Mahasiswa
2 tahun lalu · 293 view · 4 menit baca · Politik karikatur-281011-pemuda-kapan-estafet_0.jpg
griyapenakoe.wordpress.com

Politik Kaum Muda dan Pergeseran Zaman

Dapatlah dikatakan politik kaum muda belakangan ini mengalami involusi. Mengalami perumitan bentuk dan perumitan gaya aksi, tetapi tanpa disertai efek politik yang memadai. Telah mematikan gerakan kaum muda sebagai kekuatan politik? Oleh karen itu, kaum muda harus mengambil peran baru? Dalam kondisi sosial politik yang telah berubah seperti era Orde Baru dekade delapan puluhan. Peran dan posisi politik bagaimanakah yang semestinya diambil aktivis kaum muda?

pertanyaan diatas sangat relevan diajukan ditengah kondisi politik kaum muda saat ini yang dapat dikatakan disorientasi. Meletakkan poltik kaum muda sepanjang sejarah Indonesia  modern dalam sebuah tali panjang, pelemahan posisi politik kaum muda sangatlah terasa.

Dalam dekade dua puluhan, kaum muda menjadi kekuatan utama politik pribumi kolonialisme, saat ini mereka adalah generasi. Pertama kaum terpelajar. Berbeda dengan generasi yang datang dari kalangan tradisional mereka menguasai organisasi dan  idologi modern.

Mereka pun menjelma menjadi pusat kekuatan yang melakukan radikalisasi dan politisasi kesadaran masyarakat. Munculnya organisasi. Seperti perhimpunan Indonesia yang dipimpin oleh kaum muda  terpelajar, hanyalah serpihan contoh pernyataan diatas.

Dalam dekade empat puluhan, posisi politik kaum muda mulai bergeser. Mereka tidak lagi menjadi kekuatan utama, tetapi kehadiran merea hanya punya nilai politik jika mereka menyatukan diri dan menyokong elit politik saat itu seperti Bung Karno dan Bung Hatta. Peran politik mereka yang terbesar adalah menculik Bung Karno dan bung Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di tahun 1945.

dalam dekade enam puluhanm, kaum muda mengambil peran sebagai pendukung kekuatan politik primer. Terhadap Bung Karno yang tidak ingin kompromi membubarkan Partai Komunis Indonesia dengan mendukung Angkatan Darat, kaum muda terlibat dalam political strunggle membangun sebuah orde kekuasaan yang baru: orde baru.

Dalam dekade tujuh puluhan, posisi politik kaum muda kembali bergeser. Mereka tidak lagi menguasai pendukung kekuatan poltik primer. Seperti Angkatan Darat. Dalam peristiwa Malari 1974 ataupun demonstrasi 1977/1978, kaum muda dianggap bekerja sama dengan kekuatan politik sekunder. Kelompok politisi oposisi yang berakhir dengan penangkapan berbagai aktivis.

Dalam dekade delapan puluhan, posisi politik kaum muda bergeser kembali. Dalam demonstrasi dengan isu lokal, mereka praktis bergerak sendiri, tidak mendukung kekuatan poltik primer maupun sekunder. Seandainya kekuatan diluar mereka terlibat, hanyalah bersifat perorangan seperti rohaniawan, intelektual maupun aktivis bantuan hukum.

Dari kenyataan diatas, setidaknya kita dapat menarik dua kesimpulan. Pertama, adalah melemahnya posisi politik kaum, dari posisi kekuatan utama seperti tahun dua puluhan menjadi posisi pendukung seperti dalam dekade sesudahnya.

Hal ini tercermin pula dari parner politik mereka, dari mendukung kekuatan politik primer menjadi bekerja sama dengan kekuatan perseorangan.

Kedua, yang lebih penting lagi terjadi pula pelemahan efek politik. Di tahun dua puluhan, empat puluhan dan enam puluhan, aktivis kaum muda mampu menjadi katalisator perubahan sosial.

Di tahun dua puluhan yang berpuncak ditahun empat puluhan, mereka berperan membuat negara Indonesia yang terjajah menjadi negara merdeka lengkap dengan seluruh konsekuensi operasionalnya. Di tahun enam puluhan, mereka yang membuat negara Indonesia yang cenderung bergerak kekiri, menjadi kekanan dengan strategi pertumbuhan yang bersifat kapitalistik.

Namun di tahun tujuh puluhan, efek politik kaum muda melemah. Mereka tidak lagi menjadi fungsi bagi perubahan sosial politik. Gerakan mereka dalam  periode ini tidak menyebabakan pergeseran dalam paradigma pembangunan nasional.

Di tahun delapan puluhan, efek politik kaum muda bertumbuh melemah. Mereka bukan saja tidak menjadi agen perubahan sosial, bahkan tidak mampu pula menciptakan dinamika politik nasional. Apa yang menjadi efek gerakan mereka hanyalah gangguan ketertiban umum.

Kondisi sosial politik terus bergeser. Itu berarti ada kebutuhan bagi gerakan mahasiswa untuk merumuskan kembali orientasi dan format gerakan politik mereka, agar lebih sesuai denga semangat dan memeberi fungsi bagi masyarakat secara keseluruhan.

Bergesernya posis politik dan melemahnya efek aktivitas politik kaum muda bukanlah disebabkan oleh melemahnya kesadarn kritis dan subyektivitas politik kaum muda itu sendiri. Boleh jadi aktivis kaum muda saat ini lebih kritis dari aktivis kaum muda dekade sebelumnya.

pelemahan efek politi kaum muda, niscaya diakibatkan oleh sesuatu yang berad diluar mereka, yaitu perkembangan sosial politik. Sistem sosial saat ini semakin tidak toleran dengan aktivitas politik yang bersifat massa dengan format demonstrasi. Padahal format politik seperti itulah yang selama ini menjadi kekuatan politik kaum muda.

Mengamati perkembangan sosial yang terjadi kita dapat mencatat dua fenomena penting guna merumuskan kembali posisi dan peran politik kaum muda.

Fenomena pertama, telah di subordinasikannya sub sistem politik kedalam sebuah sistem demokrasi. Dalam dua periode sebelumnya, yaitu era Demokrasi Parlementer (1945-1959) dan Demokrasi Terpimpin (1959-1966), suhu politik sangat tinggi dan bersifat desktruktif.

Dalam era demokrasi parlementer misalnya seperti yang dicatat Charles Lewis Taylor dan M. Hudson, dari 25 kabinet yang memerintah selama Indonesia merdeka, hanya tujuh kabinet yang berhasil bertahan selama 12-13 bulan. Sementara itu, umur 12 kabinet lainnya hanya mampu bertahan antara 6-11 bulan. Dan 6 kabinet lainnya 1-4 bulan (Peristiwa Desember 1981). Akibatnya kontinuitas program pembangunan terganggu.

Begitu pula dalam era Demokrasi Terpimpin. Berdasarkan catatan sejarah dapat kita ketahui, pengeluaran negara dari tahun 1960-1965 naik 40 kali lipat, sedangkan pendapatan negara hanya naik 17 kali lipat, yang mengakibatkan anggaran belanja pada tahun 1965 mengalami defisit sebesar 60 % dari seluruh pengeluaran. Pada tahun 1960 pendapatan negara hanya 13.8 % dari GNP dan pada tahun 1965 hanya 1,5 % dari GNP. Tingginya suhu politik saat itu telah merusak kehidupan ekonomi.

Maka sejak awal kelahirannya, orde Baru mulai menurunkan suhu politik, membatasi partisipasi poltik masyarakat dan meniadakan konflik idologis melalui asas tunggal. Sistem politik dijadikan semata teknik admiistrasi dan teknik manajemen dalam rangka prestasi ekonomi. Berbagai kelompok politik masyarakat pun melemah.

Fenomena kedua, matinya kelompok politik masyarakat jatuh sebangun dengan dibangkitkannya kelompok bisnis dan kelompok profesi. Kelompok bisnis berdasarkan pada modal dan manajemen, sedangkan kelompok profesi berdasarkan kepada basis akademis.

Inilah era yang merangsang bergesernya kekuatan masyarakat dari kekuatan politik praktis menjadi kekuatan bisnis dan kekuatan profesi. Adakah kaum muda menganggap penting pergeseran ini?

Jika kaum muda ingin terlibat secara berarti dalam dekade sekarang ini, ia harus menyesuaikan diri dengan pergeseran zaman. Zaman ini sangat menuntut kemamapuan profesional dibidang apapun. Lapangan bisnis politik praktis, bantuan hukum ataupun hak asasi, hanya memberi fungsi jika diperankan secara profesional yang berlandaskan pada kemampuan akademis.

Adakah pergeseran zaman tersebut diperhitungkan oleh aktivis muda saat ini?

#LombaEsaiPolitik.

Artikel Terkait