1 week ago · 238 view · 3 menit baca · Politik 62426_47988.jpg
iGlobalNews

Politik Kebinatangan dan Adab Kewargaan

Tahun politik yang akan kita lalui bukan hanya berisi pertempuran antara Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno. Lebih dari itu, secara tak sadar, kita sudah jauh lebih masuk dalam narasi-narasi konflik yang membelah rasa bersatu kita sebagai warga negara. 

Pendukung Jokowi adalah si Cebong dan pendukung Prabowo adalah si Kampret. Dua kosakata yang bukan saja bermasalah—semakin menyeret kita dalam budaya politik saling teror antarwarga negara. Pemilihan pemimpin bangsa yang seharusnya dapat berjalan lebih beradab, malah semakin menurunkan cara kita berbangsa—dan tanpa sadar kita merayakan menjadi bahasa politik keseharian kita.

Pikiran dan akal sehat politik yang berkembang hari ini semakin menunjukkan bahwa politik kewargaan kita masih berada pada level insting memproduksi gagasan yang sama sekali tak menyentuh makna membangun percakapan bangsa yang baik. Demokrasi yang seharusnya membangun narasi kehidupan bangsa yang beradab, kini jauh dari bandul arah kualitas kehidupan bangsa kita. 

Penting untuk kita mengingat etos gotong royong diusulkan oleh Mohammad Hatta—atau memperkuat percakapan politik yang sehat, meniru gagasan deliberatif Habermas. Artinya, kehidupan politik dapat baik ketika ada semacam aktivasi etos moral komunikasi dan mobilisasi modal sosial warga negara yang sama-sama memegang peranan untuk menyehatkan cara kita berpartisipasi dalam kanal politik.

Demokrasi digital yang saat ini menjadi ruang politik baru, bahkan telah memiliki kecenderungan bagian dari pusat penyebaran berita bohong dan sentimen SARA yang begitu kencang, menjadikan kehidupan digital sebagai ruang ancaman baru—tempat di mana mobilisasi kesadaran baru masyarakat dapat terbentuk. 

Kita ambil saja contoh bagaimana bisa wacana bangkitnya PKI dan sentimen anti Cina yang dapat meluas dan menjadi bagian dari percakapan politik di media sosial, telah menunjukkan bahwa aktifnya sebuah kesadaran dan insting membabi buta untuk tidak dapat berpikir dengan menggunakan akal sehat yang baik. Secara tak sadar, hal ini memunculkan suatu mobilisasi kesadaran warga negara bahwa, hari ini, apa saja isu yang membangun sentimen identitas yang kuat, akan menjadi penanda baru partisipasi politik kita.

Adab Politik Kewargaan

Pikiran publik belum usai setelah drama playing victim Ratna Sarumpaet—peristiwa tersebut bukan hanya mempertontonkan akrobat politik palsu; lebih dari itu, kejadian itu telah menyeret banyak aktor politik masuk dalam ruang publik grasa-grusu yang kita tahu bahwa semua itu merupakan bagian untuk meningkatkan emosi massa menjelang Pilpres.

Menghentikan gaya politik binatang hari ini mungkin sangat sulit. Karena jika kita lihat bagaimana kesadaran politik ini bekerja, kita pasti paham bahwa telah ada tsunami kesadaran yang melululantakkan akal sehat politik kita. Produksi gagasan yang seharusnya bisa datang dari pendukung kedua Capres harus ditunjukkan dengan cara-cara yang sama sekali jauh dari adab politik kewargaan. 

Seperti apa yang dikatakan oleh Yudi Latif, fenomena dan kecenderungan likuefaksi merupakan ancaman terbesar bangsa Indonesia. Likuefaksi yang dimaksud oleh Yudi Latif adalah ancaman gempa sosial yang terjadi dan memiliki daya rusak yang buruk untuk tatanan masyarakat.        

Apa yang terjadi saat ini dapat dikategorikan sebagai potensi gempa politik –yang menyimpan banyak kecenderungan guncangan yang rentan membelah masyarakat. Panasnya kesadaran emosi massa yang dirawat dengan narasi “cebong vs kampret” memiliki daya jangkau kesadaran yang tidak hanya berbahaya bagi model partisipasi politik—terlebih lagi sangat bahaya bagi kualitas perbincangan politik kita. 

Dua kosakata kebinatangan yang lumrah ini pun akan sulit mengobati bagaimana luka sosial dan politik seperti Pilkada DKI dapat bertahan lama dalam tatanan sosial masyarakat.

Kita tentu tidak boleh memiliki toleransi atas permasalahan cara kita memperbincangankan politik hari ini. Lebih dari itu, gagasan untuk mengaktifkan kembali gagasan politik sehat merupakan cara untuk membawa kembali gagasan politik kebangsaan dalam perbincangan politik kita. Jika elite politik hari ini hanya sibuk berakrobat politik, maka kita sebagai warganegara wajib memberikan kritik keras kepada elite politik yang lebih merelakan rusaknya kohesi sosial daripada persatuan antar-rakyat. 

Bagaimanapun, pembelahan politik yang tidak sehat hari ini harus segera dihentikan. Yang dimaksud Aristoteles tentang zoon politicon memang binatang politik [dalam arti positif]—namun jika kesadaran politik hari ini membuat perilaku kita seperti binatang, maka sudah saatnya kita memikir ulang cara-cara yang kita pakai untuk berpartisipasi dalam dinamika politik hari ini.