Advocate Assistant
1 tahun lalu · 93 view · 1 menit baca · Puisi 62727.jpg
Koleksi Pribadi

Politisasi SARA, Bhinneka Tunggal Ika di Ujung Tanduk

Sara dipolitisasi menggiring Pancasila menuju sangsi.

Mengumbar SARA saat orasi demi kemenangan dalam kontestasi.

Tak peduli rakyat berselisih asalkan beliau mendapat kursi.


Demi mengamankan posisi, tak sedikit hanya sibuk mencari koalisi ketimbang mengurusi orang yang kekurangan gizi.

Wajarlah berkunjung sana-sini mencari relasi asal tidak lupa pada tugas pokok dan fungsi.

Masyarakat butuh diurusi dengan kasih bukan malah dibuat rusuh dengan provokasi.


Di negara hukum ini, seolah mayoritaslah yang mesti duduk di atas kursi.

Minoritas mesti tahu diri meski haknya dijamin oleh konstitusi.

Rasanya bangsa ini butuh rekonstruksi mengingat pancasila tak lagi hadir sebagai pondasi.


Para elit saling menyerang dari segala sisi, mendaur ulang janji yang sungguh telah basi, suku agama ras rentan dipolitisasi, ya lagi-lagi demi sebuah kursi.

Pencitraan di sana-sini bertebar di segala sisi, katanya memberi bukti bukan janji melalui visi misi, menguak kalimat suci dengan fasih, namun setelah terpilih mereka lupa aktualisasi.


Media seringkali hadir untuk memprovokasi, menyebar berita hoax silih berganti, masihkah ia layak diidentikkan dengan independensi.


Beberapa kalangan bereaksi mengedepankan emosi layaknya wanita yang sedang menstruasi.

Adu argumentasi tiada ujung dari yang kumal sampai berdasi dari proletar sampai borjuasi.

Jika SARA terus dipolitisasi, barangkali bhinneka tunggal ika hanya akan menjadi ilusi dalam negeri yang katanya demokrasi. 


Kita butuh menyemangati Pancasila yang sedang frustrasi.

Bukan sekadar berimajinasi tanpa implementasi tapi di dalamnya tentu dibutuhkan torehan prestasi.

Kita mesti selektif dengan sebaran informasi karena tak semua layak untuk kita konsumsi.


Ragam suku agama budaya di negeri ini ibarat pelangi yang menghiasi.

Untuk menjaga keindahannya tentulah dibutuhkan toleransi.

Sama itu baik beda itu indah, barangkali saya akhiri dengan terima kasih.


* Dibacakan pada acara Bincung Isu KOMPAK SC FH UMI "Politisasi SARA, Bhinneka Tunggal Ika di Ujung Tanduk" | Hotel Swissbell-in, Makassar 16 April 2017