“Setan-setan politik kan datang mencekik
Walau dimasa pacekik tetap mencekik
Apakah selamanya politik itu kejam?
Apakah selamanya dia datang
'Tuk menghantam?”

 Bagaimana dengan sebait tulisan diatas? Sebait syair lagu tersebut dikutip dari salah satu lagu Iwan Fals berjudul "Sumbang" yang albumnya beredar pada tahun 1983. Berbicara soal bagaimana politik, sama seperti judul lagu diatas yaitu terdengar “sumbang”. Apalagi bagi kami kaum muda yang belum paham betul apa itu politik, jelas terdengar sumbang bagi kami, apakah politik itu baik atau tidak.

Sebelum membahasnya lebih jauh, alangkah baiknya jika adanya penjabaran terlebih dahulu apa itu politik. Dengan menjabarkannya pembaca dapat lebih memahami apa sebenarnya yang akan penulis bahas dalam karangan ini.

Banyak sekali yang dapat diartikan dari kata politik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang negara kita miliki, namun dalam bab ini penulis hanya akan mengambil salah satunya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, politik merupakan segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain: politik dalam dan luar negeri; kedua negara itu bekerja sama dalam bidang politik , ekonomi, dan kebudayaan; partai politik; organisasi politik.

Sama halnya dengan anak muda yang terus tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, begitu juga politik yang terus berkembang sehingga menjadi lebih baik atau bahkan lebih buruk. Perkembangan politik pastinya terjadi di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Seiring berjalannya waktu tentu sebagian dari kita merasakan bagaimana politik di Indonesia ini terus berkembang, mengapa hanya sebagian?

Seperti yang kita ketahui dari sekian banyak rakyat Indonesia tidak semuanya mengerti, tidak peduli atau bersikap apatis terhadap segala urusan yang berbau politik.

Selama ini sebagian orang bahkan termasuk anak muda yang ada di Indonesia memandang politik merupakan sesuatu yang hanya dibutuhkan bagi mereka yang haus akan jabatan dan kekuasaan, dan politik adalah hal yang lazim terjadi di pemerintahan.

Dari pemikiran itulah muncul ketidakingintahuan mereka terhadap politik dan tidak ingin ikut campur dalam masalah politik yang tentu saja bukan urusan mereka.

Bagaimana dengan sebagian orang lainnya yang aktif dalam perpolitikan? Tentu tidak dipungkiri banyak juga remaja Indonesia yang berpikir bahwa politik tidak hanya terjadi di pemerintahan dan juga bukan hanya ambisi para pejabat demi kekuasaan.

Hal itu dapat kita lihat di kehidupan sehari-hari seperti menonton TV yang menayangkan acara berita politik, dengan begitu berarti mereka memiliki keingintahuan pada politik walaupun itu hanya sebuah rasa ingin tahu bukan sebuah partisipasi nyata.

Namun partisipasi nyata itu dapat kita lihat dari remaja-remaja atau anak muda yang aktif berorganisasi, dimana orang-orang yang menjadi anggota organisasi dan berpartisipasi aktif di dalamnya jauh lebih besar kemungkinannya untuk berpartisipasi dalam politik.

Seperti telah dituliskan dalam sebuah buku tentang politik yaitu di Mexico City umpamanya kaum migran dari pedesaan yang berpartisipasi dalam organisasi-organisasi perbaikan komunitas, lima kali lebih besar kemungkinannya untuk melibatkan diri dalam kegiatan mengajukan tuntutan(politik) dibandingkan dengan yang tidak berpartisipasi.[1]

Terlalu sempit memang jika kita hanya memandang politik dari sudut pemerintahan dan kekuasaan saja.Tapi kita tidak menyalahkan sebagian orang yang bersikap apatis karena itu adalah hak masing-masing individu dan itu adalah pilihan mereka untuk tidak ikut campur.

Namun pada sejatinya secara tidak langsung mereka telah berpartisipasi dalam beberapa kegiatan politik yang ada di Indonesia seperti salah satunya ikut serta dalam pemilihan umum dimana pemilihan umum tersebut melibatkan banyak partai politik.

Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda termasuk pandangan mereka terhadap politik. Untuk sebagian anak muda yang berpartisipasi aktif dalam politik tentu mereka adalah orang yang memandang politik secara luas dan menjadikannya bagian dari urusan mereka.

Namun untuk sebagian anak muda yang apatis terhadap politik bukan berarti mereka hanya memandang politik sebelah mata melainkan mereka hanya memandang politik sebatas yang mereka tahu saja, tidak berusaha untuk mencoba memandang lebih jauh sehingga pengetahuan mereka tentang politik menjadi luas dan semakin lama akan semakin tertarik untuk berpartsipasi dalam politik.

Lantas apakah politik seburuk itu dipandangan mereka sehingga tidak ingin terlibat lebih jauh lagi?

Politik, saat mendengar satu kata tersebut beberapa bayangan yang muncul yaitu tentang partai politik, sistem pemerintahan, pejabat pemerintahan, serta segala kecurangan yang ada didalamnya seperti penyuapan, penggelapan dana, bahkan istilah kawan menjadi lawanpun seringkali dihubung-hubungkan dengan politik.

Tentu saja istilah tersebut  berada pada tempat yang tepat dimana dalam politik  mengubah seorang teman menjadi musuh untuk saling menjatuhkan masing-masing guna mencapai tujuan mereka adalah memang mungkin terjadi.

Contoh kehidupan politik dapat kita lihat dalam cerita-cerita yang ada di sinetron Indonesia yang sering ditayangkan sampai beratus-ratus episode atau cerita dramatis dalam drama korea yang sedang tren di kalangan anak muda Indonesia.

Berhubungan dengan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa salah satu penyebab pandangan buruk anak muda terhadap politik adalah karena tayangan yang mereka tonton baik itu dalam sinetron maupun drama korea dimana keduanya lebih sering menyuguhkan cerita-cerita yang menunjukkan seolah-olah dunia politik itu adalah kejam seperti cerita tentang terjadinya pembunuhan hanya karena memperebutkan kekuasaan dalam suatu bisnis atau perusahaan misalnya.

Kemudian tentang politik yang lebih dramatis seperti adanya sebuah keluarga yang entah bagaimana bisa terpisahkan oleh negara karena sesuatu masalah yang terjadi antara politik kedua negara tersebut, ya tentu saja itu hanyalah sebuah drama yang sengaja dibuat sedramatis mungkin untuk menarik pemirsanya.

Namun, dari karangan fiktif  itulah dimana politik yang ditayangkan berbau negatif sehingga yang menontonpun ikut terbawa berfikiran negatif tentang politik. Lalu apakah benar politik seburuk karangan fiktif  tersebut?

Ada sebuah puisi yang sangat menyentuh hati ketika pertama kali membacanya, puisi ini adalah tentang sindiran politik yang setiap baitnya menganalogikan hal-hal yang berlawanan antara orang yang berkuasa dengan orang yang biasa. Puisi ini adalah puisi yang dibacakan oleh Rendra di hadapan DPR-MPR, 13 Mei 1998:

Karena kami makan akar
dan terigu menumpuk di gudangmu…….
Karena kami hidup berhimpit-himpitan
dan ruangmu berlebihan…….
maka kita bukan sekutu
Karena kami kucel
dan kamu gemerlapan…….
Karena kami sumpek
dan kamu mengunci pintu…….
maka kami mencurigaimu
Karena kami terlantar di jalan
dan kamu memiliki semua keteduhan…….
Karena kami kebanjiran
dankamu pesta di kapal pesiar…….
maka kami tidak menyukaimu
Karena kami dibungkam
dan kamu nrocos  bicara…….
Karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan…….
maka kami bilang TIDAK kepadamu
Karena kami tidak boleh memilih
dan kamu bebas berencana…….
Karena kami cuma bersandal
dan kamu bebas memakai senapan
maka TIDAK dan TIDAK kepadamu
Karena kami arus kali
dan kamu batu tanpa hati
maka air akan mengkikis batu[2]

Memang benar politik dapat menjadi seburuk itu karena manusia yang ada didalamnya, karena mereka haus akan kekuasaan, karena mereka telah dibutakan oleh dunia yang fana sehingga begitu banyak ketidakadilan dalam dunia politik, adil dalam dunia politik belum tentu adil dalam dunia nyata.

Seperti dalam puisi tersebut seolah-olah sedang menceritakan kehidupan antara dunia politik dan dunia nyata yang berbanding terbalik, mungkin menurut dunia politik melakukan apapun yang mereka inginkan dengan menggunakan kekuasaan yang mereka agungkan adalah perbuatan yang adil namun itu tidak adil dalam dunia nyata karena dengan mereka melakukan hal tersebut itu berarti tidak menutup kemungkinan akan adanya penindasan bagi rakyat biasa.

Berdasarkan pernyataan diatas politik  memang terlihat  buruk tapi kita harus ingat apa yang menyebabkan politik menjadi buruk, arogansi manusia lah yang menyebabkan politik seperti itu. Coba kita pikirkan jika sifat arogan manusia yang menyebabkan politik menjadi buruk, lalu bisakah politik menjadi bersih jika sifat arogan manusia dihilangkan?

Tentu saja jawabannya adalah bisa karena politik tidak selamanya buruk dan tidak semuanya buruk. Sekarang mari kita melihat sisi baik dari politik, bagaimana kita bisa hidup dengan tentram dan damai di negeri ini dan hidup berdampingan dengan negara tetangga?

Tentu saja karena kita telah melakukan suatu negosiasi dengan negara-negara tersebut atau biasa kita sebut dengan diplomasi, seperti yang kita ketahui bahwa diplomasi memliki arti keseluruhan kegiatan untuk melaksanakan politik luar negeri suatu negara dalam hubungannya dengan negara lain.

Ya disitulah salah satu letak kebaikan politik, karena sebenernya saat kita bernegosiasi tentang suatu hal yang baik itu artinya kita telah berpolitik dalam hal kebaikan. #LombaEsaiPolitik


 

Catatan:

[1]Samuel P.Huntington,Joan M.Nelson, Partisipasi Politik di Negara Berkembang, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), h.116.

[2] Deliar Noer, Kekerasan dalam Politik yang Over Akting, (Yogyakarta: LKBH Universitas Islam Indonesia, 1998)