Politik sudah tak pandang tempat lagi untuk menyuarakan kampanye. Di rumah-rumah Tuhan, di panggung teater, dalam bait-bait puisi, hingga disablon di punggung kaos. Media sosial apalagi, sudah seperti kurusetra yang penuh darah dan burung bangkai siap melahap korban-korbannya.

Media sosial kini didominasi oleh orang-orang yang sudah berumur, katakanlah anak-anak remaja puber sudah tidak lagi memposting foto-foto alay mereka di profilnya. Kini berganti, giliran orang-orang yang sudah beranak dua sampai beranak delapan yang menggunakan media sosial sebagai taman bermain.

Namun, sayang sekali mengingat jika media sosial kini bukan lagi taman bermain. Ketika beralih tangan pada orang tua yang masih memiliki pemikiran gaya lama dan menganut prinsip ‘Kebenaran pasti absolut dan keyakinan di atas segalanya’, maka beralih pula fungsi media sosial menjadi lahan untuk berperang dan menumpahkan darah.

Karena keyakinan di atas segalanya itu pula, banyak orang yang meninggalkan akal sehatnya dan hanya berbekal yakin plus nekat dalam menghadapi arus globalisasi. Tentu saja, arus globalisasi ini tidak bisa dengan mudahnya dihadapi dengan pikiran tertutup dan meninggikan kebenaran.

Kita perlu untuk tetap ragu untuk mencapai keyakinan. Dalam buku-buku filsafat bahkan diceritakan jika filsuf Prancis, Rene Descartes selalu memetakan bahwa keyakinan awalnya berasal dari keraguan, bukannya keyakinan didahulukan sehingga menjadikan pemikiran seseorang terpatok pada suatu titik saja.

Kita tidak hidup di abad pertengahan, di mana setiap orang berharap jadi martir dengan membela kebenaran versi kepalanya masing-masing. Kita bukan Socrates yang berani mati menjadi martir menenggak racun demi menegakkan kebenaran dan kebijaksanaan.

Para filsuf dan orang-orang suci boleh saja berani mati demi keyakinannya. Tapi sekarang ini sulit untuk menemukan relevansi antara kegiatan update status di media sosial seseorang dengan kebijaksanaan atau kesucian. Kadar keimanan tentu tidak diukur dari seberapa banyak musik rohani di telepon genggamnya, begitu juga seseorang tidak bisa disebut bijaksana kalau hanya dilihat dari seberapa banyak kutipan bijak yang dibagikan di akun media sosialnya.

Jika orang-orang barbar yang hobi debat kusir dan saling rusak pemandangan media sosial kita ini dengan mudah disebut filsuf atau seorang yang suci, tampaknya pola pikir kita memang perlu kembali dikaji ulang. Orang-orang mudah sekali mendapat gelar kehormatan dari kegiatannya mengintervensi kegiatan-kegiatan yang diluar pandangan matanya.

Orang-orang seperti itulah yang mengubah media sosial riang gembira yang dulu kita kenal sebagai tempat curhat dan galau-galauan menjadi panggung politik penuh perdebatan dan adu mulut sampai berbusa-busa. Tipe orang-orang yang sekali membagikan foto penyakit langsung mendapat tiket surga, atau orang-orang yang berkomentar amin dalam postingan mistik dan auto-makrifat ini yang mengacaukan kehidupan kita.

Dibanding membaca buku dan jurnal-jurnal ilmiah, orang tentu saja lebih percaya pada status yang berakhiran ‘impo palid’ disertai tagar berisi dukungan terhadap partai-partai tertentu. Inilah sikap yang perlu diubah. Orang terlalu malas untuk meragukan semuanya, tapi begitu gencar menyuarakan apa yang ia yakini sebagai benar dan menginjak-injak yang ia sebut salah.

Oleh karena hal itu, anak-anak remaja menjadi lebih suka memainkan gim online di perangkatnya dibanding curhat di media sosial. Remaja telah kehilangan panggung di media sosial, terkubur oleh bangkai-bangkai suara kampanye yang mati tertimbun argumennya sendiri. Anak-anak remaja tentu lebih paham bahwa di sekolah berpikir kritis dan logis adalah kunci menuju penyelesaian dan jawaban akhir.

Dalam pelajaran matematika di SLTA diajarkan bagaimana cara menguji kebenaran dengan berbagai tabel rumit. Orang-orang yang sudah terlalu malas untuk memiliki kemauan menghitung mana yang benar dan mana yang salah tentu enggan untuk mengecek apakah variabel-variabel yang terkandung dalam informasi itu logis atau hanya mengada-ada.

Kesimpulannya kembali lagi pada diri kita masing-masing, apakah umur menjadi pembatas untuk berpikir kritis atau tidak?

Remaja meninggalkan media sosial yang penuh huru-hara, tersisa dua golongan manusia dewasa saja di dalamnya. Ada yang dewasa secara fisik namun secara pemikiran masih belum bisa menerima perbedaan, ada juga yang sudah dewasa secara fisik dan matang secara pemikiran.

Di media  sosial, kedewasaan tidak dihitung seberapa banyak Anda membagikan status politik, berkutat soal agama dan berdebat dengan orang lain, atau seberapa sering anda saling sindir-menyindir dengan orang lain. Di sini kata-kata Socrates itu ada benarnya, jika ‘ipse se nihil scire id unum sciat’ atau aku hanya tahu satu hal, yakni tak tahu apa-apa.

Semakin Anda yakin, semakin Anda merasa diliputi oleh kebenaran dan diberkahi dari berbagai ujung langit, semakin jauh pula Anda dari kata bijaksana. Apalagi, memaksakan kebenaran dan keyakinan dalam setiap segi kehidupan: sosial, politik, budaya.

Jika keadaan ini sampai berlarut-larut, ada baiknya yang merasa waras untuk menyingkir barang beberapa saat. Biarkan orang-orang kerasukan politik dan kebenaran itu saling tikam di media sosial, jangan sampai orang-orang waras ikut-ikutan tertular penyakitnya.

Apa yang dikatakan dokter memang benar adanya: “Istirahat ya, biar sembuh.”