3 bulan lalu · 330 view · 3 menit baca · Politik 79391_75072.jpg

Politik Milenial 2019

Masyarakat mendefinisikan politik hanya sekadar transaksi kepentingan jangka pendek elite dengan elite, bukan tranksaksi jangka panjang demi terselenggaranya keadilan. Menyelenggarakan politik berarti melaksanakan perintah publik, menjalankan mandat konstitusi, bukan alat investasi kekayaan elite.

Kejernihan visi politik dihalangi pragmatisme. Kualitas sumber daya kandidat dibatalkan modal politik. Politik bukan lagi tentang pengabdian, melainkan profesi baru yang diperebutkan. 

Metode canvasing politik door-to-door merupakan lokasi primer money politics, bukan lokasi pertandingan program politik. Kecerdasan konseptual dituntun kebodohan. 

Kita merayakan tahun politik yang penuh kepalsuan. Ruang terbuka demokrasi dipersempit hegemoni politik kekuasaan. Oleh karena itu, warga negara menjadi tereliminasi untuk mengakses ruang politik. 

Jurgen Herbemas, seorang filsuf asal Jerman, membedah dekadensi politik itu melalui teori kritis deliberatif; aktivasi ruang publik.

Bagi Hebermas, ruang publik memiliki fungsi penting dalam berdemokrasi yang, misalnya, warga negara aktif dalam diskurus praktis politik, mengabsolutkan kedaulatan rakyat dari dominasi kekuasaan politik. Formasi kritis aspirasi dan opini publik diamankan rule of law demi ketertiban dan evaluasi kebijakan publik. 

Bila peran tersebut dimaksimalkan, maka ruang publik akan bertransformasi menjadi arena diskursus politis warga negara. Dengan kata lain, demokrasi tumbuh dalam rasionalitas yang ideal.

Berpikir Kritis


Berpikir kritis harus menjadi satu-satunya senjata bertengkar para milenial yang hendak mengaktifkan diri dalam politik. Berpikir kritis mengandaikan para milenial mampu membedakan fakta dan opini, menjadi kerangka analisis untuk menyelesaikan masalah, dan mengolah kesimpulan demi tercapainya pengambilan keputusan.

Karakter berpikir kritis adalah rasional. Artinya, mampu membaca situasi dengan kejernihan nalar. Memikirkan sesuatu yang tidak dipikirkan. 

Media praksis berpikir kritis adalah komunikasi. Bentuk komunikasi bisa secara verbal (tulis) atau non-verbal (bicara) sesuai kebutuhan.

Pertama, metodelogi berpikir kritis pertama-tama diawali upaya untuk mengetahui topik atau konten pembahasan yang hendak diargumentasikan. Setelahnya, kerangka argumentasi harus berbasis pada kekuatan data atau informasi yang teruji validitasnya. 

Argumentasi yang general dan terstruktur berpotensi lebih mudah ditarik menjadi kesimpulan deduktif. Kededuktifan argumen yang dilengkapi objektivitas dan nilai keadilan sangat mungkin menjadi rasional.

Kedua, berpikir kritis diformulasikan melalui serangkaian aktivitas logika. Logika untuk mengenali masalah merupakan metode awal untuk menemukan cara untuk menyelesaikan masalah (problem solving). 

Mulai dari membangun argumentasi yang tepat untuk menerangkan kondisi logis dari keabstrakan masalah, mengkoherensikan asumsi-asumsi argumentatif dan melakukan dialektisasi, mengevaluasi seluruh informasi atau data sekunder maupun primer yang belum tervalidasi, kemudian berakhir pada penarikan kesimpulan.

Ilmu pengetahuan adalah peralatan utama metodologi berpikir kritis. Tanpa konstruksi akar pengetahuan, kebersihan berpikir tidak akan dihasilkan. 

Bila opini berkembang akibat isu, maka penyebab fakta adalah pengetahuan. Fakta bernilai faktual dapat diukur standarnya. Sedangkan isu bernilai non-faktual tidak dapat diukur standarnya.


Ilmu pengetahuan yang disempurnakan oleh perangkat metodologi berpikir kritis membatalkan kekokohan perkembangan isu destruktif. Oleh karenanya, uji kebenaran atau kesalahan sebuah opini hanya mungkin dibedah oleh pisau ilmu pengetahuan. Kritisime ditumbuhkan dari situ, menajamkan analisis untuk terhindar kepalsuan isu.

Mengaktifkan critical thinking adalah aktivasi akal sehat. Apatisme Critical thinking berdampak diakali isu. Keluar dari apatisme berarti masuk dalam pengetahuan. 

Pengetahuan hanya mugkin diaktifkan dengan keaktifan ilmu pengetahuan. Bila apatisme berpikir kritis diaktifkan oleh aktivasi akal sehat, artinya kita menolak menyodorkan diri untuk diakal-akali kepalsuan isu.

Konklusi

Fenomena tahun politik hari ini diwarnai keterlibatan kaum milenial untuk mengambil peranan terlibat dalam konstelasi politik 2019. Menariknya, para milenial datang dari  aktivisme ruang publik: organisasi massa hingga organisasi sukarela, komunitas informal, kelompok pluralitas, serta kolektif-kolektif otonom yang aktif mengorganisasi kerja-kerja untuk mengaktivasi ruang publik.

Mereka yang memiliki jejak historis dengan tradisi pengelolaan ruang publik adalah mereka yang memahami empati terhadap penderitan, pesakitan, kesulitan, hingga kegelisahan yang bersarang di dalam ruang-ruang kemasyarakatan. 

Dengan demikian, kejernihan visi, ide, dan program serta niat autentik kontestan milenial, dituntun dan dirumuskan secara eksistensial sesuai kehendak kebutuhuan masyarakat.

Milenial harus mampu menjadi katalistator untuk merevitalisasi ruang politik menjadi arena deliberatif. Para milenial harus bekerja melalui opini publik dan mandat konstitusi. 

Milenial adalah harapan untuk memperbesar penyempitan ruang demokrasi, agar supaya masyarakat dapat berpartisipasi aktif mengevaluasi dan mengakses kebijakan politik.


Pada dasarnya, milenial dibebani oleh moral publik dan tanggung jawab politik untuk mendefinisikan ulang makna primer dari politik, yaitu upaya mendistribusikan keadilan. 

Pada intinya, milenial diminta menjadi role model dalam konstelasi politik hari ini: program kerja yang koheren, bukan money politics. Akhirnya, para milenial dituntun oleh cara berpikir yang kritis.

Artikel Terkait