Mahasiswa
2 tahun lalu · 897 view · 2 menit baca · Politik 2_5.jpg
Susilo Bambang Yudhoyono

Politik Narsis Politisi Baper

Politik adalah seni. Politik adalah seni merangkaikan berbagai kemungkinan untuk mencapai sebuah cita-cita bersama dalam tata masyarakat. Akhir-akhir ini makna politik yang demikian suci itu dipahami sebagai cara-cara untuk meraih kekuasaan. Hanya kekuasaan semata.

Itu makanya, menjelang pemilihan umum, banyak sekali gerakan-gerakan tambahan para politisi dalam rangka mengambil hati para pemilih untuk memilih mereka. Gerakan tambahan, yang sebenarnya tak diperlukan itu, dapat kita sebut sebagai pencitraan. 

Saya kasih contoh mengenai pencitraan yang kadang-kadang bisa sangat lebay dan menjijikan. Ada calon kepala daerah yang selama hidupnya tak pernah melakukan blusukan tiba-tiba saja turun ke pasar-pasar, ke lorong-lorong, ada yang makan di warteg supaya kelihatan merakyat, dan sebagainya, hanya untuk meraih simpati masyarakat. Mereka pikir masyarakat bodoh sehingga gampang dikibulin dengan cara-cara aneh seperti itu. 

Masyarakat terlalu cerdas dalam melihat mana politisi alamiah, mana politisi jadi-jadian, politisi gadungan yang tiba-tiba muncul atau dimunculkan, tanpa proses yang teruji. Bagaimanapun juga, strategi seperti ini cukup berhasil menarik simpati, apalagi kalau calon pemimpin tersebut berparas ganteng, muda, dan manis senyumnya. 

Playing Victim sebagai Pencitraan

Di Jakarta, sering kita jumpai calon pemimpin yang blusukan ke pasar, lorong-lorong, bahkan ada yang berenang di lautan. Ada juga yang menarik perhatian dan simpati masyarakat untuk memilih calon pemimpin kesayangannya dengan "mengorbankan" dirinya sendiri. Sengaja menempatkan dirinya sebagai korban, seolah-olah korban, untuk menarik rasa iba orang lain kepadanya. 

Harus dibedakannya antara pengorbanan politik dan playing victim dalam politik. Politisi sejati rela berkorban demi kepentingan umum yang dianggapnya jauh lebih berharga dari dirinya sendiri. Soekarno, Hatta, Tan Malaka, I.J. Kasimo, Hasyim Asy'ari, dan lain-lain merupakan contoh para politisi yang mengorbankan diri demi orang lain, demi bangsanya, demi tanah tumpah darahnya yang sangat mereka cintai. 

Di samping itu, ada jenis politisi yang gemar menempatkan dirinya sebagai korban supaya  dicintai. Mereka tak akan mau mengorbankan dirinya, apalagi nyawanya, bagi kepentingan umum. Sebaliknya, mereka mengorbankan orang lain demi eksistensi dirinya, demi karir politiknya, demi sebuah pengakuan. 

Akhir-akhir ini banyak sekali politisi gadungan jenis tersebut yang eksis di medsos. Gemar menulis status yang membuat orang menetes air mata saat membacanya. Tidak sedikit juga yang merasa jijik dan lebay. Kenapa mereka menemukan ruang pengakuan tersebut di media sosial? Ya, karena mereka sudah tidak diakui lagi di dunia nyata, kecuali di hadapan para pendukungnya sendiri ya. 

Mereka melukai dirinya sendiri, menyakiti dirinya sendiri, berteriak kesakitan sehingga teriakannya itu didengar orang dan melahirkan rasa iba mendalam kepada dirinya. Teriakan-teriakan itu diunggah di media sosial, dan jadilah viral. Akhirnya mereka diakui deh di dunia maya.

Sayangnya itu semua semu, maya, tak nyata. Mereka berorgasme dengan rasa sakit yang mereka ciptakan sendiri, seperti onani yang menghasilkan kenikmatan sesaat. Parahnya, itu jadi candu dan sakau kalau tak melakukannya. Ah, lebay...

Intinya gini. Playing victim itu merupakan sebuah strategi yang memposisikan diri sebagai korban atau orang yang terluka bukan karena mereka memang korban, tetapi untuk mengelabui musuh dan lingkungannya. Sun Tzu menulis begini:

"Lukai diri sendiri untuk mendapatkan kepercayaan musuh. Masuk pada jebakan dan jadilah umpan. Berpura-pura terluka akan mengakibatkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, musuh akan bersantai sejenak oleh karena dia tidak melihat anda sebagai sebuah ancaman serius. Kemungkinan kedua, jalan untuk menjilat musuh anda dengan berpura-pura luka oleh sebab musuh merasa aman". 

Hati-hati. Di sekitar kita banyak sekali pemain-pemain yang siap mempermainkan kita dengan cara-cara tersebut. Di saat kita lengah, semua harta benda milik kita, bahkan nyawa kita, dihancurkan sampai tak ada sisanya. 

Bagaimana kita bisa mengenali ciri-ciri politisi yang gemar menyakiti dirinya sendiri? Gampang! Mereka mudah baper. Baper gak karu-karuan. 

Sekian dulu ya tips untuk mengenal politisi baper yang suka melukai diri sendiri dan mengabadikannya di medsos.  

Artikel Terkait