56979_91836.jpg
Acessa.Com
Politik · 3 menit baca

Politik yang Semakin Pengap

"Indonesia akan bubar di tahun 2030."

Begitu kira-kira salah satu narasi yang disampaikan oleh Prabowo saat memberikan pidato politik di depan simpatisannya.

Seperti sudah diduga, kemudian banyak komentar yang saling sahut menyahut di antara pendukung pemerintah maupun para oposisi di luar pemerintahan. Ditingkahi oleh para simpatisan kedua kubu, maka semakin hingar bingarlah jagad perpolitikan di Indonesia.

Bagi para pendukung Jokowi, tentu saja pidato tersebut dianggap absurd dan konyol, apalagi konon Prabowo hanya menyitir dari sebuah karya fiksi yang tentu saja belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Sebaliknya, bagi para pendukung Prabowo, ini adalah sebuah pernyataan serius yang dijadikan momentum untuk mengganti posisi Jokowi pada pilpres 2019 nanti. Berbagai komentar tentang kegagalan Jokowi dalam mengelola negara seolah menjadi afirmasi atas pernyataan Prabowo.

Jadi, semakin yakin bahwa negara ini memang sedang menuju sebuah masa di mana kekuasaan adalah hal yang sangat mutlak untuk didapatkan dan dipertahankan. Ya, tujuan berpolitik jangka pendeknya adalah mendapatkan kekuasaan dengan memainkan emosi massa sesuai dengan keadaan saat itu. Bodo amat dengan ideologi yang diusung!!

Dalam keadaan seperti ini, data dan fakta tidak lagi menjadi acuan. Apalah artinya data dan fakta jika itu tidak bisa memuaskan emosi massa. Ditimpali oleh miskinnya literasi, maka semakin parahlah keadaannya.

Masyarakat hanya disuguhi sebuah drama politik gincu yang dikemas sangat rapi dan diantar oleh seorang tokoh dengan berbagai atribut gelar yang menempel pada namanya. Mereka dipaksa untuk terfokus pada kemasannya saja tanpa melihat apa isinya.

Untunglah masih banyak orang waras di negeri ini yang tidak mau larut dalam adu kekuatan antara kubu A dan B. Tapi untuk waras saja sebenarnya belum cukup di tengah arus ketidakwarasan berpikir.

Di tengah politik identitas yang semakin hitam dan putih seperti sekarang, tidaklah mudah bagi kewarasan untuk mengambil posisi. Bahkan, sesuatu yang tidak berkaitan sama sekali dengan urusan politik, selalu saja ada celah untuk dipolitisasi. Pokoknya harus berpihak, kira-kira seperti itulah yang sekarang terjadi.

Kalau keadaan seperti ini tetap dipertahankan, bisa jadi prediksi Prabowo memang akan terjadi. Negara ini memang sedang krisis identitas. Jadi, kalau ada yang bilang Indonesia adalah negara yang ramah, itu dulu sekali. Bagaimana mungkin bisa disebut ramah jika menyikapi perbedaan seolah-olah sedang berjihad dalam medan peperangan?

Lantas, apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan rakyat di negeri ini?

Kalau saja semua pihak bisa bertindak arif seperti cerita para pangeran di negeri dongeng, mungkin saat ini bangsa kita sudah jadi yang terdepan. Politikus bekerja sebagaimana politik seharusnya dijalankan, pemerintah bertindak adil terhadap rakyat, hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.

Tapi, rasanya kok jauh panggang dari api ya. Bukankah konflik ini memang sengaja dipelihara supaya bisa membedakan mana kawan dan mana lawan? Sepertinya rakyat, ya kita ini, memang sengaja sedang dibenturkan untuk cita-cita meraih kekuasaan. Jadi, siapa pun biang konflik, kita  rakyat jelata ini sebenarnya adalah korban yang diposisikan sebagai aktor ketika kebusukan mereka terungkap.

Jadi, kelompok seperti Saracen, MCA dan semacamnya pada dasarnya hanyalah korban dari para elite politik yang memang hanya bisa hidup jika ada konflik. Lihat saja para elite ramai-ramai cuci tangan ketika kebusukan mulai tercium.

Polarisasi semakin kental aromanya, kita diposisikan untuk saling berhadapan. Nyaris tak ada ruang lagi untuk menjadi rakyat yang netral, tak ada kesempatan untuk berpikir sehat. Ruang-ruang publik pun pengap dengan aroma politik. Pemberitaan di televisi, timeline media sosial sampai mimbar-mimbar ibadah semua dipenuhi oleh pakar politik, dan kita dipaksa untuk menelan itu semua.

Dakwah yang semestinya membawa kesejukan ditengah suasana panas pun akhirnya ikut terbawa arus. Alih-alih memberikan kesejukan malah memprovokasi umat dengan memelintir ayat untuk mendiskreditkan lawan politik.

Tak kurang para ulama sepuh yang sebenarnya enggan untuk mengambil peran akhirnya turun gelanggang melihat banyaknya ustaz-ustaz pemilik pesantren al-youtube-iyah yang malah menebar kebencian. Kurang ajarnya, oleh santri mereka ulama sepuh malah dianggap sesat, syiah dan liberal hanya karena berbeda pendapat dengan sang ustaz.

Adalah semakin terlihat bodoh ketika mewacanakan adu tanding baca Alquran antara Jokowi dan Prabowo hanya untuk menunjukkan kepada masyarakat siapa sejatinya yang paling Islam dari mereka berdua. Ya, begitulah yang terjadi ketika agama yang sakral diseret masuk ke dalam wilayah politik praktis.

Jika saja memungkinkan, bisa jadi akan ada yang bertanya kepada Tuhan, siapa sejatinya dari dua orang itu yang kelak akan masuk surga sebagai jaminan untuk dipilih sebagai pemimpin.

Umat sudah melupakan nabi dan rasul yang kelak akan memberikan syafaat. Mereka lebih yakin dengan memilih presiden yang seiman, maka surga akan menjadi jaminan bagi mereka kelak.

Tuhan pasti bersedih melihat kebodohan umatnya sudah separah ini. Kalau saja malaikat adalah seperti kita, mereka pasti sudah mendemo Tuhan. Bukankah para malaikat sudah memperingatkan saat awal Tuhan menciptakan manusia bahwa kita hanyalah makhluk yang akan berbuat kerusakan di muka bumi?

Dan alih-alih berkoalisi dengan Tuhan, perlahan tapi pasti tanpa terasa kita sedang membuktikan ucapan para malaikat. Na'udzubillahi min dzaalik.