak afdol rasanja kalao tidak membeli oleh-oleh oentoek sanak familie dan kolega. Perloe semoea orang ingat bahwa Ketjap Benteng toelen selaloe nomor satoe, tidak ada nomor doea, tiga, apalagi nomor sepoeloeh."

Pemilik Kecap Zebra generasi kedua Sunardi (82) seperti yang diwawancari Kompas, menyebutkan tak mengetahui kapan tepatnya kecap harus nomor satu. Bahkan produk kecap yang diproduksi di Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Bogor ini menguatkan posisinya sebagai produk kecap manis kwalitet istimewa yang mutunya satu tingkat di atas kecap nomor satu.

Uniknya, ketika mengeluarkan produk semirip di bawah kualitas Kecap Zebra, disematkan kode 1A yang artinya di bawah nomor satu.

Hal yang sama dilakukan oleh Kecap Benteng Cap Istana keluaran pabrik Teng Giok Seng, Tangerang yang berdiri sejak 1882. Produk tersebut mengeluarkan varian kecap yang semuanya nomor satu. Ada 1A manis, ada 1A sedang, dan selanjutnya.

Dalam wawancaranya dengan Kompas, penelaah sejarah dari Komunitas Bambu, JJ Rizal, menduga alasan klaim kecap nomor satu dimulai sejak Pasar Malam Gambir digelar sejak 1921. Yang pertama kali mendapatkan klaim nomor satu saat itu adalah Kecap Benteng. 

Merpati tak pernah ingkar janji. Begitulah yang terjadi pada produk kecap manis di Indonesia. Tidak ada yang rasanya asin, semuanya pasti manis.

Beda nggak sih sama politisi ngecap?