Sah-sah saja rasanya menggunakan segala cara demi memenangkan suatu perhelatan, apalagi perhelatan sebesar Pilpres dan Pileg tahun ini. Tapi tunggu dulu, sah-sah di sini maksudnya adalah bahwa cara-cara yang dilakukan itu haruslah yang positif dan membelajarkan calon pemilih yang akan diraih.

Untuk itu, calon pemilih harus dicerahkan dengan berbagai program dan informasi yang jelas dan nyata, bukan program yang abal-abal alias tak jelas ataupun hoaks, ataupun informasi yang melawan akal sehat.

Mengapa begitu? Sebab, penyebaran informasi yang tidak valid hanya akan membawa masyarakat ke dalam polarisasi yang makin melebar dan cenderung menimbulkan disparitas sosial yang juga makin menganga. Apakah ini yang kita inginkan dari sebuah pesta demokrasi?

Namun apa boleh buat, ternyata efek sugesti dan ekstasi menikmati empuknya singgasana kekuasaan telah jauh melampaui akal pikiran dan nalar sehat sekelompok manusia penghuni kolong langit negara ini, sehingga mereka menggunakan cara-cara yang terbilang berbahaya.

Coba simak, untuk memuluskan agenda meraih kemenangan tersebut, ada entitas mulia yang sengaja “dikorbankan” dalam musim kampanye tahun politik 2019 ini, yaitu kaum wanita alias emak-emak.

Mengapa saya sebut dikorbankan? Hal ini karena tujuan awalnya sudah menyimpang. Tujuan awal dari penggunaan entitas ini adalah untuk mendulang suara mereka yang diyakini membawa pengaruh signifikan bagi elektabilitas kedua pasangan capres dan cawapres yang berkontestasi dalam perhelatan akbar Pilpres dan Pileg yang digelar bersamaan ini.

Entitas yang dikorbankan ini tampak nyata dan jelas di salah satu kubu pasangan yang sedang “bertarung” saat ini. Lihatlah di berbagai media massa dan daerah-daerah, begitu masif dikabarkan bahwa golongan masyarakat ini seakan sengaja dieksploitasi sebagai ujung tombak dan motor kampanye mereka dengan melontarkan isu-isu “hitam” terkait lawan politik mereka.

Lihatlah contoh-contohnya yang banyak beredar di sekitar kita, semisal kampanye isu pernikahan sesama jenis, pelarangan bunyi azan, dan yang teranyar adalah penghapusan pendidikan agama dan pesantren apabila lawan yang dimaksud menang. 

Di mana nalar dan akal sehat – sebagaimana kerap disampaikan salah seorang tokoh yang tak mau disebut ikut gerbong penantang – konseptor yang membisiki isu-isu tersebut?

Anehnya, sadar atau tidak, golongan ini tampak begitu menikmati peran “pengorbanannya”. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah mereka memang tidak tahu, kurang tahu, atau pura-pura tidak tahu tentang latar belakang, visi-misi, dan program kerja pasangan lawan politik mereka? 

Apakah mereka sengaja menutup mata dengan realita yang terhampar di hadapan mereka? Sungguh mereka benar-benar telah terdogmatisasi sehingga menjadi tuna.

Lalu, jika golongan – selanjutnya disebut emak-emak saja – ini tidak tahu dan kurang tahu, maka mereka harus cari tahu dulu dengan baik dan benar. Umpamanya, harus mengklarifikasi setiap isu yang ingin dimunculkan. 

Jika pura-pura tidak tahu dan “sengaja” melontarkan isu “hitam” tersebut, bukankah mereka adalah bagian dari kaum pendusta alias pengedar hoaks yang sangat kita benci tersebut? Bukankah itu fitnah? Apalagi jika kita mengaku orang yang beragama. Di mana nalar dan akal sehat mereka?

Mari sedikit kita analisis tema-tema keblinger yang mereka gaungkan itu. Apa iya seorang Ma’ruf Amin akan diam saja jika pemerintah betul-betul mewacanakan pernikahan sejenis, pelarangan azan, penghapusan pendidikan agama, dan pesantren? 

Coba diingat, emak-emak, beliau itu kan seorang ulama besar karismatik pemimpin nonaktif organisasi massa keagamaan terbesar di Indonesia yang bernama Nahdlatul Ulama (NU)?

Sudahlah, emak-emak, sudahilah peran tidak benar tersebut. Anda-Anda bisa berpartisipasi sebagai apa pun dalam kampanye ini. Tapi tolonglah berkampanye dengan baik, bernas, dengan gagasan-gagasan yang membangun bagi bangsa dan negara ini.

Jangan mau dipolitisasi dengan isu-isu yang tidak benar dan valid oleh siapa pun, terlepas apa pun pilihan politik kalian. Jangan mau dipolitisasi untuk sekadar bermain sebagai pion di wilayah haram-halal-hantam. Jadilah sosok yang meneduhkan bagi bangsa dan negara ini. Jadilah surga bagi kami semua.

Bagi para konseptor, janganlah berpura-pura tidak tahu menahu dengan situasi ini dengan mengkambinghitamkan emak-emak tersebut. Berilah ide dan konsep yang mencerahkan. 

Boleh berkampanye negatif dengan data yang akurat, tapi tidak untuk kampanye hitam. Sebab terlalu mahal harga yang harus ditebus. Stop politisasi emak-emak!