Berawal dari sebuah kegelisahan dan studi realita lapangan, suatu ketika dalam kesempatan sambutan wisuda sebuah perguruan tinggi swasta di Timur tengah, rektor kami menyampaikan sebuah pendapat yang membuat pribadi saya begitu tercengang.

Dalam mimbar dan panggung-nya, beliau berkata “jika kalian memutuskan terjun ke dunia politik, lepaslah imamah (sorban) kalian. Amanatul ilmi syei’, wassiyasah syei’ul akhor.” (amanat ilmu adalah sesuatu dan politik adalah sesuatu yang lain).

Senada dengan pendapat beliau, jauh sebelumnya beberapa orang yang begitu mencintai saya menyatakan hal yang sama. Dengan latar belakang keluarga yang kental beragama, tak sedikit yang mewanti-wanti saya untuk menghindari persinggungan dunia politik.

Kekhawatiran dan sikap overprotektif semacam ini tidak dirasa satu-dua orang seperti saya saja. Akan tetapi sudah menjadi umum bahkan bukan hal yang tabu lagi bagi masyarakat. Ini bisa dibuktikan secara nyata dengan melihat hasil survei yang diadakan oleh pihak yang berwenang.

Menurunnya tingkat partisipasi masyarakat, hilangnya kepercayaan terhadap partai, hingga pendapat-pendapat radikal yang memperalat agama untuk melegimitasikan penolakan partisipasi aktif terhadap politik semacam pemilu sudah menjadi sarapan berita kita sehari-hari.

Hal ini tentunya tidak terjadi tanpa sebab musabab. Pengalaman sebagai guru terbaik bagi manusia sudah mengajarkan. Bukan sekali-duakali, bahkan sampai berkali-kali kejadian tak menyenangkan sudah ditampilkan panggung politik.

Memang, menurut teori klasik Aristoteles politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersamai. Namun, yang sudah menjadi maklum dan mafum, politik selalu (meskipun bukan sebuah keharusan) diidentikan dengan kekuasaan.

Kembali menyinggung paragraf sebelumnya, jagat politik ataupun kekuasaan memang sudah memberikan pandangan dan stigma miring bagi masyarakat dunia. Beberapa tahun yang lalu saya pribadi begitu merasakan bau anyir dunia politik ketika salah seorang tokoh yang sebelumnya begitu sentimen dan tidak menyukai tokoh lain, tiba-tiba berbalik mendukung lawan politiknya ini.

Jauh sebelumnya, politik dan kekuasaan telah sukses memperalat dua agama besar di dunia. Kedua agama ini saling sikut memperebutkan kekuasaan atas tanah suci Yerussalem selama berabad-abad lamanya. Tidak cukup sampai di situ, politik dan kekuasaan juga telah menyebabkan Karbala becek oleh darah keturunan Muhammad.

Namun, ketiga fakta tersebut beserta fakta-fakta lainnya yang membuat lembar sejarah kita hitam legam oleh politik tidak semestinya dijadikan tolak ukur begitu saja. Sesuai namanya, politik adalah sebuah pandangan praktis bernegara.

Negara seperti yang sudah digambarkan, merupakan wadah banyak orang dengan latar belakang, tujuan, dan cita-cita yang sama. Negara menjadi satu kesatuan utuh yang dewasa ini kebutuhan terhadapnya begitu primer dalam memenuhi hajat hidup manusia.

Pendidikan, perlindungan, dan kesejahteraan merupakan beberapa alasan nyata pentingnya bernegara. Maka tidak bisa dielak lagi, keberadaan negara menjadi sebuah kewajiban yang tidak perlu diragukan.

Dalam ranah khazanah islam, kita akan mengenal kaidah-kaidah dasar ushul fikih. Kaidah ini bersifat umum dan dapat dikembangkan untuk memecahkan berbagai problema yang ada. Salah satu kaidah yang dirasa cocok dalam permasalahan ini adalah kaidah yang berbunyi “suatu perkara yang tanpanya sesuatu yang wajib itu tidak tercapai, maka perkara itu juga dihukumi wajib.”

Gambaran sederhananya, keberadaan sebuah negara adalah suatu keniscayaan yang bisa pula dihukumi sebagai sebuah kewajiban menimbang urgensi yang ada. Namun, keberadaan negara tidak akan sempurna tanpa politik dan sekelompok orang yang menguasai dan mengatur hajat orang banyak.

Pun demikian, dengan sistem politik yang demokratis dan mengedepankan musyarawah seperti yang islam tekankan, ia tidak akan sempurna tanpa adanya partai politik. Dan partai politik sendiri tidak akan sempurna tanpa adanya partisipasi masyarakat. Sehingga dapat dipahami, bahwa partisipasi masyarakat adalah sebuah keharusan demi terciptanya keberlangsungan bernegara.

Partisipasi politik sangatlah penting dirasa. Minimal partisipasi itu masih sekedar andil dalam kegiatan pemilihan umum,-daripada tidak sama sekali-. Dengan berpartisipasi, kita sudah turut andil membangun negara.

Bayangkan saja, jika semua orang baik memilih apatis terhadap dunia politik, maka negara ini akan semaki bobrok dikuasai orang-orang yang dari awal niatnya sudah buruk. Lebih jauh lagi, toh dengan sistem demokrasi yang dari, oleh dan untuk kita sendiri, kenapa berpikir dua kali untuk berandil demi kebaikan bersama?